Home | Berita Opini | Peta Wisata | Wisata Alam | Seni Pertunjukan | Wisata Belanja | Wisata Bahari | Wisata Budaya | Wisata Boga | Wisata Museum | Wisata Religi | Wisata Sejarah | Cerpen
Share/Save/Bookmark

Negeri Cahaya

Oleh Dayu Nilam Abrar


Ahraniya, Negeri Cahaya ”Jika saja angin cukup kuat membawaku, aku ingin terbang. Terbang. Hilang. Dan melupakan semuanya. Berharap ini hanya mimpi. Harapan memang selalu klise.”
Aku pastilah seorang wanita yang beruntung. Beruntung karena berhasil lolos dari episode pertama pembantaian di kampung halamanku sendiri, Ahraniya, Negeri Cahaya. Tuhan menciptakan Negeri Cahaya sejak awalnya mungkin sedang merasa gusar. DiciptakanNya tanah yang gersang di sana. Hanya ada perbukitan, gua, dan pohon-pohon rendah. Dan kini Tuhan menciptakan tragedi. Kegusaran apa yang membuat Tuhan menciptakan Negeri Cahaya begitu rupa? Mengapa nama seindah itu malah menjelma petaka? Aku tidak pernah mengerti.
Dan kini, ke mana para pengawal perdamaian semesta? Apakah aku dan keempat anakku harus terus berlari? Bersembunyi senantiasa selayak hewan buruan?
Aku pun selalu bertanya-tanya, di mana Penguasa Dunia? Apakah karena desaku sangat jauh sehingga dia tidak mampu menolongku? Padahal, kemarin kudengar Penguasa Dunia bersedih hati atas nasibku, dan mengutuk para pembunuh berdarah dingin yang berkeliaran di desaku. Satu yang kutahu, Negeri Cahaya adalah tanah yang miskin. Jika kau gali berkali-kali tanah desaku, tidak ada kau temukan apa pun kecuali debu dan batu. Air? Aku selalu membenci air. Karena air sanak kerabatku mesti meregang nyawa. Bukan. Bukan karena kehausan atau kekeringan. Tapi karena mesti bertempur untuk mendapatkannya. Dan, jika kau sedang sial, bisa saja kau jumpai ular berbisa.
Penguasa Dunia selalu kesulitan membantu negeri miskin seperti Negeri Cahaya. Sebaliknya, matanya berbinar-binar bila melayani Negeri Impian, di sebuah belahan dunia yang lain. Bukankah Penguasa Dunia mestinya bertindak adil karena dikukuhkan kekuasaannya oleh semesta? Karena besar harapan bumi terhadap titahnya? Entahlah.
Sialnya, waktu itu aku sedang hamil tua. Aku merasa sangat lelah. Mesti membawa badan bayiku di perut dan mengurus empat putraku yang semua kurus di tangan dan kaki, tetapi menggelembung di perut, dengan nanah menyenyeh di sekitar mulut, dahi, pangkal lengan, lutut, dan sela-sela jari kaki mereka. Lalat menyasar luka-luka itu. Warna putih luka seakan menghiasi kulit mereka yang legam. Seperti serangkaian pulau di air laut yang menghitam karena duka. Penyakit ini sejak lama diderita keempat anakku. Meski demikian, kami tetap saja bersuka-cita memakan akar tanaman yang keras dan liar lagi liat sebagai rutin, dan berkumpul saling menghangatkan diri di bawah pepohonan saat malam menjemput. Tidurpun bukan lagi lampias rasa lelah, hanya ketakutan yang berpendar-pendar.
Aku dan anak-anakku hidup dalam teror yang menjelma konstanta, menunggu pasukan Penguasa Cahaya atau saudara sendiri yang menyandang senapan seperti Tentara Rajawali Hitam yang menggenggam nyawa, menulis nasib, meremuk harap, menemukan kami dan pada akhirnya membunuh kami, begitu saja. Tanpa sebab. Tidak ada ruang untuk tanya.
