Home | Berita Opini | Peta Wisata | Wisata Alam | Seni Pertunjukan | Wisata Belanja | Wisata Bahari | Wisata Budaya | Wisata Boga | Wisata Museum | Wisata Religi | Wisata Sejarah | Cerpen
Share/Save/Bookmark

Adityawarman, Raja Agung dari Sumatera

Panggung sejarah Sumatera segera mencuat ke permukaan ketika raja Sri Jayanasa menyuruh membuat prasasti Kedukan Bukit, bertarikh 682 M untuk memperingati ekspedisinya yang luar biasa selama dua bulan hingga menguasai atau kembali ke Palembang, yaitu tempat ditemukannya prasasti tersebut.

Di persada Nusantara ini panggung sejarah tertua dimulai di Kutai, Kalimantan Timur. Di sana ditemukan tujuh prasasti beraksara Pallawa dan bahasa Sanskerta, diantaranya menyebutkan nama raja Mulawarman berayah Aswawarman dan berkakek Kudungga. Prasasti ini berasal dari awal abad ke 5 M. Selanjutnya di daerah Bogor, Jawa Barat muncul kerajaan Tarumanegara dengan rajanya bernama Purnawarman. Prasasti Ciaruteun (di Bogor) dan Tugu (di Jakarta) yang beraksara Pallawa dan berbahasa Sanskerta ini berasal dari pertengahan abad ke 5 M. Di abad berikutnya panggung sejarah kosong dan baru abad ke 7 M kerajaan Sriwijaya mengisi panggung sejarah Nusantara.

Kronologi Raja-Raja di Sumatera
Dalam abad ke 8 M, berita Cina menyebutkan bahwa raja Sriwijaya bernama Che-li-to-lo-pamo, kemudian ada lagi raja Lieou-teng-wei-kong. Di abad ke 9 M muncul nama raja Balaputradewa dari Suwarnabhumi (dimaksudkan Sriwijaya) dalam prasasti Nalanda di Benggala (India). Nama Balaputra juga disebut dalam prasasti Ligor di Nakorn Sitammarat di Thailand selatan. Di abad ke 10 M terjadi kekosongan, di abad ke 11 M muncul beberapa raja yang berkuasa di Sumatera, yaitu:
- Cudamaniwarman (1003-1006 M)
- Marawijayatunggawarman (1006-? M)
- Sanggramanwijayotunggawarman (?-1024 M)

Dalam abad ke 12 M tidak ada nama raja Sumatera tetapi dalam abad ke 13 muncul nama raja Tribhuwanawaja Mauliwarmadewa; namanya disebut dalam prasasti Amoghapasa yang mencatat pemberian hadiah arca dari raja Kertanagara di Jawa Timur kepada raja Melayu pada tahun 1286 M. Limapuluh tahun kemudian barulah mencuat nama Adityawarman yang dicatat dalam prasasti Candi Jago di Jawa Timur, tahun 1343 M.

Adityawarman Raja Melayu
Adityawarman belajar di Majapahit karena masih ada hubungan antara Melayu dengan Majapahit (kelanjutan dari Singasari dan sangat mungkin ada hubungan darah dengan keluarga raja Majapahit).

Menurut kitab Pararaton ada dua puteri Melayu dikirim ke Singasari, yaitu Dara Jingga dan Dara Petak. Dara Petak dikawin oleh Raden Wijaya sedangkan Dara Jingga dikawin oleh seorang pangeran Majapahit lalu beranak laki-laki dan menjadi raja di Melayu. Raja inilah yang diduga identik dengan Adityawarman. Dalam prasasti Candi Jago tersebut Adityawarman juga mengaku masih bersaudara dengan raja Tribhuwana (ratu Majapahit).

Di Sumatera Adityawarman mengeluarkan prasastinya di daerah Pagarruyung bertahun 1347 M dan pada prasasti Amoghapasa di Padang Candi (perbatasan Jambi) dengan tahun yang sama. Pada prasasti Kubu Rajo I Adityawarman menyebut nama ayahnya bernama Adwayawarman. Prasasti Kubu Rajo I ini pada tahun 1987 pernah hilang selama enam bulan. Selanjutnya Adityawarman menyebutkan nama adiknya ialah Anggawarman dalam prasasti Suroaso II (tanpa angka tahun, diduga sekitar tahun 1350 M.

Di Kubu Rajo ada dua batu bergambar, satu bergambar bunga matahari (oleh penulis ditafsirkan sebagai lambang angka tahun 1273 Saka atau 1352 M) dan gambar kura-kura (oleh penulis ditafsirkan sebagai lambang angka 1261 Saka atau 1339 M).

Semantara itu ada sekumpulan prasasti dari raja Adityawarman disimpan di Pagarruyung. Di antara prasasti yang penting ialah prasasti Bukit Gombak II berangka tahun 1278 S (dari candrasangkala “wasur muni bhujasthalam”) atau tahun 1356 M. Pada tahun ini ia mendirikan sebuah wihara yang lengkap dengan segala alat yang dibutuhkan orang. Pada prasasti Suroaso I ia ditahbisakan sebagai pengikut ajaran ksetrajna dengan nama Wisesadharani disertai taburan jutaan bunga wangi pada tahun 1297 S (daru Suryasangkala “bhuh karnne nawa darsane”) atau tahun 1375 M. Sesudah tahun ini tidak ditemukan prasasti berangka tahun yang lebih muda.

