Home | Berita Opini | Peta Wisata | Wisata Alam | Seni Pertunjukan | Wisata Belanja | Wisata Bahari | Wisata Budaya | Wisata Boga | Wisata Museum | Wisata Religi | Wisata Sejarah | Cerpen
Share/Save/Bookmark
Tampilkan postingan dengan label Seni Pertunjukan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni Pertunjukan. Tampilkan semua postingan

Empat Model Wakili Kepulauan Riau

Model Indonesia 2009 Kepri


Provinsi Kepri mengirimkan empat model terbaiknya untuk mengikuti pemilihan Model Indonesia 2009. Mereka yang terpilih menang setelah bersaing dengan 26 peserta lainnya di ajang final audisi pemilihan Model Indonesia 2009 asal Kepri, di Hotel Bintan Beach Resort (BBR) Tanjungpinang, Sabtu (24/10).



’’Keempat modeltersebut akan mengikuti dua kategori. Pertama catwalk dan kedua foto model,” kata Ketua Panitia Milky. Masih, kata Milky, mereka yang akan mewakili Kepri, yakni Sukma dari Tanjungpinang, Rey dari Batam, Jenny dari Batam, dan yang terakhir Viska dari Tanjungpinang. Mereka akan bertanding dalam pemilihan Model Indonesia 2009 di Jakarta 27 November hingga 2 Desember nanti. ’’Dalam pemilihan ini, panitia sengaja mengundang Desainer Kondang Indonesia Ramli untuk menjadi Juri,” ujarnya.


Hal ini dilakukan untuk mendapatkan peserta terbaik yang akan menjadi wakil kepri di ajang bergengsi tersebut. Sehingga, model yang dikirim benar-benar yang terbaik dari terbaik. Selain Ramli, yang menjadi juri dalam malam final tersebut, ada model dan pemenang Miss Persahabatan di kontes Miss Beauty Internasional di Beijing, Ellen Go dan Kamal.


Dalam pemilihan model tersebut, malam itu juga ada acara fashion yang memamerkan karya desainer Ramli berupa kebaya berbahan batik. Untuk peragaan tersebut, Ramli mendatangkan tujuh modelnya dari Jakarta. Lalu dibantu tiga model dari Batam dan empat model dari Tanjungpinang.



Sumber : http://batampos.co.id
Photo : Jacko Team

Selengkapnya...

Malam Anugerah Kemilau 2009

Malam Anugerah Kemilau


Dalam rangka memperingati hari Jadinya Tabloid Kemilau Melayu yang ke I, memberikan Anugerah kepada 8 Tokoh Melayu yang dinilai mempunyai pemberdayaan Kebudayaan Melayu di Gedung Aisyah Sulaiman Tanjungpinang.

Kedelapan tokoh diantaranya HM Sani Wakil Gubernur Kepulauan Riau yang dinilai menjadi Tokoh mengenalkan Kebudayaan Melayu kepada Internasional, Aida Ismeth diberi Anugerah karena dinilai menjadi Tokoh Wanita Peduli Melayu,Dra Hj Suryatati A Manan sebagai tokoh Peduli Puisi dan Gurindam 12,Tokoh Sastra Melayu Samson Rambah Pasir,ASwandi Syahri sebagai tokoh Arsip kebudayaan Melayu,Drs Amirudin dinobatkan sebagai tokoh Seni Tari Melayu.


Kemudian H M Ali Achmad/Alipon sebagai tokoh Peduli Pantun Melayu,Basyaruddi Idris sebagai tokoh Muda Melayu dan Tarmizi A Sultan sebagi tokoh Teather Melayu.

Kedelapan tokoh tersebut mendapatkan Anugerah Kemilau 2009 dari Tabloid Kemilau Melayu 2009 yang diserahkan langsung oleh Pemimpin Umumnya Rahmat Riyandi yang didampingi oleh Pemimpin redaksi Muhamad Nasir.

Sejumlah tokoh di Kepri mendapat Anugerah Kemilau 2009 yang diserahkan bersempena Hari Jadi Tabloid Kemilau Melayu yang pertama. Acara penyerahan Anugerah Kemilau 2009 ini berlangsung pada Senin malam di Gedung Aisyah Sulaiman, Tanjungpinang.

Menurut Ketua Pelaksana Acara Raja Dachroni, penyerahan Anugerah Kemilau dikemas sangat menarik karena pada saat bersamaan juga digelar malam panggung Melayu menampilkan berbagaai pertunjukan seni dan orasi budaya Melayu yang disampaikan oleh Budayawan Melayu Al Azhar.

