Home | Berita Opini | Peta Wisata | Wisata Alam | Seni Pertunjukan | Wisata Belanja | Wisata Bahari | Wisata Budaya | Wisata Boga | Wisata Museum | Wisata Religi | Wisata Sejarah | Cerpen
Share/Save/Bookmark
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Wisatawan di Ujung Kulon Tidak Terpengaruh Gempa

Ujung Kulon


Ujung Kulon, Banten (SIB)


Para wisatawan di sekitar wilayah Ujung Kulon, tepatnya di Pulau Umang Resort, Kecamatan Sumur, Pandeglang, mengaku tidak terpengaruh dengan gempa 6,4 SR yang berpusat di Ujung Kulon, Jumat (16/10) sore.
Salah seorang wisatawan, Tedi Kusmayadi, di Ujung Kulon, Sabtu, mengatakan ia tidak khawatir dengan gempa karena warga di sekitar lokasi tersebut tampak tetap tetang meskipun sebelumnya sempat panik.
Ia juga mengaku tidak merasakan gempa itu karena saat kejadian sedang berada di dalam bis bersama puluhan wisatawan lainnya dari rombongan uji coba paket wisata Banten 2009.

“Tadinya kami juga merasa khawatir. Tapi setelah mendapatkan informasi gempa tidak menimbulkan tsunami akhirnya perjalanan tetap dilanjutkan,” katanya.
Obay Sobari, wisatawan lainnya juga mengaku tidak mengurungkan niatnya berwisata di Pulau Umang yang lokasinya tidak jauh dari pusat gempa di Ujung Kulon.
Sementara itu, pengelola objek wisata Pulau Umang, Kristian Halim, mengatakan, gempa yang terjadi Jumat sore getarannya tidak begitu besar dirasakan di sekitar Pulau Umang, sehingga tidak menimbulkan kerusakan apapun.
“Biasanya kami lebih cepat mendapat informasi dari BMKG jika terjadi gempa, sehingga bisa diantisipasi kalau ada sesuatu kejadian seperti tsunami,” katanya.
Ia mengatakan, semua bangunan di Pulau Umang dirancang dengan bangunan tahan gempa. Selain itu pihaknya juga sudah mengantisipasi dan mempersiapkan lokasi-lokasi untuk evakuasi para wisatawan jika terjadi tsunami atau air pasang akibat gempa.

“Jika terjadi sesuatu akibat gempa, hanya butuh waktu 15 menit untuk evakuasi wisatawan ke darat,” katanya.
Kapolsek Sumur, AKP M Yusuf, mengatakan tidak ada korban jiwa ataupun bangunan yang rusak berat akibat gempa tersebut. Tercatat hanya sekitar 10 unit bangunan rumah dan sebuah sekolah mengalami rusak ringan atau retak-retak.
“Tidak ada bangunan yang rusak parah, kalaupun ada hanya retak-retak karena kondisi bangunan sudah tua,” katanya.
Gempa bumi berkekuatan 6,4 SR terjadi Jumat (16/10) sore sekitar pukul 16:52 WIB, berpusat di wilayah Ujung Kulon pada kedalaman sekitar 10 kilometer.
Gempa bumi yang juga dirasakan warga di wilayah Jakarta dan Jawa Barat tersebut sempat membuat panik warga sehingga mereka berhamburan ke luar rumah.



Sumber : http://hariansib.com



Selengkapnya...

