Home | Berita Opini | Peta Wisata | Wisata Alam | Seni Pertunjukan | Wisata Belanja | Wisata Bahari | Wisata Budaya | Wisata Boga | Wisata Museum | Wisata Religi | Wisata Sejarah | Cerpen
Share/Save/Bookmark

Semusim Kesedihan

”When a man steals your wife, there is no better revenge than to let him keep her” (Sacha Guitry)

TOUCH down!” begitulah teriak wasit pada menit terakhir pertandingan. Itu memastikan USC-Trojans akhirnya menaklukkan UCLA-Bruins dengan angka tipis, 22-21.

Sorak-sorai luap kemenangan pendukung, membuat Coliseum seakan digetar gempa berpotensi tsunami. Tentara Troya menunggang kuda yang menjadi maskot, segera diarak keliling lapangan, diiringi lambaian dan kibaran logo-logo almamater. Nuansa merah kuning, warna pilihan kostum pemain, serentak menoreh kemegahan stadion. Menenggelamkan warna biru muda seragam lawan yang baru diempaskan.

”USC! USC! USC!” begitulah teriak menghentak-hentak, membahana menggetar hati seakan dilantunkan oleh paduan suara pasukan tempur tentara Barbar seusai meng­angkangi mayat-mayat musuh yang tewas bergelimpangan. Sementara, terompet dan genderang musik pengiring, menggema memekakkan telinga.

Kemeriahan suasana, juga diwarnai pekik cheer leaders yang bergairah menampilkan aksi. Juga berkelebat kaus-kaus penonton yang membiarkan para pemiliknya bertelanjang dada.

Sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa. Aku salah satu di antaranya.

Kemenangan itu sekaligus menghapus kekesalan dan rasa malu, saat USC kecolong­an dipecundangi oleh helikopter yang pada tengah malam menjatuhkan cairan cat mengguyur patung perunggu tentara Troya, yang berada di depan Perpustakaan Doheny. Kejadian kreatif itu sungguh tak terduga, membalas psywar USC, yang berhasil mendatangkan pasukan pemadam kebakaran menembus masuk kampus UCLA, disertai marching band yang menghadirkan canda dan ejekan dengan musik-musik gaduh bernada suara sumbang.

Tak ada yang lebih menggembirakan daripada mengalahkan lawan, yang menjadi seteru nomor satu. Jika itu dapat dilakukan, mengenang peristiwa yang paling membanggakan, perayaan dengan pesta meriah akan terlihat di mana-mana.

***

SEKELOMPOK mahasiswa pascasarjana program IBEAR dari Business School, telah merencanakan untuk merayakan kemenangan di atas yacht milik Ralph Kursen, yang tambat di dock Bali Way, Marina Del Rey. Kapal pesiar sepanjang kira-kira 60 feet itu bernama ”Cheetah”.

Hanya aku dan Pat Singnarong yang tak disertai pendamping. 12 peserta lain muncul berpasang-pasangan. Kepada mereka kuterangkan, bahwa istriku harus kembali ke Indonesia untuk mengurus anak-anak. Sementara Pat Singnarong, mahasiswi termuda dari Thailand, semua sudah tahu, dia masih melajang. Charles Chang asal Taiwan, mahasiswa tertua di kelas, yang paling ramah menyapa, sedang yang lain, asyik mengulur salam take five, bersemangat membenturkan telapak tangan dengan kawan-kawan yang baru tiba.

Ternyata, yang datang, hampir lengkap mewakili negara-negara Asia Tenggara. Hanya tuan rumah yang bukan. Karena Ralph berasal dari Aljazair dan Louise Montaville, istrinya, warga negara Amerika keturunan Prancis.

Seperti biasa saat merayakan kemenangan, pesta diawali dengan bersulang. Ralph memimpin dengan mengajak peserta meng­angkat gelas berisi champagne, lalu mengucapkan, ”For our love to American football and the glory of USC 1). For our health, success and prosperity!” 2). Cheers! Denting-denting gelas pun kemudian bersautan dan cairan-cairan dingin, bening keemasan, lalu tergelincir menelusuri lidah-lidah yang mereguk lembut berkali-kali.

Dari belakang Louise terlihat menghampiri, merangsuk dan kemudian bertepuk tangan.

***

ANGIN yang galak menyapu pantai, saat Los Angeles diliput kegelapan yang muncul lebih awal, membuat suasana makin hangat. Sebab, kedinginan yang kemudian datang membalut, memaksa peserta berkumpul di ruang tengah. Mereka hanya berada di luar saat akan memungut santapan di atas alat pemanggang karena, perangkat barbeque berada di geladak buritan.

Di lambung kapal, pembicaraan terasa akrab karena dilakukan dalam jarak dekat. Aroma champagne yang beredar di antara napas, tawa, dan cengkerama, yang mengantar cicipan renyah aneka cocktail, berangsur digantikan sensasi koleksi klasik wine-wine yang langka, mendampingi santapan menu utama.

Pembicaraan yang semula tak lepas dari kehebatan Marcus Allen, running back yang berpeluang menjadi atlet terbaik untuk meraih Heisman Trophy, kemudian bergeser pada topik terkait business yang mereka geluti. Maklum, sebagai eksekutif yang dikirim perusahaan untuk studi lanjutan, sekaligus mengembangkan kemampuan dan wawasan, otak mereka lebih banyak dijejali persoalan seputar profesi. Akhirnya mereka terlihat penat, kemudian berpencar menjadi kelompok-kelompok kecil, yang santai berdiskusi sebatas kesamaan kesenangan dan hobi.

***

GERAH berada di ruang tengah, aku menyeruak keluar untuk menghirup udara segar. Angin yang melemah dan dengan tubuh telah dirasuki alkohol, membuat dingin tak lagi menggigit. Bahkan terasa kesejukan perlahan menjamah.

Saat itulah kudapati pemandangan yang menggetarkan perasaan, yang lahir dari keka­guman akan keindahan seorang perempuan. Perempuan itu dengan anggun bercakap sambil menggerakkan tangan membuat tingkahnya makin menawan.

Dalam temaram anjungan kapal, berlatar ambang pandang lautan, kecantikannya terlihat memancar. Pakaiannya sederhana, tetapi terkesan mahal. Ia hanya mengenakan baju satin putih, berselubung jaket kulit lembut berlengan ketat. Aksesori paling menonjol yang terpasang berupa gelang pinggang bermerek Channel melingkar di bagian atas celana gelap corduray yang ujungnya menjuntai ke bawah. Telapak kakinya yang beralaskan sepatu suede hitam berujung tajam dan bertumit jenjang menukik tampak menghadirkan kombinasi serasi.

Betapa bahagia Ralph dapat memiliki istri secantik itu, pikirku. Tetapi pantaslah dia mendapatkannya. Selain tampan dan bertubuh atletis, sebagai mantan pemain tennis junior terbaik Afrika, sebagaimana istrinya, dia juga berasal dari keluarga kaya. Tak mengherankan jika mereka berdua tinggal di kawasan mewah Beverly Hills.

Otak binalku akhirnya mengendap-endap, kemudian melesat dari kurungan kesopanan. Kurentang imaji, membayangkan Lousie menggelinjang terpuaskan saat sepanjang malam tubuhnya kubelai dan kubuai. Pasti ketika pagi meregang dekapan yang masih erat merapat, dia akan memanjakan tangannya yang tak ingin lepas dari pelukan, kemudian membenamkan wajah di dadaku dan lalu berucap, ”Terima kasih, Sayang.”

Seakan khayalku membuatnya gelisah, sehingga terlihat ia seperti ingin cepat-cepat menutup pembicaraan. Jantung serasa berhenti berdegup, saat dia kemudian datang menyapa, ”Hai, kamu baik-baik saja?”

”Tentu, aku baik-baik saja.”

”Kamu kelihatan hebat malam ini Lousie,” aku melanjutkan dan melempar sanjungan.

”Oh, terima kasih. Aku sungguh tersanjung,” Louise terlihat bangga.

Mungkin jika tidak bercadar malam, akan terlihat sapuan ceria yang akan memerahkan pipinya.

”Kamu pasti sedih, setelah The Bruin dikalahkan Trojans. Aku yakin pasti kamu mengharapkan hasil sebaliknya, iya kan?”

”Jujur saja, iya. Kalau aku laki-laki, pasti akan sangat-sangat kesal dan marah!” Lousie membelalakkan mata dan mengepalkan tangan. ”Tapi oke, itu kan hanya permainan. Segera kesedihan pasti akan hilang.”

Tingkahnya makin memesona.

”Dalam waktu dekat, aku akan ikut pesta di lapangan basket menyaksikan kalian mera­tap­ dengan tangisan,” dia terlihat serius mengarahkan telunjuknya tepat di depan mataku.

”Tapi pestanya tidak akan sebesar yang kami lakukan sekarang, saya kira,” aku mengingatkan.

”Ya. Ya. Ya. ‘Soccer’ akan tetap olah raga idola terbesar.”