Adapun penerima Anugerah Kemilau 2009 terdiri dari berbagai kategori, yakni Tokoh Pengembangan Ekonomi Melayu dan Hubungan Internasional Drs HM Sani, Tokoh Peduli Perempuan Melayu Aida Ismeth Abdullah, Tokoh Peduli Gurindam 12 Suryatati A Manan, Tokoh Sastra Melayu Samson Rambah Pasir. Tokoh Pantun Melayu Muhammad Ali Achmad, Tokoh Peduli Dokumen dan Arsip Melayu Aswandi Syahri.

Selanjutnya Tokoh Peduli Seni Tari Melayu Drs Amiruddin, Tokoh Belia Melayu Basyaruddin Idris dan Tokoh Peduli Teather dan Seni Panggung Melayu Tarmizi.

Selain menerima plakat Anugerah Kemilau 2009, kepada tokoh-tokoh Melayu tersebut juga diserahkan piagam penghargaan yang ditandatangani Ketua LAM Kepri Abdul Razak AB, Pemimpin Umum Tabloid Kemilau Melayu Rahmat Riyandi, dan Pemimpin Redaksi Tabloid Kemilau Melayu Muhammad Nasir.

Acara Malam Panggung Melayu tersebut menjadi semakin meriah karena penerima Anugerah Kemilau 2009 menampilkan kebolehan masing-masing. Suryatati melantunkan syair, Sani membaca Gurindam 12, Samson membaca puisi, dan Muhammad Ali menampilkan Pantun Monolog dengan gayanya yang kocak.

Menurut Abdul Razak, penerima Anugerah Kemilau 2009 adalah tokoh-tokoh yang peduli terhadap tumbuh kembang khazanah dan seni budaya Melayu di Kepri.

Sumber: http://www.bintannews.com
http://batampos.co.id
Photo: Babam Tribun

Selengkapnya...

Malam Baca Puisi Peduli Kemanusiaan Bersama KPK (Komunitas Penyair Kota)

Komunitas Penyair Kota


Ketua DPRD Tanjungpinang, Bobby Jayanto dengan lantang menyebutkan, ”Jangan Panggil Aku China,”. Kalimat tersebut adalah bagian pusi yang dibacakan Bobby di Tugu Proklamasi Tanjungpinang, depan Gedung Daerah.

Bobby membacakan puisi tentang etnis Tionghoa yang masih dipandang sebagai kalangan minoritas di tanah kelahirannya Indonesia. Sedangkan, Wali Kota Tanjungpinang Suryatati A Manan serta kalangan Muspida yang ikut berpartisipasi membaca puisi peduli Kemanusiaan yang diadakan Komunitas Penyair Kota (KPK) Tanjungpinang.


Tatik membacakan puisi hasil karyanya sendiri yang terilhami saat ia akan menghadiri rapat paripurna bersama dewan. Dalam undangan, acara yang dijadwalkan pukul 13.00 WIB, ternyata anggota dewan baru datang satu persatu satu jam berikutnya. ”Jangan tersinggung Pak Bobby, penantian saat waktu itu menghasilkan karya ini,” ujar Tatik sebelum membacakan puisinya.

Meskipun teknik membaca puisi Tatik tidak berapi-api seperti beberapa peserta lainnya yang membuat penonton terpukau, seperti saat Aida Ismeth dan Said Parman berpusi, ciri khas Tatik yang tenang saat bicara, tidak jauh berubah saat ia membacakan puisi. Dengan sikap tenangnnya ternyata, Tatik mampu membuat penonton antusias dengan puisi yang dibacakan.

Dijelaskan Ketua Panitia Pelaksana, Teja Alhabd, baca puisis peduli kemanusiaan yang diselenggarakan KPK Tanjungpinang sengaja dilakukan sebagai ajang silaturahmi antara masyarakat dan Muspida. Acara ini ternyata sukses, karena dari Muspida yang dijadwalkan ikut berpartisipasi dalam acara ini semuanya ikut serta.

Meskipun beberapa pejabat ada yang mengaku belum pernah membaca puisi, tapi aksi pertama para pejabat malam itu ternyata tidak kalah menariknya dengan penyair lainnya. ”Saya tidak pernah baca puisi, tapi saya ingin berpartisipasi di acara ini,” ungkap Kepala Kejati Kepri M Yusuf.

"Durian, Duku dan Kedondong, Jangan Gitu Dong, Satu Datang, Satu Pergi dan Menunggu Lagi Akhirnya tak Jadi" itulah penggalan akhir dari puisi Walikota Tanjungpinang Haj SUryatati A Manan yang berjudul 'Pasti Menanti' dalam acara malam peduli kemanusiaan yang ditaja oleh Komunitas Penyair Kota (KPK) Tanjungpinang,

Puisi singkat namun penuh ungkapan kekecewaan Suryatati atas sikap para wakil rakyat tersebut, disambut tepuk tangan oleh para penonoton yang memadati Tugu Proklamasi di depan Gedung Daerah atau tepatnya di pintu keluar Pelabuhan Sri Bintanpura Tanjungpinang.