Kawasan Wisata di Pesisir Pantai Sumatera Barat

“Potensi, Pengembangan dan Harapan”
Oleh : Efrianto

Provinsi Sumatera Barat dikenal sebagai daerah yang memiliki garis pantai yang memanjang dari Kabupaten Pesisir Selatan hingga Kabupaten Pasaman Barat. Sebagai daerah yang memiliki wilayah pantai, sebagian besar masyarakat di kawasan tersebut bekerja pada sektor perikanan dan bertempat tinggal pada kawasan pantai. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat tahun 2006, penduduk Sumatera Barat saat itu berjumlah 4.7 juta jiwa yang menyebar di 19 kabupaten dan kota. Lebih dari satu (1) juta jiwa tergolong sebagai penduduk miskin, dan penduduk miskin di Sumatera Barat umumnya berada pada kawasan pesisir pantai.
Kemiskinan dikawasan tersebut lebih disebabkan oleh rendahnya kemampuan mereka untuk memanfaatkan potensi perikanan dan potensi lain yang berada disekitar mereka. Hal itu disebabkan karena terbatasnya modal yang mereka miliki dan terbatasnya ilmu pengetahuan yang mereka kuasai, sehingga potensi yang berada disekitar mereka tidak mampu dioptimalkan. Sehingga, menyebabkan perekonomian mereka sulit untuk berkembang. Untuk itu perlu dilakukan sebuah upaya yang sistematis agar kemiskinan dikawasan tersebut dapat diatasi, sehingga cita-cita untuk mewujudkan Sumatera Barat yang sejahtera, baik secara ekonomi maupun kesehatan pada tahun 2020 dapat terwujud.