Pejabat Pemerintahan
Sebuah prasasti yang terpotong di bagian atas dan bagian bawah ditemukan di Ombilin di tepi danau Singkarak. Prasasti ini isinya agak aneh. Adityawarman justeru mengaku bukan orang bangsawan dan bukan orang pandai, melainkan ia bertindak selaku bangsawan. Prasasti ini juga bertulis kara “swahasta likhitam” yang artinya “ditulis dengan tangan sendiri”. Ini janggal karena prasasti dipahat oleh tukang pahat yang bergelar “citralekha”. Mungkin Adityawarman yang membuat konsep prasasti ini.

Pada prasasti Amoghapasa tahun 1347 M disebutkan bahwa ada pejabat bernama Dewa Tuhan Parpatih menjadi pemegang pemerintahan yang terkemuka dari raja Adityawarman. Nama Tuhan Parpatih muncul lagi dalam prasasti Pagarruyung II dengan nama lengkap Tuhar Parpatih Tudang. Prasasti ini juga menyebut seorang maharaja bernama Akarendrawarman; mungkin ia adalah kakak Adityawarman. Nama Tuhan Parpatih yang masyhur ini tetap terpatri dalam tambo-tambo Minangkabau dengan sebutan Tuhan Parpatih Nan Sebatang dan seolah-olah menjadi cikal bakal masyarakat Minang.

Raja Agung
Wilayah kekuasaan Adityawarman meliputi Riau daratan dan Sumatera Barat, khususnya di daerah Kabupaten Tanah Datar di sekitar kota Batusangkar. Prasastinya tersebar di Danau Singkarak di selatan hingga ke Lubuklayang di dekat kota Lubuksikaping, sekitar 50 km, sebelah utara Bukittinggi. Adapula yang berpendapat bahwa candi-candi di daerah Padang Lawas di Kecamatan Gunung Tua, Kabupaten Tapanuli Selatan juga merupakan peninggalan jaman Adityawarman dengan alasan bahwa latar belakang keagamaannya sama dengan Adityawarman.

Adityawarman menjalin kerjasama dengan Ratu Tribhuwanatunggadewi di Majapahit dan bekerja sama dengan Mahapatih Gajah Mada. Ketika ada ekspedisi ke Bali pada tahun 1343 M Adityawarman juga membantu Gajah Mada. Kedua tokoh besar ini sama-sama beragama Budha dan menjalin aliansi politik untuk menangkal pengaruh dari utara (Cina) karena Cina selalu berambisi menguasai daerah selatan sejak ekspedisinya ke Jawa pada akhir abad ke 14 M. Di Sumatera Adityawarman mengembangkan ajaran agama Buddha Mahayana dan menokohkan diri dengan pembuatan patung Bhairawa (sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta).

Wihara dan sarana pemujaan agama serta peringatan-peringatan keagamaan dilakukannya dan direkam dalam prasastinya yang berjumlah 20 prasasti. Ia juga menobatkan putra-putranya sebagai raja muda. Ananggawarman disebut dalam prasasti Suroaso II dan Bijayendrawarman dalam prasasti Lubuklayang. Sementara itu pemerintahan sehari-hari ditangani oleh perdana menteri Tuhan Parpatih.

Akhir Masa Adityawarman
Pemerintahan seorang raja berkaitan dengan kepercayaan atau agama yang dianutnya. Secara evolusi agama Islam mulai masuk ke daerah Barus (utara Sibolga) pada abad ke 7 M. Perlahan tapi pasti agama ini makin berkembang pada abad ke 13 M. Islamisasi sudah merata di wilayah Aceh. Pada abad ke 14 M pengaruh agama Islam terus menggeser ke selatan melalui Samudera Pasai memasuki Sumatera Utara, Riau dan terus ke Sumatera Barat yang bersamaan dengan arus Islamisasi dari utara yang melalui pantai barat Sumatera. Tanpa terjadi perang yang berarti, generasi sesudah Adityawarman telah berganti agama dan kebudayaan, yaitu Islam.

Dengan demikian Adityawarman sebagai raja agung hanya berkuasa selama 32 tahun, dari 1343 hingga 1375 M sesuai dengan keterangan prasasti batu yang sampai kepada kita. Sebagai penelitia dan pecinta sejarah, kehadiran Adityawarman dalam panggung sejarah Sumatera sangat berkesan dalam anggapan kami.

Sejarah masa lalu adalah sejarah kita bersama yang tidak boleh dicoret atau dibuang karena berlainan agama. Apa pun keadaannya, Adityawarman adalah juga salah satu nenek moyang bangsa Indonesia yang harus kita hargai karena ia adalah pahlawan besar yang mempertahankan dan menangkal pengaruh Cina ke Sumatera pada zamannya.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1991. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

0 komentar:

Poskan Komentar