Home | Berita Opini | Peta Wisata | Wisata Alam | Seni Pertunjukan | Wisata Belanja | Wisata Bahari | Wisata Budaya | Wisata Boga | Wisata Museum | Wisata Religi | Wisata Sejarah | Cerpen
Share/Save/Bookmark

Sungai Cahaya

Cerpen Nigar Pandrianto
Dimuat di Seputar Indonesia

Jika malam jatuh, aliran air sungai yang bergerak perlahan itu menjelma menjadi sebuah sungai cahaya. Ribuan cahaya akan terpantul dari situ, dari lampu-lampu gedung, lampu jalanan, lampu kendaraan, ataupun lampu gerbong kereta listrik yang melesat di sepanjang sisi sungai.

Pernah suatu kali aku berdiri di tepi sungai itu dan memperhatikan pantulan cahaya yang berada di atasnya. Aku seperti melihat sebuah dunia yang tersembunyi di bawah permukaan sana, tanpa hingar-bingar, hanya sunyi yang diselingi suara air yang menepuknepuk tepi sungai. Cahaya itu seperti berpendarpendar.


Kadang-kadang terlihat seperti bergetar, lalu terkoyak dan menghilang beberapa saat. Jika gelombang membesar, cahaya itu seperti terbelah dan pecah, kemudian perlahan membentuk kembali menjadi pantulan cahaya yang lebih utuh. Suatu kali aku mencoba mengabadikan sungai cahaya dengan sebuah kamera digital. Sayang, hasilnya selalu tidak memuaskan.

Digitasi yang canggih ternyata tidak pernah bisa mengubah secara penuh realitas ke dalam versi miniaturnya. Mungkin ini adalah bentuk riil dari matinya realitas dalam dunia digital. "Ah, kamu selalu berlebihan. Itu hanya bayangan di dalam air, " kata Jane sambil tertawa ketika kuceritakan perihal sungai cahaya lewat telepon. "Tetapi sungai cahaya itu tampak sangat indah. Cahaya-cahaya itu tampak cantik ketika jatuh di atas permukaan air. "

"Ha. . . ha, sesuatu yang tampak indah dan mengesankan kadangkadang tidak begitu adanya. Kamu harus bisa melihat sesuatu di balik sesuatu. Selalu ada yang tersembunyi dari. Coba ya, pemegang gelar magister ilmu humaniora seharusnya lebih kritis. " "Ini tidak ada kaitannya dengan gelar magister. Ini masalah keindahan. "

"Ha. . . ha. . sudahlah. Kamu sendiri yang mengatakan bahwa yang indah di dunia ini hanyalah perempuan, bukan?" Ah. , lagi-lagi Jane membalikkan kata-kataku. Perempuan keturunan Jerman itu memang acap membuatku kehabisan kata-kata ketika harus berdebat. Kunilai otaknya lumayan cerdas. Logika yang dipakainya selalu tepat dalam membingkai persoalan. "Sesekali kau harus mampir ke sana untuk melihat sendiri betapa eloknya sungai cahaya. " "Iya. . iya, " Jane mencoba menghiburku. ***

Malam itu kantuk seperti enggan menjengukku. Padahal, hari itu pekerjaan di kantor telah menghajarku habis-habisan. Kubuka jendela kamar. Ingatanku kembali pada sungai cahaya yang mengalir di tengah kota. Lalu, entah kenapa, malam itu aku begitu ingin menyaksikan keindahan sungai cahaya. Lalu tanpa banyak pikir, kutelepon Jane. Kurasa ini saat yang baik untuk mengajaknya menyaksikan secara langsung sungai cahaya.

Ternyata, Jane pun belum dapat memejamkan matanya. Dia langsung mengiyakan ajakanku. "Mungkin ini kesempatan pertama dan terakhir untukmu melihat sungai cahaya, " bujukku kepada Jane. "Ha. . ha. . . . Kamu seperti sedang jatuh cinta, honey, semuanya selalu ingin dilakukan secara terburuburu. " "Ayolah Jane, aku serius. Jika kamu mau, sekarang juga akan menjemputmu. "

"Ya, sudah, aku tunggu kamu, Dragon!" Ya, begitulah Jane menyebutku, Dragon. Entah apa maksudnya. Dia sendiri tidak pernah menjelaskannya secara tuntas. Hanya, menurutnya napasku kadang terasa panas, seperti napas seekor naga. Aku tidak tahu apakah dia serius dengan jawaban tersebut atau tidak.