Penguasa Cahaya dan milisi Tentara Rajawali Hitam tidak pernah lelah menyerang desaku. Entah sudah berapa banyak gubuk-gubuk beratap helai-helai daun yang berpilin dibakar-bakar, dan sumur-sumur warga dipenuhi puing-puing bangunan pecah, atau mayat-mayat. Ya, mayat.
Suamiku hilang dalam salah satu penyerangan. Pastilah sekarang sudah dibunuh. (Entah mengapa begitu ringannya mengucap bunuh, mayat, mati, bakar, cincang, tombak).
Kebanyakan warga desa lain menyelamatkan diri dengan masuk ke negara tetangga, Gerbang Keadilan, secara sembunyi-sembunyi atau mengandalkan kerabat. Pastinya tidak akan pernah diterima secara wajar oleh pemerintah setempat. Siapa pula yang mau negerinya dipenuhi pengungsi miskin? Penebar wabah penyakit pula.
Ada juga kemah-kemah pengungsi di bagian terluar Negeri Cahaya, yang entah disiapkan oleh siapa. Saat kesulitan melanda suatu kelompok, semangat komunal yang konstruktif biasanya memang muncul. Itulah pelarian orang-orang yang masih kuat berlari. Sedangkan yang lemah; anak-anak, orang jompo, atau orang sakit, harus terjebak dalam medan perang—entah perang siapa—dan tidak ada jalan keluar. Pada akhirnya hanya mati.
Termasuk aku, yang sedang hamil, tidak dapat berjalan, apalagi berlari, ke negara tetangga, sebuah perjalanan empat hari jika menunggang unta. Empat hari!
Aku adalah wanita hitam yang hanya bisa bersembunyi di balik perbukitan bersama empat anakku. Tapi, sekali lagi aku merasa beruntung karena ada seorang tetangga tua, yang pada akhirnya membantuku melahirkan anak yang kelima, di bawah pohon yang rendah. Aku berusaha menyusui anakku, tapi ternyata susuku sudah mengering, payudaraku mengeriput bak kayu tua, dan jadilah bayiku belulang berbalut kulit yang juga hitam, seperti nasibnya.
Aku dan tetangga tua sering berbagi cerita, biasanya setelah bayi kurusku terlelap tidur.
”Kami juga dikejar-kejar,” kata tetangga tua yang tinggal di Desa Karkalia, tidak seberapa jauh dari Ahraniya. ”Rumah kami juga dibakar,” lanjutnya (patutkah gubuk dengan sebuah lubang yang berfungsi sebagai pintu, dan beratap rumbai disebut rumah?). Dan kini aku dan dia sama-sama menjalani ketakutan. Ketakutan yang sepertinya muncul tiba-tiba. Bagai malaikat maut yang menyongsong. Dan tidak ada lagi yang bisa diperbuat kecuali ketidaktahuan yang abadi.
Kini Negeri Cahaya menjelma sepi, seperti kota hantu dalam cerita horor yang bukan lagi cerita, melainkan nyata. Orang-orang bersembunyi dari tentara Penguasa Cahaya dan milisi Tentara Rajawali Hitam yang merobek-robek desa dengan truk pick up. Lebih banyak antelop cantik ketimbang manusia di sana. Manusia takut pada manusia lainnya. Tidak ada pertemuan bila tidak saling kenal. Yang ada selalu degup jantung saat menjumpa sesama. Bukan getar cinta, melainkan rasa takut yang sangat.
Kata orang-orang, di Negeri Cahaya sedang terjadi perang segi tiga yang mengerikan. Penguasa Cahaya, milisi Tentara Rajawali Hitam, dan Tentara Pembebasan. Ketiganya berusaha saling bunuh. Tetapi anehnya, yang menjadi korban bukan dari ketiganya. Bodoh memang. Itulah mereka. Bengis, sudah pasti.