"Saya buat puisi ini terinspirasi saat menunggu para anggota dewan untuk melakukan penandatanganan KUA dan PPAS RAPBD Kota Tanjungpinang tahun 2009 sekitar sebulan lalu. Kami saat itu dari unsur eksekutif sudah lama menunggu pelaksanaan penyampaian KUA PPAS di salah satu ruang unsur Pimpinan DPRD Kota Tanjungpinang. Namun jadwal yang telah ditetapkan tersebut batal tanpa kejelasan," ungkap Suryatati A Manan.

Hadir dalam acara malam peduli kemanusiaan tersebut, dan turut membacakan puisi yakni Wakil Gubernur Provinsi Kepri, HM Sani, Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Kepri M. Yusuf, Anggota DPD RI Aida Ismeth, Ketua DPRD Kota Tanjungpinang Bobby Jayanto, Wakil Walikota Tanjungpinang Edward Murshalli dan sederet Kepala Dinas di lingkungan Pemko Tanjungpinang.

Parade baca puisi disamping diisi oleh instansi vertikal di Kota Tanjungpinang juga dihadiri kalangan penyair handal di Bumi Segantang Lada seperti Tarmizi dari Rumah Hitam, Samson Rambah Pasir dengan puisi Terong Gulai Santan, Ali Ipon sajak manusia, dan sederat nama lainnya yang telah malang melintang di dunia seni diantaranya Abdul Muin HS.

Para penonton sempat dibuat terpesona dengan pembacaan puisi yang dibawakan oleh salah seorang siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Kota Tanjungpinang, dengan judul 'Ini Bukan Keinginan Kami'. Semua penonton seperti terhipnotis dan berlinang air mata mendengar bait demi bait puisi dari siswa SLB tersebut.

Begitu pula penampilan Anggota DPD RI, Aida Ismeth, menggelegar penuh semangat membacakan puisi hingga memukau dengan pekikannnya yang khas membuat suasana kian hening ikut dalam sajak yang ditulis oleh sang proklamator ahlaq mulia di Bumi Segantang Lada ini. kemudian disusul pembacaan puisi singkat oleh Hoesnizar Hood yang bercerita tentang lika-liku menjelang Pemiu 2009 ini.

Dengan piawai pembaca acara Machzomi Dawood, juga sebagai peyair senior di Kota Gurindam ini, tidak henti-hentinya membuat suasana menjadi hidup dengan jenakanya yang kocak membuat pengunjung kian tidak beranjak meskipun waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB.

Malam Kemanusiaan dengan pembacaan puisi dan renungan lainnya itu membuat susana di tepi laut menjadi meriah terkadang penonton harus ikut dalam suasana sajak yang dibacakan terkadang harus tertawa lepas karena lucu atas penampilan para penyair yang secara bergantian membacakan sajaknya di panggung mini Tugu Proklamasi yang baru dibangun tersebut.

Ketua Panitia penyelenggara Teja Alhab kepada Sijori Mandiri menyebutkan pagelaran parade tersebut merupakan bentuk dari apresiasi, Komunitas Penyair Kota Tanjungpinang, dalam menggiatkan budaya di Kota Tanjungpinang.

"Ini sebagai kegiatan positif dan melibatkan semua istansi vertikal dan eksekutif di Kota Tanjungpinang sebagai tempat untuk mengkritik, curhat dan lainnya dengan cara yang santun yakni dalam sajak," papar Teja.

Sumber: Harian Sijori Mandiri
http://komunitaspenyairkotatpi.blogspot.com
Photo: Babam Tribun

Selengkapnya...

Pertunjukan Wayang Suket, Bukan Sekadar Karya Seni Rupa

Pertunjukan Wayang Suket


Karya-karya wayang suket yang dibuat M.Thalib Prasojo, ternyata tidak hanya berhenti sebagai karya seni rupa. Untuk kali pertama, karya seni rupa wayang suket (rumputan) itu pernah dipergelarkan dalam bentuk seni pertunjukan wayang. Ki Supriyono (34), ketua jurusan Pedalangan SMKN IX Surabaya bertindak menjadi dalang dalam pementasan di gedung SMKN IX (eks SMKI), Jalan Siwalan Kerto Surabaya. Pentas wayang gaya Jawa Timuran ini diiringi 10 pengrawit, satu sinden, gamelan slendro lengkap, dengan lakon Wahyu Senopati.

Meski pertunjukan wayang suket selama ini sudah diklaim oleh Slamet Gundono, wayang karya Thalib sangat berbeda. Dia tidak sekadar memanfaatkan bahan-bahan rumput untuk sosok (yang menyerupai) wayang, namun betul-betul membuat wayang dari bahan rerumputan. Dengan melihat sosoknya saja, para penggemar wayang pasti tahu nama tokoh yang dimaksudkannya.