***

LOUISE sedang mempersiapkan tugas untuk mengakhiri kuliah Undergrade Management di UCLA. Ini adalah major ke dua, setelah Liberal-Art diselesaikan sebelumnya. Aku baru mengetahuinya saat kutanyakan kepada Ralph, mengapa dia tidak ikut bersulang. Untuk itu, tentu teman-teman pun memaklumi. Tak mungkin dia merayakan kekalahan team sekolahnya. Tetapi dengan bersedia datang, dia telah menunjukkan kebesaran jiwa. Mungkin itu juga yang menambah kesan anggun dirinya.

Ralph sangat energik dengan tingkat kepandaian sebagaimana rata-rata mahasiswa. Seperti Richard Tan yang masih mengurusi usaha memasok plastik dari mainland China ke beberapa Asian Super Market, Ralph juga sibuk dengan pengelolaan jaringan gerai pompa bensin, yang merupakan salah satu investasinya di Amerika. Berjam-jam dia sering menggunakan telepon di apartemenku untuk menghubungi orang-orangnya yang tersebar di beberapa kota, seperti Bakersfield, Palm Spring dan Sandiego. Tentu kemudian bill-nya akan dia bayar sesuai print out yang kuterima dari Bell Telephone Company.

Saat dia sibuk bercakap di telepon, jari-jari tanganku asyik mematuk abjad-abjad mesin ketik IBM untuk menyelesaikan pembuatan makalah, yang merupakan tugas kelompok dari mata kuliah International Financial Management. Walaupun dia tidak ikut mengetik, tetapi banyak memberikan pandang­an tentang wawasan dan rumusan permasalahan, yang kemudian akan kurangkum dalam sebuah tulisan.

Pembuatan makalah sangat menyita waktu. Padahal kesempatan yang tersisa juga terbatas, setelah direnggut pelajaran lain yang berjadwal ketat, sebagai bagian program pendidikan magister yang harus ditempuh hanya dalam setahun.

Dimulai dari pukul enam sore, tak terasa tulisan yang belum selesai diedit, baru mendekati rampung setelah kegelapan menyusup tengah malam. Pat Singnarong, anggota ketiga dari kelompokku, telah pulang sebelum makan malam. Kuizinkan dia pergi, daripada aku harus mendengar omelan dan keluh kesah karena mobilnya diserempet kendaraan pemuda kulit hitam. Selain itu, aku merasa kasihan, dia pulang malam terus-terus­an. Apalagi dia telah menjalankan tugasnya, memberikan kontribusi dengan menyampaikan bahan-bahan referensi yang dipetik dari perpustakaan.

Biasanya, selesai belajar dan mengerjakan tugas bersama, jika malam telah terlalu larut, Ralph akan tidur di apartemenku. Tentu untuk itu dia akan memberi tahu istrinya terlebih dahulu. Mungkin karena merasa sulit terlelap, tiba-tiba dia berubah pikiran dan ingin pulang ke rumah. Aku cegah dia dengan bercanda, ”Kenapa kamu mau pulang Ralph? Kamu takut istrimu akan tidur dengan orang lain?”

Seolah tak mendengar atau barangkali karena kesal, dia terus saja berjalan dipagut kelelahan. Tetapi kulihat, sepertinya dia sedang menyembunyikan perasaan dan firasat yang kurang menyenangkan. Terkesan akhir-akhir ini dia menyadari telah melakukan banyak kegiatan yang membuat istrinya selalu kesepian. Sebagai pasangan muda, hal itu tak seharusnya dia lakukan.

Belum sepenuhnya makalah kuselesaikan, saat sejenak istirahat, aku tertidur. Tetapi tak lama kemudian tiba-tiba terjaga, saat kudengar bunyi benda keras menghantam kaca jendela. Kulongok dari singkapan korden, terlihat Ralph hendak melempar botol yang dipungut dari rumput di samping pedestrian. Mungkin botol itu yang baru saja meretakkan kaca apartemenku.

Terlihat dia seperti mabuk, matanya garang, tengadah memandangi jendela kamarku sambil mengumpat, ”Haram jadah, kau!”

Jika aku tak berteriak dan membentak, ”Ralph apa yang kamu kerjakan?” pasti botol itu akan melayang lagi.

”Tunggu!” teriakku.

Segera aku lari menuruni tangga dan meng­ajaknya masuk. Sebentar dia berontak, tetapi kemudian sadar tak layak berada di luar. Di sofa dia hanya duduk lemas menunduk, memegangi kepala, sambil terus meremas-remas rambutnya.

”Bagaimana kamu tahu kalau Louise sedang tidur dengan seseorang?” Ralph membuka pembicaraan.

”Apa?” aku terkejut.

Ralph lalu menatapku sambil bersuara keras, secara perlahan-lahan tapi tegas, ”Bagaimana-kamu-tahu-kalau-Louise-seling­kuh?”