Tentara Pembebasan adalah sebenar-benar pembebas. Pembebas nyawa untuk berpisah dengan raga. Setali tiga uang dengan pembunuh lainnya. Politik yang menghancurkan. Kepentingan yang tidak pernah usai. Aku sendiri tidak pernah mengerti, dan tidak pernah mau mengerti.
Di salah satu penampungan di pinggiran Negeri Cahaya, aku menjumpai banyak orang dengan nasib serupa, tapi sama. Tidak ada perbedaan, hanya derita.
Di sudut area tenda-tenda penampungan, aku berjumpa dengan Hawa Mochtar. Matanya nyaris putih semua, mengapur, meski masih bisa melihat samar-samar. Kuperhatikan dia menyendiri, terpisah dari penghuni tenda lain. Sedih. Aku mendekatinya, menyapa. Pelan-pelan dia mulai lumer dan mulai berani bercerita padaku.
Ceritanya tidak kalah menyakitkan.
”Aku menyaksikan suamiku dibantai milisi Tentara Rajawali Hitam,” katanya.
”Di tengah kekacauan, desing peluru, dan sabetan parang membabi buta, api menyala-nyala menyelimuti gubuk-gubuk, aku dan anak-anakku berlarian menuju arah berbeda, sekenanya. Dan aku kehilangan anak perempuanku yang berusia empat tahun, dan anak laki-laki yang baru berusia dua tahun,” tandas Hawa. Sedih. Menangis.
”Beberapa hari kemudian, aku menemukan tubuh anak-anakku mengurus, kerontang, pecah, kehausan, mati.” Si kakak, lanjutnya, terlihat sedang memeluk adiknya ketika keduanya meregang nyawa. Insting melindungi itu tetap hidup. Cinta sesungguhnya masih ada. Meski pada akhirnya harus mati. Aku menangis mendengar cerita Hawa. Semua manusia memang patut menangis mendengarnya.
Mata Hawa kemudian menerawang. Menatap lurus namun lirih ke garis horison. Garis lurus yang memisahkan tanah dengan langit. Lalu melanjutkan episode sedihnya.
”Keluargaku dulu termasuk berkecukupan, jika tidak bisa dibilang kaya raya. Kami memiliki 100 ekor unta, 50 sapi, dan 150 domba yang gemuk-gemuk,” ujarnya. Dan sekarang dia seorang tunawisma, wanita gua tanpa uang. Dia hidup bersembunyi di bawah pohon-pohon yang jarang, di balik bebukitan, di mana pun tempat yang tidak terlihat manusia.
Di belahan bumi lain, ceritanya menjadi lain. Manusia-manusia yang merasa bersih leluasa mengacungkan jari telunjuknya. Memutuskan perang atas negeri orang lain. Ada seorang penguasa dari Negeri Impian yang katanya sudah berusaha melakukan apa yang perlu dilakukan. Dia selalu berjanji akan menghancurkan kejahatan di muka bumi. Memusnahkan poros-poros setan, termasuk di Negeri Cahaya konon kabarnya. Tapi sekarang dia dihadapkan pada pilihan yang sulit. Apa untungnya membantu negeri yang miskin? Adakah minyak dan emas di sana? Begitu tanyanya.
Untung dan derita memang tidak akan pernah bersahabat. Keduanya adalah sisi mata uang yang berdampingan, tetapi tidak akan pernah bertemu muka. Hanya membelakangi. Dan, Negeri Cahaya dan Negeri Impian adalah juga dua sisi mata uang itu.
Meski masih merasa beruntung, aku harus bersedih karena akhirnya anak kelimaku harus pula mati. Tetapi bukankah mati, bunuh, mayat, adalah hal yang sudah begitu biasa bagiku kini?

Sumber: Harian Sinar Harapan ,Kedoya

0 komentar:

Posting Komentar