Kawasan pesisir Sumatera Barat sesungguhnya memiliki potensi yang luar biasa dan memiliki prospek untuk dikembangkan. Disamping kekayaan laut yang masih belum tergarap dengan optimal, kawasan ini memiliki objek-objek wisata yang bisa dikembangkan. Di kabupaten Pesisir Selatan kita mengenal Pantai Corocok, Resort Mandeh, di Kota Padang kita mengenal Pantai Air Manis, Pantai Padang, Pantai Pasir Jambak, di Pariaman kita mengenal Pantai Tiram, Pantai Arta, Pantai Gondariah, dan lain-lain. Potensi pariwisata yang sangat banyak tersebut belum tergarap dengan optimal.
Kawasan Pantai yang dimiliki oleh pemerintah kabupaten dan kota sangat potensial untuk dikembangkan menjadi kawasan wisata, terutama wisata bahari akhir-akhir ini telah menjadi salah satu produk wisata yang penting. Hal ini ditunjukkan dengan semakin meningkatnya permintaan dan jasa wisata bahari baik oleh wisatawan manca negara maupun wisatawan lokal. Pembangunan kepariwisataan bahari pada hakekatnya merupakan upaya untuk mengembangkan dan memanfaatkan objek dan daya tarik wisata bahari yang terdapat di Sumatera Barat yang terwujud antara lain dalam bentuk kekayaan alam yang indah (pantai), keragaman flora dan fauna (taman laut) serta budaya tradisional yang berkaitan dengan legenda kelautan.
Kota Padang yang memiliki garis pantai sepanjang 99,63 km, serta mempunyai pantai putih dan landai yang sangat cocok untuk wisata pantai, mulai dari Pantai Pasir Jambak di utara sampai ke Pantai Sungai Pisang di selatan. Begitu juga dengan pulau-pulaunya, banyak pulau berpantai putih bersih. Kawasan yang sudah dikelola menjadi objek wisata pantai adalah: Pantai Pasir Jambak, Pantai Padang, Taman Nirwana, Pantai Pasir Putih Bungus, Pulau Sikuai dan Pantai Air Manis, itupun belum tergarap dengan optimal.
Potensi wisata bawah laut terdapat di Kabupaten Pesisir Selatan dengan adanya kawasan ekosistem terumbu karang yang terdapat hampir di setiap pulau-pulau kecil dan gosong (patch reef). Luas kawasan terumbu karang di Kabupaten Pesisir Selatan adalah 2.776,77 Ha (Efendi, 2000) Kawasan terumbu karang yang dapat digunakan sebagai wisata bawah air antara lain Pulau Cingkuak, Semangke Besar dan Semangke Kecil, Pulau Babi, Pulau Aur Kecil dan Aur Besar dan Pulau Cubadak serta Pulau Pagang. Objek wisata bahari yang sudah mulai dikelola di Kabupaten Pesisir Selatan antara lain Pulau Cubadak, Pulau Pagang dan Pantai Carocok Painan.
Kabupaten Padang Pariaman mempunyai garis pantai termasuk seluruh pulau-pulau kecil (6 buah pulau) adalah 62,33 km. pantai yang mereka miliki umumnya pantai berpasir putih yang sangat potensial untuk dikembangkan menjadi tempat wisata pantai. Pulau-pulau yang ada di Kabupaten Padang Pariaman diantaranya adalah Pulau Bando, Pulau. Pieh, Pulau. Angso, Pualau. Karsik, Pulau Ujung dan beberapa gosong. Di Perairan pulau Pieh ditemukan berbagai jenis ikan karang, baik untuk konsumsi sehari-hari ataupun untuk ikan hias. Keragaman dan jenis ikan yang paling banyak ditemukan di perairan Sumatera Barat adalah di perairan Pulau Pieh ini. Pada tahun 2000, perairan Pulau Pieh dan sekitarnya sudah ditetapkan menjadi Taman Wisata Laut oleh Menteri Kehutanan dan Perkebunan dengan Surat Keputusan Nomor: 070/Kepts-II/2000 tanggal 28 Maret 2000. Luas kawasan Taman Wisata Laut (TWL) Pulau Pieh adalah 39.900 Ha yang meliputi perairan Pulau Bando di Utara sampai pulau Marak di Selatan. Jadi kawasan TWL Pulau Pieh meliputi Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan.
Objek wisata bahari juga ditemukan di Kabupaten Pasaman Barat yang sudah dan mulai dikelola Dinas Pariwisata Kabupaten Pasaman Barat, yakni Pantai Sasak yang dikelola oleh masyarakat. Jenis wisatanya adalah wisata pantai untuk menikmati indahnya pemandangan pantai dan pasir putih. Walaupun baru satu objek wisata bahari yang dikelola, namun wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Pasaman Barat relatif cukup banyak, baik wisatawan mancanegara (wisman) maupun wisatawan nusantara {wisnu). Para wisatawan macanegara umumnya banyak mengunjungi objek wisata Rimbo Panti dan Bonjol. Sedangkan wisnu lebih banyak mengunjungi objek wisata yang ada di Kecamatan Pasaman (Air Bangis) dan Pantai Sasak.( Fak. Kelautan Bung Hatta )