Melihatku ternganga, tak jelas mengerti yang dikatakan, kemudian dia melanjutkan, ”Aku pergoki dia tidur dengan seseorang,” suaranya makin melemah dan seakan dia sedang meratap.

”Oh, maaf. Aku hanya bercanda tadi. Sumpah. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan dia, Ralph. Mungkin karena...,” aku tak melanjutkan perkataan.

”Karena, apa?” Ralph mendesak.

Aku terdiam dan tak ingin melanjutkan.

”Apa?!” Ralph menjadi penasaran dan terlihat memaksa.

Aku akhirnya terpaksa mengatakan, ”Karena...aku dapati istriku sedang jatuh cinta dengan orang lain.”

Melihat dia hanya bungkam, aku meneruskan, ”Jadi secara tidak sadar, aku selalu merasa setiap wanita akan melakukan hal yang sama ketika dia kesepian.”

Ralph seperti tak percaya dan kemudian melontar pertanyaan, ”Kamu jauh dari dia. Ya, kamu berada di tempat yang jauh sekali dari istrimu. Bagaimana kamu mengetahuinya? Dia membuat pengakuan, atau apa?”

Kubuka laci yang berisi surat-surat kaleng yang aku tahu siapa pengirimnya. Kutunjukkan dan kemudiaan kujelaskan, ”Surat-surat ini yang mengatakan ... ”

Ralph seperti keheranan dan tak dapat mempercayai.

”Kamu serius?”

”Iya, aku sangat serius...”

”Jadi, apa yang akan kamu lakukan terhadap istrimu?”

”Pura-pura nggak tahu apa yang telah terjadi sehingga hal itu tak berpengaruh pada pelajaranku.”

”Dan kemudian?”

”Bercerai, sesudah kembali.”

”Aku nggak perlu cerai!” Ralph seperti menyatakan sikapnya.

”Bagus. Kalau itu pilihan kamu.”

”Hanya berpisah.”

”Apa bedanya?”

”Kami belum menikah. Hanya hidup bersama.”

”Oh. Begitu toh. Lebih sederhana dong.”

”Aku tahu, dibanding kamu. Kamu punya banyak anak ... Ya, Tuhan!” ia pandangi foto anak-anakku.

Dalam kesedihan Ralph ternyata masih sempat menyampaikan kepedulian kepada kawan.

”Aku takut, akan sangat kehilangan dia nantinya. Sebenarnya dia seorang wanita yang sangat menyenangkan.”

”Ah, hanya sebentar. Kamu laki-laki. Laki-laki sejati, iya kan?” kusampaikan kata-kata itu untuk membangkitkan semangat dan kepercayaan diri. Padahal aku merasakan, bagaimana dia akan sangat kehilangan. Ralph tercenung terlihat seperti sedang bergulat dengan pikiran dalam lamunan.

”Omong-omong, kamu yakin Louise melakukan itu?” kataku untuk mendapatkan kepastian, karena mungkin, jangan-jangan ... .

”Aku pergoki bekas pacarnya ada di sana. Tidur di sofa dengan Louise,” Ralph memastikan.

Tetapi menghindari terjadi keributan, dia cepat-cepat meninggalkan Louise yang sedang terlelap berdua dengan laki-laki yang diduga sebagai bekas pacarnya.

Seketika aku membayangkan istriku, yang sedang tiduran dengan kekasihnya di atas sofa rumahku. Bedanya, tidak seperti Ralph, aku dapat memahami dan merasa bersyukur serta merelakan apa yang dilakukan. Karena dengan begitu aku akan berkesempatan mendapatkan Secunda, gadis yang selalu kuimpikan, akan menjadi istriku.

Selain itu, jika perselingkuhan istriku terus berlanjut, dia kemudian akan menikah dan hidup bersama dengan teman dekatku, kawan satu almamater waktu kuliah di ITB Bandung. Jadi aku tak perlu khawatir, karena anak-anakku akan berada dalam asuhan tangan yang bertanggung jawab, sedangkan Ralph, merasa terinjak-injak harga dirinya, karena dikhianati seorang wanita dan dikalahkan oleh seorang pria —berasal dari perguruan tinggi yang menjadi seteru USC nomor satu. Pasti hal itu dirasakan sebagai sebuah kekalahan yang amat sangat menyakitkan, seperti dalam football, di detik terakhir pertandingan, menyaksikan lawan meraih kemenangan dengan melakukan touch-down. ***

Catatan:

1) Untuk kecintaan kita pada sepak bola Amerika dan keagungan USC.

2) Untuk kesehatan, sukses, dan kemakmuran kita.

Sumber: www.sriti.com

0 komentar:

Posting Komentar