Home | Berita Opini | Peta Wisata | Wisata Alam | Seni Pertunjukan | Wisata Belanja | Wisata Bahari | Wisata Budaya | Wisata Boga | Wisata Museum | Wisata Religi | Wisata Sejarah | Cerpen
Share/Save/Bookmark

Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Baucau

Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Baucau
Baucau (baca baukau) di Timor Timur dahulu adalah nama kabupaten dan juga nama ibukota kabupaten di bekas salah satu provinsi di Indonesia yaitu Timor Timur. Di daerah ini banyak terdapat peninggalan sejarah dan kepurbakalaan yang sangat penting sejak masa parsejarah hingga sekarang.

Keadaan Alam
Panorama sepanjang perjalanan (darat) sejauh kurang lebih 100 km dari Dili ke arah timur melalui pantai, bukit-bukit, lembah dengan hamparan padang rumput dengan flora dan fauna yang khas. Diselingi pula kehidupan pedesaa dengan rumah-rumah yang kecil berbentuk bulat atau persegi dengan ternak kambing, lembu atau kerbau yang setengah liar. Pasar-pasa tradisional yang terdapat di tepi jalan raya di bawah pohon-pohon rindang itulah tempat berkumpulnya masyarakat desa untuk menawarkan dan membeli keperluan mereka sehari-hari seperti sirih-pinang, ayam jago, sayur-mayur, umbi-umbian, barang-barang anyaman, hasil tenun dan babi. Pasar itu “hidup” pada pagi hari dan setelah matahari menyengat tubuh, pasar pun bubar dan suasana kembali sepi.


Jadi di samping peninggalan budaya masih banyak segi-segi kehidupan lain yang menarik berkat sifatnya yang khas. Bagai Baucau alamnya pun cukup mempesona baik daerah pantai maupun pedalaman. Di Timor Timur yang langka akan dataran tinggi, di Baucau begitu luas dataran tingginya hingga cukup untuk lapangan terbang yang bertaraf internasional.

Kota Baucau lebih menarik lagi. Kota ini miring dan melandai ke arah timur. Garis pantai tampak sayup-sayup di sebelah timur. Pada pagi hari tampak dari tengah kota matahari terbit kemerahan menyembul dari tengah lautan. Kota ini dikelilingi oleh tebing-tebing kapur yang banya goa-nya. Kota yang berundak-undak ini di bagian barat “dibelah” oleh sungai kecil airnya jernih. Air yang terus mengalir di musim kemarau merupakan rahmat Tuhan yang tiada terhingga di daerah ini. Di bagian tengah kota banyak bangunan modern, sedang di daerah pinggiran banyak bangunan tradisional.

Di samping dataran tinggi dan perkotaan, di Baucau banyak bukit-bukit dengan hutan dan pedesaan. Suatu daerah yang cukup menarik adalah Vinilale yang daerahnya berbukit-bukit dan ibukotanya pun terletak di atas bukit.

Peninggalan Sejarh/Purbakala
Bila kita simak laporan tim pengumpul data peninggalan sejarah dan purbakala tahun 1983 Direktorat Perlindungan dan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, maka di kota Baucau kita dapatkan lapisan-lapisan budaya yang menarik.

Tebing-tebing kapur yang mengelilingi kota terdapat goa-goa yang pernah menjadi tempat berlindung atau hunian manusia pada masa prasejarah. Lingkaran ini dapat kita sebut sebagai lingkaran pertama atau lingkar budaya prasejarah. Di antara goa-goa itu yang pernah diamati oleh tim pengumpul data adalah beberapa goa di Tirilolo Baucau Selatan. Pada pengamatan permukaan diperoleh bukti-bukti peralatan dari masa prasejarah, khususnya dari tradisi neolit seperti kapak genggam pada ceruk III, pecahan-pecahan gerabah pada ceruk II. Di samping itu juga diteukan sisa kerang, siput serta sisa-sisa flora dan fauna yang lain.

Lapisan kedua adalah budaya dan kehidupan masyarakat masa kini, tetapi masih berlangsung secara tradisional. Lapisan ini termasuk masyarakat pinggiran kota yang bermukim berdekatan dengan goa-goa. Bahkan mereka masih memanfaatkan goa terutama untuk kandang ternak. Halaman atau dinding-dinding goa ditanami waluh atau sejenis labu, tanaman yang tahan panas, sedang tanah yang dekat aliran air ditanami pisang.