Disamping wisata bahari kawasan pesisir pantai barat Sumatara Barat juga bisa dikembangkan sebagai kawasan wisata religi dan budaya, seperti Pantai Padang dengan legenda Malin Kundang yang menceritakan tentang kisah durhaka seorang anak terhadap orang tuanya hingga sang anak dikutuk menjadi batu. Gunung Padang juga punya kuburan Siti Nurbaya yang terkenal lewat cerita kasih tak sampai. Cerita yang mengisahkan keterpaksaan seorang wanita minang untuk mengikuti adat yang berlaku pada masa lampau dan dominannya peran datuk (penghulu) dalam kehdupan masyarakat saat itu, sehingga dia harus kehilangan orang yang dicintai. Sedangkan di Kabupaten Padang Pariaman ada makam Syekh Burhanuddin di Ulakan, yang dikenal sebagai pembawa ajaran Islam di Minangkabau. Daerah sekitar makam itu memiliki potensi yang luar biasa bila dikembangkan dengan optimal, sebab pada bulan-bulan dan hari-hari tertentu kawasan ini ramai dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai daerah untuk barsyafa di kawasan ini.
Wisata kuliner juga belum tergarap dengan optimal dikawasan pesisir Barat Sumatera Barat, disebabkan makanan-makanan tradisional yang terdapat di sepanjang pantai Padang hingga Pariaman memiliki potensi untuk dikembangkan. Apalagi makanan yang dihasilkan merupakan spesifik yang sulit untuk ditemukan pada daerah lain seperti telur penyu, sala lauk, nasi sek dan lain-lain.
Pasca Bom Bali, Sumatera Barat mengklaim sebagai daerah paling aman di Indonesia dan para pelaku wisata berharap industri pariwisata di Ranah Minangkabau dapat memperoleh kemajuan serta bisa menarik minat wisatawa untuk berkunjung ke Sumatera Barat. Namun cita-cita untuk menjadikan ranah Minang sebagai kawasan menarik bagi wisatawan belum mampu diwujudkan oleh pemerintah daerah, pelaku wisata dan pihak-pihak terkait.
Tahun 2007, Provinsi Sumatara Barat oleh Departemen Kebudayan dan Pariwisata telah ditetapkan salah satu dari lima daerah di Indonesia yang dijadikan sebagia daerah destinasi unggulan. Kebijakan ini ditetapkan oleh pemerintah pusat sebagai upaya untuk mengembangkan pariwisata di luar pulau Jawa dan Bali. Disamping itu untuk menjadikan sektor pariwisata dapat meningkatkan perekonomian masyarakat Sumatera Barat. Kepercayaan pemerintah pusat menetapkan Sumatra Barat sebagai daerah wisata unggulan di Indonesia, hanya akan berhasil jika masyarakat, pelaku usaha dan aparatur pemerintah telah sadar wisata serta tak “aji mumpung” dalam menggenjot pemasukkan dari sektor yang juga menjadi satu-satunya andalan Sumbar dalam menggenjot pendapatan dan perekonomian daerah.
Gubernur Sumatera Barat telah menetapkan 10 Daerah tingkat II sebagai daerah destinasi dan memerintahkan Para walikota dan bupati pada kawasan tersebut untuk menyusun program agar destinasi yang dicanangkan dapat berjalan dengan optimal. Ke 10 kabupaten/kota di Sumbar yang dikembangkan sebagai daerah destinasi wisata. yaitu Kota Padang, Kota Bukittingi, Kabupaten 50 Kota, Kabupaten Sawahlunto, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Solok, Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Agam, Kabupaten Padang Pariaman dan Kabupaten Mentawai. (Haluan. Wordpress.com/2007)
Instruksi dan penetapan 10 daerah destinasi oleh gubernur, ditindaklanjuti secara beragam oleh pemerintah kota dan Kabupaten di Sumatera Barat. Seperti Pemerintah Kota Padang melalui Dinas Pariwisata mencanangkan akan mengembangkan kawasan Pantai Padang menjadi Taman Impian Jaya Ancolnya Sumatera Barat. Belum selesai program ini dilaksanakan, pemerintah kota Padang juga telah menetapkan Kelurahan Air Manis sebagai Kelurahan Sadar Wisata. Pemerintah kota berencana mengembangkan sebuah kawasan yang memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk tinggal bersama penduduk, namun semua kebijakkan tersebut belum memperlihatkan perubahaan yang signifikan.
Tahun 2007 segera berakhir, implementasi dari penetapan Sumatera Barat sebagai daerah destinasi unggulan belum memperlihatkan hasil yang memuaskan. Kebijakan yang mendapat dukungan dana ±16 milayar dari pemerintah pusat belum memperlihatkan hasil yang memuaskan. Potensi wisata yang dimiliki oleh masyarakat di pesisir pantai belum mampu meningkatkan perekonomian mereka sehingga kantong-kantong kemiskinan masih tetap berada di kawasan pantai. Kenapa ... ?