Selain itu, pertunjukan wayangnya, juga bukan asal pertunjukan biasa. Thalib dengan sengaja meminta sang dalang untuk memainkan karya wayangnya secara klasik. Artinya, betul-betul diperlakukan sebagaimana wayang kulit biasanya, bukan ”wayang-wayangan”. Lakonnya pun dipilih lakon serius. Inilah yang membedakan dengan lakon wayang Slamet Gundono.

Selama ini M. Thalib Prasojo membuat karya wayang suket sebagai salah satu bentuk ekspresi dalam karya seni rupanya. Untuk pementasan kali ini, sudah didahului dengan workshop pembuatan wayang suket pada siswa-siswa SMKN XI (eks SMSR). Hasil karya workshop ini kemudian ikut disertakan dalam pementasan wayang di SMKN IX. Sebagaimana diketahui, SMSR semula merupakan bagian atau jurusan seni rupa dari SMKI. Maka kolaborasi kedua sekolah ini untuk mengenang kebersatuan mereka, sekaligus menarik minat anak-anak muda terhadap studi kesenian, khususnya jurusan pedalangan yang selama ini sangat sepi peminat. Pergelaran selama 90 menit dengan penata gending Bambang SP ini menjadi bagian dari pentas rutin dua bulanan yang dilakukan di SMKN IX.

Dalang asli Nganjuk itu menuturkan, lakon Wahyu Senapati berkisah seputar peristiwa Gatutkaca yang diwisuda menjadi senopati di Ngamarto. Tapi Antarejo sebagai saudara tuanya tidak terima, karena merasa juga punya hak sebagai putra Ngamarto dan memiliki kesaktian yang sama. Ternyata, Sengkuni berada di baliknya karena menginginkan keluarga Pandawa terpecah.

Ketika menghasut itu, tubuh Antarejo disusupi Nini Permoni alias Dewi Durga, disamping dukungan pihak Kurawa. Gatutkaca pun berperang dengan Antareja, namun akhirnya dipisah oleh Kresno. Kresno akhirnya tahu, bahwa ini bukan kemauan Antarejo sendiri. Menurutnya, yang sanggup mengatasi hal ini hanya Semar. Kemudian Semar dipanggil, dan Nini Permoni dipaksa keluar oleh Semar. Nini dinasehati, jangan menggangu momongan (asuhan) Semar. Tapi Nini berkilah, memang sudah tugasnya menggoda manusia. Salah sendiri kalau ada yang tidak kuat. Beruntung Pandawa memiliki Semar sebagai bentengnya.

Menurut Supriyono, cerita carangan yang dipergelarkan kali ini mengandung misi pendidikan. Bahwa sesama saudara jangan saling bertengkar, atau dapat dikonotasikan dengan rebutan kursi. Gatutkaca udah dipilih oleh rakyat, jadi kalau Antarejo ingin berbakti pada negara, masih ada jalan lain, tidak harus menjadi Senopati.

Direncanakan, setelah pentas ujicoba ini akan digelar lagi di gedung pertunjukan kesenian di tempat lain. Tentu saja, M. Talib dengan senang hati kalau ada yang mengundang pementasan wayang suketnya.

Sumber : http://wayangsuket.wordpress.com
Selengkapnya...

Gubernur Buka Bintan Art Festival VI

ImagePenyelenggaraan Bintan Art Festival VI dibuka secara resmi oleh Gubernur Kepri H.Ismeth Abdullah pada hari Jumat malam (2/11). Pembukaan secara resmi tersebut yang ditandai dengan pemukulan gendang oleh Gubernur. Festival tahunan tersebut diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Propinsi Kepri yang di ketuai oleh Hoesnizar Hood. Tempat penyelenggaraan Bintan Art Festical VI tahun ini mengambil tempat di taman tugu Kota Tanjungpinang (depan Gedung Daerah)

Dalam sambutannya Gubernur Kepri Ismeth Abdullah mengatakan bahwa "Bintan Art festival yang diadakan tiap tahun ini merupakan kegiatan pertemuan bebagai suku Melayu yang ada di perantauan untuk mengenang kembali jasa-jasa besar Raja Ali Haji pembuat manuskrip Gurindam Duabelas yang membanggakan Kepri di dunia internasional”.

ImageGurindam dua belas yang berisis petuah-petuah hidup untuk menjadika kita hidup lebih baik ke Tuhan, sesama manusia dan lingkungan. Gurindam duabelas ini juga sebagai cikal bakal bahasa Indonesia yang kita gunakan sekarang.

Suatu pertunjukan seni selayaknya diadakan di gedung kesenian karena memerlukan tata cahaya yang sempurna, karena itu Pemprov Kepri menyadari itu sehingga dalam penyususnan master plan pembangunan ibukota di Pulau Dompak, gedung kesenian Provinsi Kepri juga akan di bangun di Pulau Dompak itu.