Rumah penduduk rata-rata kecil dan rendah dengan bahan yang tersedia di sekitarnya seperti rumbia, pelepah pohon nipa atau sejenis palem, ilalang dan cabang-cabang kayu (semak). Kayu-kayu yang cukup besar dan panjang memang langka. Untuk pemagaran pekarangan atau kandang pun mereka lebih banyak menggunakan timbunan batu kapur daripada kayu. Oleh karena itulah goa-goa banyak dimanfaatkan sebagai penambah ruang untuk keperluan kehidupan rumah tangga.

Lapisan ketiga adalah bagian tengah kota yang dapat dikategorikan apisan budaya modern, khususnya lapisan budaya yang telah mendapat banyak pengaruh Barat. Seni bangunan yang mendapat pengaruh Portugis di sini sangat menarik, dengan berlanggam campuran Gothiek dan Romans yang disesuaikan dengan keadaan alam dan lingkungan. Ciri-ciri bangunan itu antara lain: lantai lebih tinggi dari halaman, trap atau tangga naik ke halaman atau lantai bangunan ditata secara artistik, pintu atau jendela berbentuk lengkung, atap termasuk bubungannya ditata sangat rapi, garis-garis vertikal maupun horizontal sangat tegas sehingga bangunan tampak kokoh dan sekaligus indah. Contoh bangunan kuna gaya Portugis di Baucau yang sangat menarik adalah Mercado Municipal, gedung Sekolah dan hotel Flamboyant. Mercado adalah bangunan pasar yang tak kalah indahnya dengan bangunan supermarket masa kini. Bangunan ini masih terawat rapi meskipun tidak digunakan untuk berjual-beli lagi. Sekolah dengan halamannya yang sangat luas digunakan untuk kepentingan keamanan, sedeng hotal Flambyant yang mungil masih digunakan untuk penginapan.

Kecuali kota Baucau yang begitu menarik, masih banyak objek sejarah/kepurbakalaan di luar kota. Bila perjalanan kita teruskan ke arah timur maka kurang lebih setengah jam berkendaraan kita jumpai goa-goa buatan yang dibangun pada masa penjajahan Jepang. Letaknya di tepi jalan raya sehingga tidak sulit dijangkau. Pada satu kelompok terdapat tujuh mulut goa sehingga masyarakat setepat menamakannya Goa Tujuh. Bagaimana keadaan di dalamnya, apakah satu sama lain berhubungan belum kita ketahui sebab belum ada kesempatan untuk meneliti. Yang jelas masing-masing ada jalan setapak yang kelihatan dari pintu masuk dan jelas bukan (belum) merupakan kegiatan wisatawan sehingga dapat diduga bahwa goa-goa itu masih berfungsi sebagai sasana aktivitas masyarakat.

Sampai di kota Vinibale yang terletak di atas bukit kita temui lagi bangunan-bangunan yang menarik. Disamping rumah-rumah tradisional kita jumpai bangunan yang halamannya sangat tinggi bila dibandingkan dengan permukaan tanah di sekitarnya, berbentuk empat persegi. Di tengah halaman terdapat bangunan yang pada waktu itu (tahun 1983) digunakan sebagai tempat penjagaan. Ternyata seluruh bangunan itu memang suatu benteng yang diberi nama Benteng Kota Braga. Dari benteng ini kita dapat mengamati bukit-bukit dan lembah-lembah sejauh kemampuan mata memandang.

Lebih kurang 200 meter dari benteng Kota Baraga di Vinilale kita dapatkan gedung sekolah lama gaya Portugis yang sangat mirip dengan yang terdapat di Baucau kota, bahkan relatif masih lebih utuh. Halamannya dihiasi dengan taman yang lumayan antara lain dihias miniatur rumah tradisional. Gedung sekolah ini masih menyimpan nama asli yang dipahatkan di atas pintu utamanya yakni “ESCOLA DO REIMO DE NINILALE”.

Menurut informasi setempat yang diperoleh (oleh Soekantno Tw, selaku pimpinan tim pendata kepurbakalaan 1983 dan penulis artikel ini), di sekitar daerah ini masih sering dilakukan upacara-upacara tradisional di sekitar tempat keramat. Juga masih terdapat goa-goa prasejarah serta tradisi megalitik, yang disebut “Uatu Luliek” (Batu Suci) yang kadang-kadang menjadi satu kompleks dengan “Uma Luliek” atau rumah suci.

Dengan sepintas tinjauan kita atas Kabupaten Baucau pada propinsi termuada ini jelas bahwa daerah ini pun kaya akan warisan budaya yang berasal dari masa prasejarah maupun zaman modern. Warisan ini amat penting untuk modal pembinaan budaya lebih lanjut serta sangat potensial untuk kepariwisataan di Timor Timur atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Timor Leste.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1991. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara II. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

1 komentar: