Home | Berita Opini | Peta Wisata | Wisata Alam | Seni Pertunjukan | Wisata Belanja | Wisata Bahari | Wisata Budaya | Wisata Boga | Wisata Museum | Wisata Religi | Wisata Sejarah | Cerpen
Share/Save/Bookmark

Masyarakat Jawa Pedesaan Menurut Layang Sri Juwita


Setidak-tidaknya menurut pandangan orang Jawa sendiri, kebudayaan Jawa bukan merupakan salah satu kesatuan yang homogen (Koentjaraningrat). Kesadaran akan keanekaragaman budaya yang bersifat regional didasarkan atas perbedaan lingkungan alam; pedalaman dan pesisir, perkotaan dan keraton, yang masing-masing memiliki corak kebudayaan yang berlainan. Berdasarkan kenyataan ini, penyusun kitab Layang Sri Juwita secara jujur mengungkapkan situasi kehidupan masyarakat Jawa pedesaan yang cenderung masih terbelakang. Pengungkapan terhadap sisi kehidupan yang tidak menjanjikan harapan masa depan ini bukan dimaksudkan untuk melecehkan budaya Jawa yang secara umum telah diakui keluhurannya, melainkan justeru dimaksudkan sebagai upaya mencari pemecahan dan jalan keluar sehingga masyarakat pedesaan mampu mengangkat martabatnya sebagai layaknya saudara-saudaranya di perkotaan.

Dalam masalah pendidikan anak, penduduk desa cenderung mewariskan kepandaian yang di dapat dari kedua orang tuanya kepada anak-anaknya tanpa usaha memperbaiki atau menyempurnakannya seperti tertera pada kutipan berikut ini.

Anak perempuan yang disuruh menjaga adiknya, tidak mengerti sama sekali cara bagaimana menjaga adik asuhnya. Jadi yang dilakukan juga yang sudah diketahuinya dari ibunya, kalau lapar disuapin, kalau buang air besar dicebokin, kalau menangis ditimang-timang, kalau diam dibiarkan saja, hanya itu saja. Anak kecil yang berada di tempat kotor, merangkak di tempat yang mengkhawatirkan, apalagi bermain yang membahayakan, itu sudah tidak diperhatikan sama sekali…Apa yang dilakukan oleh ibunya itulah yang diturut oleh anak tadi, tidak benar dan tidak baik, karena itu semua anak-anaknya juga tidak ada yang baik (13).

Di samping tidak ada upaya memperbaiki atau menyempurnakan segala sesuatu yang telah diterima dari kedua orang tuanya, sikap orang tua yang cenderung negatif terhadap manfaat pendidikan formal di sekolah semakin menyebabkan kemunduran tatacara hidup penduduk pedesaan. Orangtua beranggapan bahwa pendidikan formal di sekolah akan menyebabkan anak perempuan tidak mau mengerjakan tugas rumah tangga, bahkan akan bersikap berani terhadap suami kelak. Apa yang dialami dan dilakukan oleh anak perempuan juga dialami dan dilakukan oleh anak laki-laki. Orang tua sudah merasa puas jika anak laki-lakinya pandai menggembala ternak.

Anak laki-laki yang sudah agak besar, umurnya sepuluh tahun atau sebelas tahun, ada yang menjadi penggembala ternak milik orang lain, yang dalam beberapa tahun dapat memperoleh anak lembu. Menurut pendapat orang tuanya, anaknya tadi sudah hebat dan rajin (11).

Setelah dewasa anak laki-laki bekerja di sawah dengan bekal pengetahuan pertanian yang minim sekali. Mereka cenderung menutup diri sehingga sulit menerima dan mengembangkan hal-hal yang baru demi kemajuan usaha pertaniannya itu. Demikian pula sikap mereka dalam berdagang. Mereka enggan melangkah surut jika melakukan kesalahan strategi sehingga usaha dagang yang mereka tekuni itu akhirnya mengalami kerugian dan akhirnya gulung tikar. Akan tetapi anehnya dengan kondisi ekonomi keluarga yang relatif rendah, mereka tetap memegang tradisi yang telah diajarkan oleh kedua orang tuanya, yaitu melakukan upacara adat, seperti upacara tujuh bulan, upcara puser, dan upacara sedekahan bagi keluarga yang sudah meninggal dunia. Yang semuanya itu menghabiskan biaya yang cukup besar. Akibatnya mereka semakin tidak mampu merawat anak-anaknya secara layak.

Tata cara hidup yang dilakukan oleh masyarakat Jawa pedesaan, yang tampaknya sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman. Sehubungan dengan penyusun kitab Layang Sri Juwita merasa terpanggil untuk memperbaiki tata cara hidup, yang ternyata merugikan pemakainya itu. Selain itu tata cara hidup yang dianut oleh penduduk Jawa pedesaan dapat dianggap sebagai hal yang paradoksal dengan kebudayaan masyarakat Jawa, terutama yang dianut oleh masyarakat Jawa perkotaan dan keraton.

Untuk memperbaiki keterbelakangan penduduk Jawa pedesaan penyusun itab Layang Sri Juwita mengajukan beberapa konsep yang dapat disarikan sebagai berikut:
1. Untuk mengatasi kebodohan, orang tua hendaknya menyekolahkan anaknya di sekolah formal.
2. Sebagai seorang suami, yang berkewajiban memimpin, laki-laki yang telah berumah tangga hendaknya tidak segan-segan memberi nasihat kepada isterinya agar berperilaku baik.
3. dalam menasihati isteri, suami hendaknya menggunakan bahasa yang lembut, bahkan jika mungkin menggunakan bahasa kias.
4. Pemberian contoh untuk bersikap dan berperilaku yang terpuji mutlak diberikan oleh suami. Nasihat yang bersifat teroritis tanpa disertai praktek tidak akan ada manfaatnya.
5. Sesuai dengan kodratnya sebagai wanita, yang berfisik lemah, seorang isteri memerlukan perlindungan fisik maupun perlindungan batin.

Berdasarkan kenyataan yang terpapar pada kitab Layang Sri Juwita, dapat disimpulkan bahwa sikap nrimo yang dilakukan oleh penduduk pedesaan itu merupakan sikap nrimo yang negatif. Dalam budaya Jawa, sikap nrimo memiliki pengertian dan penafsiran yang luas. Seseorang, sebagai makhluk Allah, harus tetap berusaha dan berdoa semaksimal mungkin. Setelah hal itu dilakukan, yang bersangkutan harus tabah menerima apa pun yang ditakdirkan oleh Allah kepadanya. Selain itu sebagai anggota masyarakat dunia, mereka selayaknya terbuka dan bersedia menerima pembaruan dengan tanpa meninggalkan identitas yang telah dimiliki.

Sumber :
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1992. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara IV. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

0 komentar:

Posting Komentar