Kurang lebih dua tahun lagi gedung kesenian itu akan terbangun, sehingga para seniman Kepri akan bangga dan nyaman untuk menuangkan ide-ide kreatif demi kemajuan kesenian di kepri ini".

"Kepulauan Riau di mata malaysia dan singapura cukup disegani dalam hal keseniannya, tarian-tarian kita, puisi kita sangat disukai dan disegani oleh negara tersebut, sehingga Pemprov Kepri tiap tahunnya menganggarkan bantuan bagi sanggar kesenian di seluruh Provinsi Kepri ini, tiap tahunnya kita akan menaikkan bantuan ini" tambah Gubernur Kepri yang mantan Ketua Otorita Batam ini.

Pada pembukaan ini Gubernur Kepri ditemani oleh Kepala Dinas Pariwisata Robert Iwan Loriaux dan Kepala Dinas Pertambangan Energi Hamid Rizal. Pada pembukaan ini turut hadir juga Ketua Dewan Kesenian Kepri Hoesnizar hood, seniman nasional Sitok Srengege, seniman dari Thailand, Singapura dan Sumatera Barat.

Sumber: http://kepriprov.go.id

Selengkapnya...

Mozaik Peradaban Melayu - Pertunjukan Bangsawan, Jendela Masa Silam

Oleh : Indira Permanasari

Alkisah hidup seorang lanun atau perompak laut yang kejam. Di Pulau Sebatik, lanun tersebut berdiam. Bersama anak buahnya merampoki kapal-kapal yang lewat, memerkosa perempuan desa, mengganggu para pedagang hingga membuat perairan menjadi kelam. Sultan Lingga sangatlah cemas dengan tindak-tanduk lanun nan kejam.

Suatu saat, lanun Pulau Sebatik jatuh cinta kepada seorang putri bangsawan dan berusaha merebut hati sang putri. Keluarga putri tersebut diganggunya. Ternyata ayah putri bangsawan tersebut yang membuang lanun itu ke Pulau Sebatik dan mengatakan ibu sang lanun telah mati.

Saat pertikaian antara keluarga bangsawan dengan sang lanun, muncul seorang panglima yang kemudian bertarung dengan lanun. Lanun yang kejam terbunuh oleh tangan panglima. Pada saat yang bersamaan pula sang ibu yang ternyata masih hidup muncul dan menangisi putranya.

Kisah tersebut dimainkan Sri Mahkota Lingga dari Daik, Lingga salah satu kelompok teater tradisional “bangsawan”, pada perhelatan Festival Budaya Melayu Internasional di Kota Tanjung Pinang, 10-16 September 2006, di Kepulauan Riau.

Di panggung Gedung Aisyah Sulaiman, telah tertata empat lapis layar dengan setting panggung istana yang digarap serius. Tidak cuma satu jenis setting.

Begitu pergantian babak, layar ungu turun dan kemudian membuka kembali dengan tampilan dekorasi panggung berbeda mulai dari suasana istana, pinggir pantai sampai hutan. Para pemain berpakaian khas Melayu berwarna-warni mengilap.

Tidak hanya setting, cerita yang dibawakan oleh kelompok teater tersebut diyakini kebenarannya atau diangkat dari kisah nyata.

“Pulau Sebatik sekarang juga entah kenapa masih angker. Orang takut bertandang ke sana,” kata sutradara Rusdy Arasy sebelum pementasan.

Pertunjukan “bangsawan” dari Daik itu ibarat hendak menghidupkan suasana di masa lampau, tidak hanya dari visual, tetapi juga cerita. “Untuk mendapatkan cerita kami mencari orang yang mengerti tentang zaman dahulu. Biasanya cerita-cerita tentang kerajaan. Orang tua yang masih ada kami datangi supaya bercerita,” kata Rusdy.

Logat dan bahasa yang dipakai juga seperti masa lalu. Supaya pas, para pemain diberi kostum yang dibayangkan merupakan penggambaran Melayu zaman kerajaan dan tentu saja benda-benda modern yang tak ada kala itu diharamkan. Pemain, misalnya, tidak diperbolehkan memakai sepatu sampai jam tangan.

Dengan segala perlengkapan itu, “bangsawan” harus dimainkan di tempat tertutup dan membutuhkan biaya yang besar. Pencahayaan dan pengeras suara harus memadai. “Sekali tampil butuh minimal Rp 5 juta. Jumlah pemain beserta kru mencapai 40 orang,” ucap pimpinan rombongan Sri Mahkota Lingga, Khamarul Zaman.

Realitas pelaku

Realitas para pelaku “bangsawan” jauh panggung dari kenyataan. Kalau di atas panggung mereka menjadi sultan, permaisuri, panglima, hulubalang, dan keluarga kaya, aslinya tidak demikian. Kebanyakan atau hampir 80 persen anggota Sri Mahkota Lingga merupakan pegawai negeri sipil dan mereka mempunyai waktu luang yang jelas.

Penghidupan tidak dapat berharap banyak dengan berkesenian “bangsawan”. Bagi mereka, berkesenian hanya meneruskan tradisi dan bukan untuk mencari keuntungan. “Satu bungkus juga kadang tidak dapat dari pementasan,” kata salah seorang pemain, Sulaiman (40), yang juga seorang guru sekolah dasar. Sang sutradara, Rusdy Arasy, berprofesi sebagai kepala sekolah dasar di Daik, Lingga.

Upah yang tidak seberapa itu habis untuk operasional pementasan, transportasi, dan sisa yang kecil itu dibagikan ke puluhan anggota.

Nasib kesenian itu juga tidak jauh berbeda dengan kesenian tradisional lain di Nusantara yang memasuki masa senja. Biaya pertunjukkan dan kekurangan generasi penerus kesenian membuat “bangsawan” sulit berkembang.

Kelompok “bangsawan” yang pentas tersebut misalnya, baru lima tahun belakangan aktif kembali setelah diadakan revitalisasi oleh pemerintah dan organisasi nirlaba. “Tadinya kami sudah terpencar-pencar. Sekarang sudah mulai berlatih dan pentas setahun tiga kali,” kata Rusdy Arasy yang sejak berumur belasan tahun sudah bermain “bangsawan”.

Perjalanan “bangsawan”

Sesungguhnya dari “bangsawan” yang dibawakan malam itu tercermin pula kehidupan pada masa Kesultanan Melayu. Pada masa kerajaan Riau-Lingga, Daik, Lingga sempat menjadi ibu kota kerajaan setelah Sultan Johor jatuh.

Aswandi Syahri dari Yayasan Khazanah Melayu yang menulis buku Mak Yong Teater Tradisional Kabupaten Kepulauan Riau mengungkapkan, “bangsawan” merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan yang diimpor di kawasan Lingga seperti Daik dan Singkep menemukan coraknya.

Teater tradisional tersebut konon berasal dari corak seni pertunjukan wayang parsi. Awalnya berkembang di Pulau Pinang dan menyebar ke berbagai daerah Kepulauan Riau.

Sebuah rombongan wayang bangsawan atau wayang parsi dari Pulau Pinang ke Istana Riau di Penyengat atas undangan Sultan Abdul Rahman Muazamsyah (1889-1911). Kemudian jenis teater itu menyebar ke beberapa daerah di Kepulauan Riau dan berkembang bentuknya.

Sutamat Arybowo, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia yang mendalami tentang “bangsawan” sejak tahun 1990 hingga sekarang berpendapat serupa. “Bangsawan” merupakan pertunjukan yang telah komersil lantaran dimainkan di tempat umum seperti pasar dan penonton membayar karcis.

Dia menduga teater tersebut sampai di kawasan Lingga tahun 1870-an. “Waktu itu harga kopra naik dan perekonomian sangat baik sehingga para pedagang membutuhkan hiburan. Kesenian menjadi berkembang,” katanya.

Di Daik, Lingga, perkembangan bangsawan tak lepas dari kehidupan istana. “Tadinya teater itu dimainkan di dekat istana untuk memberikan pendidikan tentang adat istiadat kerajaan sekaligus menjadi legitimasi kekuasaan,” kata Sutamat.

Namun, ada pula yang berpendapat bangsawan mengalami peralihan dari sakral ke profan. “Tadinya untuk kepentingan ritual seperti peringatan hari jadi kerajaan dan keagamaan. Setelah itu, beralih menjadi hiburan,” katanya.

Lantas, muncullah cerita khas Daik, Lingga, seperti Hulubalang Daik, Panglima Ayam Berkokok, Daeng Marewah mengambil setting cerita pada waktu kerajaan Kerajaan Riau-Lingga berdiri.

“Bangsawan” tentu saja tidak hanya sekadar hiburan yang menyenangkan, tetapi juga dapat menjadi salah satu jendela untuk memahami Melayu. “Sebagai peneliti, saya sendiri, seni pertunjukan dengan metaforanya menjadi pintu masuk untuk melihat masa lalu,” ujarnya.

Sumber: media Batam pos

Selengkapnya...

CAP GO MEH

Pengamat Agama Khonghucu di Indonesia berdomisili di Batam

Perayaan Hari Raya Imlek berlangsung selama 15 hari, mulai dari tanggal 1 sampai 15 bulan satu Imlek atau yang dikenal dengan sebutan Cap Go Meh, merupakan Hari Raya Bulan Purnama yang disebut juga hari raya kecil. Sebutan Cap Go Meh diambil dari dialek Hokkian yang berarti malam di hari ke lima belas. Pada Tanggal 15 Imlek jatuh tepat bulan purnama, maka di saat Cap Go Meh adalah saat bulan purnama pertama dalam kalender Imlek. Permulaan bulan purnama ini melambangkan sifat Maha Sempurna Thian (sebutan Tuhan bagi umat Khonghucu), sebagai Khalik semesta alam (sifat Gwan), sehingga Cap Go Meh disebut juga Siang Gwan.


