Home | Berita Opini | Peta Wisata | Wisata Alam | Seni Pertunjukan | Wisata Belanja | Wisata Bahari | Wisata Budaya | Wisata Boga | Wisata Museum | Wisata Religi | Wisata Sejarah | Cerpen
Share/Save/Bookmark

Minim Dana Promosi, Pariwisata Indonesia Ditinggal Malaysia

By Republika Newsroom

Denpasar - Kegiatan pariwisata Indonesia yang sempat menjadi pionir pariwisata di Asia, kini tertinggal dari negara-negara tetangganya. Bahkan kata Direktur Usaha Pariwisata Departemen Budaya Pariwisata, Winarno Sudjais, pariwisata Indonesia kini tertinggal jauh oleh pariwisata Malaysia.

"Mereka sangat gencar berpromosi, sementara anggaran kita untuk itu sangat kecil," kata Winarno di Denpasar, Kamis (17/7).

Di sela-sela acara Konferensi Ekotourisme Forum for East Asia-Latin America Cooperation (FEALAC) kemarin, Winarno menjelaskan, selain anggaran, komponen pariwisata Malaysia aktif berpromosi dengan menggunakan media Informasi dan Teknologi (IT). Sehingga lanjutnya, wisatawan bisa dengan mudah mendapatkan informasi tentang Malaysia dimana juga mereka berada.


Tapi dalam soal target kunjungan wisatawan kata Winarno, kendati masih tertinggal dari sejumlah negara di Asia, Indonesia optimis mencapai target kunjungan wisatawan sebanyak 7 juta wisatawan pada 2008. Hingga saat ini jelasnya, pertumbuhan kunjungan wisatawan ke Indonesia meningkat lebih dari 12 persen dalam triwulan terakhir dan peningkatan itu diharapkan lebih besar lagi pada triwulan berikutnya.

Bali dan Batam jelas Winarno, menjadi andalan untuk mencapai target angka kunjungan wisatawan itu. Apalagi terangnya, pada bulan Juni hingga Desember merupakan peak seasson, dimana wisatawan asing telah menjadwalkan perjalanan wisatanya. "Kita optimis, bisa mencapai angka tuuh juta," katanya.

Hanya saja lanjutnya, agar bisa mencapai target itu, seluruh komponen pariwisata di Indonesia harus bekerja keras, termasuk terus meng-update materi-materi promosi.

Saat ini terang WInarno, ada perubahan kebiasaan masyarakat internasional dalam melakukan kegiatan wisata, yang lebih banyak mengarah kepada minat-minat khusus, seperti mengajak kembali kepada alam. Kalau materi promosi masih tetap seperti dulu, seperti menonjolkan tarian tradisional, maka daya tariknya menjadi kurang.

"Seharusnya, materi promosi juga diubah, dengan mengedepankan atraksi wisata yang semangatnya back to nature. Jangan materi promosinya tetap seperti dua atau tiga tahun lalu, akanketinggalan," katanya.

Konferensi Ecotourisme FEALAC, diikuti 33 negara dari kawasan Asia Timur dan Amerika Latin. Sebanyak 200 orang delegasi yang hadir, merupakanpara praktisi pariwisata, pengamat dan kalangan LSM bidang pariwisata.

Menurut Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Depbudpar, Firmansyah Rohim, Konferensi tentangeko tourisme itu sangat bermanfaat bagi Indonesia, yang memiliki potensi yang sangat besar dalam bidang eko turisme. Menurut dia, Menbudpar dan Menhut sudah membuat MOU, yang isinya antara lain memuat kesepakatan tentang bagaimana menyelaraskan kepentingan pariwisata dan pelestarian lingkungan.

Dikatakannya, jika pengelolaan lingkungan dan pariwisata sejalan, maka dampak-dampak negatif akibat pengembangan pariwisata itu dapat ditekan sekecil mungkin. "Selama ini belum ada laporan kalau lingkungan rusak karena pariwisata, karena komponen pariwisata meras perlu melestarikan lingkungan untuk dijual sebagai sebuah paket wisata," katanya. aas

Sumber:
http://www.republika.co.id






0 komentar:

Posting Komentar