Dalam waktu tidak kurang dari tiga puluh menit, Jane sudah berada dalam mobilku. Kami melaju dengan kecepatan sedang menuju sungai cahaya. "Kamu benar-benar hampir kehilangan akal, Hen, "ujar Jane sambil menonjok pelan lenganku. "Kamu seperti orang yang sedang kasmaran. Coba kamu kasmaran kepadaku seperti sekarang, pasti aku nggak bakal menolak. Huh, tetapi tidak pernah kasmaran kepadaku, " ujar Jane seraya merebahkan kepalanya ke bahuku.

Dalam sekejap, kami tiba juga di tepi sungai cahaya. Gemerlap sungai cahaya memendar tenang, setengah membius. Kami berdiri di tepi sungai. "Sekarang kamu bisa melihat sendiri keindahan sungai ini, Jane" kataku. Jane tersenyum. "Aku mengakui, kau memiliki kepekaan terhadap keindahan. Sayangnya, kau hanya melihatnya dari satu sisi saja. "

"Iya, aku paham. Kau pasti akan mengatakan bahwa kebenaran terdiri dari banyak sisi. " "Persis! Bayangkan saja kalau kau berdiri di sini pada siang hari, kau pasti akan melihat pemandangan yang jauh berbeda dengan yang kau lihat malam ini. Air sungai ini tentu keruh, sampah plastik, kotoran manusia, dan bangkai anjing mengapung terbawa aliran sungai. Menjijikkan!"

"Mirip janji para elite politik menjelang pemilu, ya?" "Absolutely right! Persis, Hen! Persis! Beda yang dijanjikan, beda pula yang dilakukan. Ha. . ha. . " "Janji dan kenyataan, menjadi dunia yang berbeda, seperti beda antara fakta dan fiksi. " "Ya, seperti perbedaan antara penampilan sungai ini pada malam hari dan siang hari. " Aku mengajak Jane bergerak lebih dekat ke sungai cahaya. Sebuah perahu tua tertambat di tepi sungai. Seorang lelaki tertidur pulas.

Sepertinya dia adalah si pemilik perahu. Aku membangunkan si tukang perahu dan memintanya untuk mengantarkan kami menyusuri sungai dengan perahunya. "Jangan ajak aku naik perahu malam-malam begini. Aku tidak berani, " Jane menolak ajakanku untuk berperahu. Tetapi aku terus memaksanya. Jane menyerah. Kami mulai berperahu menyusuri sungai cahaya. Aku dan Jane duduk di bagian depan, sementara si tukang perahu mendayung di belakang kami.

Air sungai sangat tenang. Cahaya-cahaya di permukaan sungai semakin jelas. "Seperti ada kota lain di bawah sana, " kata Jane. "Meski sebenarnya tidak ada apa-apa di balik sana. Kalau sudah begini, kenyataan dan fiksi seperti berbaur tidak jelas. " "Kamu mulai berfilsafat. " "Ha. . ha. . Tetapi memang begitu bukan? Dalam dunia ini, fiksi dan fakta sering kali berbaur, tidak jelas batas-batasnya. "

Perahu menyusuri sungai semakin jauh, sepanjang itu pula kami menikmati pantulan cahaya di permukaan sungai. Hal ini membuatku semakin merasa bergerak di atas sebuah dunia yang berbeda, dunia dengan kutub-kutub yang ekstrem berseberangan. Kadang aku merasa menjadi seorang asing berada di antara pantulan cahaya itu.

Aku tidak hanya merasa asing dengan bayangan yang terpampang di permukaan sungai, tetapi juga merasa asing dengan diri sendiri. Hmm, janganjangan benar juga yang dikatakan Jane, bahwa aku juga tengah berada dalam proses kekacauan orientasi? "Hei jangan bengong saja, " Jane menghentikan lamunanku. "Katanya kamu mau menikmati sungai cahaya. " Entah berapa jam kami menyusuri sungai. Tanpa kusadari, ternyata Jane sudah tertidur di pelukanku.

Mungkin dia sudah tenggelam di dalam mimpinya. Dengan berat hati, karena enggan mengusik mimpinya, kubangunkan Jane dari tidur. Lalu, perlahan kugandeng dia menuju mobil. Matanya setengah terpejam. Mobil pun meluncur menembus udara subuh ibu kota. Tiga hari kemudian tidak ada kabar dari Jane. Aku pun belum sempat meneleponnya.

Sebenarnya aku ingin bicara lebih jauh dengannya tentang sungai cahaya, meskipun aku tahu Jane mungkin akan menganggapku orang yang hilang kewarasan karena tergilagila dengan sungai cahaya. Lebih dari seminggu aku belum juga mendengar kabar dari Jane. Rasanya tidak mungkin Jane pergi jauh dalam waktu lama tanpa meninggalkan pesan kepadaku. Aku mencoba menelepon apartemen dan telepon genggamnya, namun tidak ada yang mengangkat. Ah, ada apa dengan Jane? Ke mana dia?

Apakah pergi ke suatu tempat yang jauh? Aku teringat beberapa bulan yang lalu Jane mengatakan ingin pergi suatu tempat di mana orang-orang tidak mengenalnya. Jane ingin ia mengubur masa lalunya. "Aku ingin pergi ke sebuah tempat yang sangat jauh. Tempat di mana orang-orang tidak mengetahui aku, "suatu kali Jane menceritakan keinginannya kepadaku.

"Mungkin dengan begitu, aku dapat terlepas dari masa laluku. Aku ingin muncul di sebuah tempat, dan benar-benar menjadi seseorang yang baru. "Aku tidak pernah tahu masa lalu yang dimaksudkan Jane. Kini sudah lebih dari sebulan aku tidak mendengar kabar dari Jane. Ada desas-desus yang mengatakan suatu malam Jane tampak pergi tergesa-gesa dengan menenteng sebuah koper.

Setelah itu, Jane tidak pernah terlihat lagi. Seminggu kemudian, sebuah laporan lain mengatakan Jane kelihatan di Ubud dan belajar meditasi pada seorang guru spiritual di sana. Semua laporan mengenai Jane itu sampai di telingaku secara simpang siur. Bahkan semakin hari, laporan yang masuk ke telingaku semakin tidak masuk akal. Ada yang mengatakan Jane sedang berselancar di Pantai Kuta menuju garis cakrawala dan tidak kembali lagi.

Bahkan, ada pula yang mengatakan Jane terlihat terakhir kali dengan sebuah perahu layar sederhana di dermaga Ancol bersama seorang pria berkulit hitam dan berlayar menuju senja. Sejak kepergian Jane, aku selalu menikmati sungai cahaya sendirian saja. Bagiku, kini sungai cahaya tidak sekadar kumpulan pantulan cahaya lampu yang jatuh di permukaan sungai, tetapi selalu mengingatkanku kepada Jane yang telah menghilang entah ke mana.

Namun bagiku, kepergian Jane bukan sesuatu yang harus dianggap misterius. Bukankah kepergian adalah sesuatu yang bisa dalam kehidupan ini. Aku tidak punya hak untuk menahannya, meski sebenarnya terselip kekecewaan karena Jane menghilang tanpa kuketahui jejaknya. Aku berusaha untuk melupakan Jane. Mungkin Jane memang sedang mencari tempat yang benar- benar tidak seorang pun yang dapat mengenalnya. Jane sedang menjadi seseorang yang baru, dan melupakan masa lalunya.

Suatu malam aku kembali menikmati sungai cahaya. Kini sungai cahaya semakin cemerlang. Bayangan- bayangan di permukaan sungai itu seakan merupakan sebuah undangan untuk masuk ke dalamnya. Ah, inikah yang secara awam disebut dengan daya magis sebuah sungai, yang selalu dihubungkan mitos lokal? Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah perahu yang keluar dari kabut malam.

Aku melihat Jane di atas perahu tersebut. Benar-benar Jane! Jane sedang mendayung sebuah perahu di tengah sungai cahaya. Kucoba untuk memanggilnya. Namun, Jane tidak menoleh sedikit pun, Jane terus mendayung menyusuri sungai cahaya. Aku berteriak sambil mengejar Jane dari tepi sungai. Namun, Jane seperti tidak mendengarnya. Berkali-kali aku memanggilnya untuk menepi, tetapi Jane tetap bergeming.

Suara yang kudengar hanyalah benturan ujung dayung dengan air sungai yang menimbulkan bunyi kecipak. "Jane, jangan pergi. Tunggu aku!" Akhirnya suaraku habis. Aku kelelahan mengejar perahu itu. Tenagaku sudah benar-benar habis. Napasku terengah. Aku terduduk di tepi sungai sambil memandangi perahu yang dinaiki Jane, yang perlahan menghilang di antara sungai cahaya.

Perahu itu pun tidak pernah kembali, tidak pernah kelihatan lagi. Kini setiap kali kupandangi sungai cahaya, yang kulihat bukan hanya kerlip indah bayangan lampu di atasnya, tetapi juga kenangan tentang seorang perempuan yang pernah melayari sungai cahaya dan menghilang tanpa pernah muncul kembali. ***


Sumber:
http://www.sriti.com

0 komentar:

Posting Komentar