Dirayakan pada saat Gwan Siau atau malam purnama raya bulan Cia Gwee (bulan kesatu), dipenuhi suasana bahagia dan gembira, melaksanakan persujudan kehadirat Thian juga dilakukan penghormatan besar kepada para Suci (Sin Beng/dewa-dewa) yang dihayati sebagai perantara Thian menurunkan berkah dan rakhmat-Nya. Gwan berarti utuh/bulat dan Siau berarti tengah malam, yang diartikan sebagai perayaan malam purnama raya.


Persembahyangan dengan Thiam Hio (melalui asap dupa sebagai sarana perantara dengan para suci) maupun upacara besar. Biasanya upacara ini bersifat syukuran yang dilakukan baik di dalam keluarga, bio/klenteng. Gwan Siau melambangkan saat mulai diturunkan berkah atas penghidupan dalam tahun yang bersangkutan dimana Thian melimpahkan segala berkah karunia rahmat-Nya kepada manusia atas penghidupan dalam tahun yang bersangkutan. Hari-hari suci yang melambangkan kasih Thian ini patut dimuliakan. Semoga meneguhkan Iman bagi yang melaksanakan tugas suci ini dan dapat melaksanakan kewajiban hidup yang Thian firmankan.


Cap Go Meh, sekaligus sebagai pertanda berakhirnya perayaan Hari Raya Imlek dan umat (Khonghucu) siap melaksanakan tugas kewajiban hidup masing-masing secara maksimal. Meskipun selama limabelas hari telah melakukan usaha, namun kegiatan tersebut belumlah maksimal. Karena selama lima hari telah dipergunakan silaturrahmi baik menerima tamu maupun membalas kunjungan ke orang tua, saudara, sesama kerabat, teman-sahabat dan tetangga. Di beberapa di negara Asia, umumnya berlibur selama empat hari termasuk di tanah air pada beberapa daerah, di hari kelima sudah memulai aktivitas seperti biasa.

Menolak Bala

Pada permulaan usaha disana-sini tampak atraksi barongsai terutama di pusat perdagangan. Para pengusaha yang bermaksud mengundang barongsai dengan cara menggantungkan seikat sayur dan sebuah angpau di depan rumah/toko/kantor. Atraksi barongsai ini terkandung maksud ritual religius sebagai simbolisasi menolak bala pada tahun tersebut dan tentu saja penuh harapan akan kelancaran dan keberhasilan dalam menjalankan bisnisnya tanpa rintangan yang berarti meskipun dunia usaha yang kian hari semakin ketat kompetiternya.


Syukuran Cap Go Meh di Indonesia (pulau-pulau besar terutama Pulau Jawa) di tandai makanan khas yaitu lontong Cap Go Meh (identik hari Raya Ketupat), yang melambangkan perpaduan budaya yang sangat indah dan harmonis melalui akulturasi budaya secara alami. Bahkan sejarah masa lalu kegembiraan Cap Go Meh bukan saja menjadi kegembiraan umat Khonghucu saja dan masyarakat Tionghoa, melainkan menjadi kegembiraan semua warga bangsa dalam acara hiburan rakyat.


Di era reformasi nuansa indah nan-harmonis ini terasa kembali ditengah masyarakat seperti yang akan diadakan kegiatan pawai seni budaya menyambut Cap Go Meh di Kota Madya Tanjung Pinang. Menurut keterangan dari Ketua Perhimpunan Tionghoa Indonesia (INTI) Provinsi Kepulauan Riau Harsono, bahwa pawai menyambut perayaan Cap Go Meh akan dilepas oleh Gubernur Kepri bersama Wali Kota Tanjung Pinang serta segenap Muspika di depan kediamannya. Pawai ini akan dimeriahkan dengan barongsai, lampion lebih kurang seribu buah dan Reog. Di samping sebelumnya telah dimeriahkan pasal malam menjelang Hari Raya Imlek atas partisipasi segenap lapisan masyarakat terutama pemerintah daerah. Pawai seni budaya yang akan ditampilkan hendaknya tidak hanya sebatas atraksi barongsai, atraksi naga, wushu, drama saja melainkan adalanya partisipasi dari elemen budaya yang tumbuh dan berkembang di daerah tersebut seperti Reog. Dalam kontek pesta rakyat ini harmoni dan persaudaraan menjadi semangat perayaan Cap Go Meh sehingga segenap lapisan elemen masyarakat dapat bahu membahu turut serta mensukseskan sebuah kegiatan pesta rakyat..


Kegiatan semacam ini setidaknya ; (1) Menghidupkan keramaian kota. (2) Kunjungan wisata bagi masyarakat di daerah sekitarnya bahkan turis manca Negara terutama yang daerah perbatasan dari Singapore dan Malaysia. (3) Menghidupkan sektor rial bagi Usaha Kecil Menegah disegala sektor terutama transportasi laut, darat, akomodasi penginapan, warung dan perdagangan, terutama pedagang kaki lima. (4) Ajang promosi potensi wisata daerah, agar semakin meluas daerah-daerah wisata dikenal oleh masyarakat luas. (5) Adanya hiburan rakyat tahunan, sehigga memberikan kesan kepada kita semua bahwa menjelang datangnya Imlek segera bisa menikmati hiburan bersama keluarga di saat Cap Go Meh.

Festival Seni Budaya

Kegiatan memeriahkan Cap Go Meh sudah dikenal sejak Dinasti Han 206 SM. Dalam kegiatan pada waktu itu diadakan pemasangan atribut-atribut seni kerajinan masyarakat terutama lampion (Teng Long) dan kegiatan masyarakat lainnya. Seperti pertunjukan seni bela diri, teka-teki, atraksi barongsai, atraksi naga, sulap, termasuk keramaian pasar malam. Dari kegiatan ini yang paling ramai adalah teka-teki yang pertanyaannya dimasukkan dalam lampion.


Pada masa Orba secara nasional kegiatan Cap Go Meh nyaris tidak dilakukan dalam bentuk apapun kecuali melakukan ritual di Klenteng-klenteng, namun di pelosok-pelosok masih sempat memeriahkan Cap Go Meh seperti kepulauan Riau masih dapat melakukan kegiatan pentas seni budaya yang diadakan di Klenteng-klenteng berupa pertunjukan pentas seni suara/panggung gembira berlangsung hingga kini masih dilestarikan.


Kerumunan masyarakat di area pentas seni budaya melahirkan nuansa meriah bersuka ria sekaligus sebagai ajang untuk saling bersilaturahmi bagi yang masih belum sempat saling beranjangsana.


Era reformasi menghidupkan kembali kegiatan pesta rakyat di masa lalu pasca Inpres Nomor 14 tahun 1967. Pesta rakyat disejumlah daerah dahulu melibatkan semua lapisan masyarakat (suku) yakni dengan menampilkan seni budaya masing-masing kelompok dalam acara pesta rakyat Cap Go Meh. Cap Goh Meh yang diadakan 15 hari setelah perayaan hari raya Imlek. Sebagai Contoh di Jakarta Barat, sebagian jalan Pancoran akan ditutup tanggal 23-24 Februari mendatang sebagai pusat perayaan pesta rakyat yang akan dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. Kegiatan tersebut akan melibatkan sejumlah sanggar bela diri wushu dan pencak silat dari pelbagai perkumpulan Betawi serta Komite Olah Raga Nasional Indonesia (KONI), tampil dalam Festival Cap Go Meh.


Menurut informasi Ketua Komda Matakin Kalimantan Barat Ir.Sakandi Talok, bahwa untuk tahun ini di Singkawang (Kalbar), pesta rakyat dimeriahkan dengan tampilnya naga raksasa dengan tinggi kepala delapan meter dan sepanjang 288 meter dengan diameter lima meter, terbuat dari kain yang digunakan sebagai jalan masuk menuju pusat perayaan Cap Go Meh. Inilah salah satu kreasi yang lahir sebagai penunjang kemeriahan suatu pesta rakyat semakin semarak.
Menurut pendapat penulis, kegiatan pentas seni budaya sebagai hiburan rakyat tahunan seyogyanya atau sebaiknya dalam perayaan tidak terbawa arus eforia. Masyarakat hendaknya bersikap arif bijaksana, sehingga tidak kebablasan melampaui batas kewajaran, tidak berlebihan. Segala kegiatan tersebut diadakan hendaknya menyesuaikan kondisi Bangsa Indonesia, terutama di dalam hidup berbangsa dan bernegara, peka akan kondisi lingkungan sekitarnya masing-masing dengan mengedepankan jalinan hubungan kehormanisan, keselarasan dalam pergaulan sosial kemasyarakatan.


Nuansa Cap Go Meh boleh meriah, berbagai seni budaya boleh ditampilkan, segala itu tanpa meninggalkan makna spiritual dan filosofinya. Di dalam kemeriahan tidak kehilangan intropeksi diri. Di segala harapan tidak kehilangan sujud dan syukurnya ke Sang Khalik yang Esa. Selamat merayakan Cap Go Meh, semoga melalui seni budaya ini semakin mempeerat tali persaudaraan kita semua. ***

Selengkapnya...