Daerah Sumatera Barat dengan penduduk terbanyak berasal dari etnik Minangkabau, memiliki filosofi/falsafah adat yang dikenal dengan nama Adat Bersandi Syarak, Syarak Bersandi Kitabullah (ABS - SBK), sehingga seluruh kehidupan masyarakat di Minangkabau harus sesuai dengan hukum agama (Islam). Pemahaman dan pandangan yang belum seragam dalam menempatkan ABS - SBK dalam pengembangan pariwisata, merupakan salah satu faktor yang menyulitkan pariwisata berkembang di Sumatera Barat. Sebagai daerah yang masih kental memegang adat, maka privaci dan kebebasan seseorang pada sebuah kawasan mudah menggalami ganggungan, jika orang tersebut bertindak dan berprilaku diluar kelaziman yang dimiliki masyarakat setempat. Sehingga bukan hal yang aneh bila hotel-hotel berbintang juga dirazia oleh berbagai elemen masyarakat Sumatera Barat (Kompas 22 Maret 2003). Disamping itu tingkat keamanan dan kenyamaan yang masih belum mampu diberikan secara maksimal, seperti tarif parkir yang tak jelas, pengamen yang tak beraturan, serta belum tersedianya fasilitas penunjang dikawasan wisata. Tak ada kalender pariwisata yang jelas menyebabkan wisatawan engan untuk berkunjung ke Sumatera Barat, karena terbatasnya pengetahuan mereka tentang apa event-event yang terdapat di Sumatera Barat.
Kondisi ini disebabkan konsep pariwisata yang akan dikembangkan di Sumatera Barat belumlah jelas. Daerah Bali sebagai daerah wisata yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan, baik lokal maupun internasional telah memiliki konsep pariwisata budaya. sesuai dengan Perda No.3/1991 sebagai penyempurnaan Perda No.1/1974. "Peraturan ini merupakan turunan dari bingkai visi pembangunan Bali, yakni Bali Dwipa Jaya berlandaskan Tri Hita. Intinya, pembangunan Bali selalu mengedepankan keseimbangan antara manusia, lingkungan alam semesta dan Sang Pencipta. "Pembangunan yang hanya menitikberatkan pada kepentingan ekonomi, apalagi kepentingan sesaat tak pernah bisa tumbuh dengan baik di Bali. Sebagai lembaga pariwisata, kami mengimbau siapapun yang berusaha di Bali harus menaati aturan yang ada (Wisata Net - Bali Post )
Kapala Dinas Pariwisata Bali Gde Nurjaya mengingatkan, sesuai konsepsi pariwisata budaya (pasal 3 Perda No.3/1991) diharapkan adanya keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara penyelenggaraan pariwisata dan kebudayaan Bali. Selain itu, mutu objek dan daya tarik wisata diharapkan meningkat dan dilestarikan. Sebaliknya norma, nilai kebudayaan dan agama (Hindu) harus dipertahankan untuk membendung pengaruh negatif dari aktivitas pariwisata. Nurjaya juga mengingatkan, bahwa karena budayanyalah makanya Bali digandrungi wisatawan. Pernyataan tersebut dengan tegas menjelaskan bahwa pariwisata yang dikembangakan di Bali telah disesuaikan dengan kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat. (Wisata Net – Bali Post 16 November 2007)
Sumatera Barat walaupun telah lama ditetapkan sebagai salah satu tujuan kunjungan wisata terbaik di Indonesia. Sejak itu pula pemerintahan Sumatera Barat bertekad memajukan pariwisata sebagai salah satu sumber andalan bagi keuangan daerah, mengingat potensi sumber daya alam Sumatera Barat yang memang cukup terbatas. Sumatera Barat bukanlah wilayah yang kaya dengan minyak atau gas seperti yang dimiliki Riau atau Sumatera Selatan. Material tambang yang dimiliki hanya batu bara yang cadangannya sudah semakin menipis. Dengan kondisi demikian, maka terdapat rationale yang kuat bagi pemerintah daerah Sumatera Barat untuk mengembangan sektor-sektor lain yang potensial memberi kontribusi bagi kas daerah. Salah satu pilihan itu adalah pariwisata. Persoalannya, sampai saat ini belum ada konsep pengembangan pariwisata Sumatera Barat yang sesuai dengan ABS – SBK dan faktor sosial-budaya. Pertanyaan teknisnya, bagaimana merumuskan kebijakan pariwisata Sumbar?
Menurut hemat penulis, beberapa hal yang bisa diupayakan untuk pengembangan pariwisata di Provinsi Sumatera Barat adalah;

1. Pembuatan Perda Tentang Pariwisata Sumatera Barat
Pemerintah daerah harus segera membuat Peraturan Daerah (Perda) atau memperbaharuhi Perda yang telah dibuat yang bisa menjelaskan dan mengambarkan pariwisata Sumatera Barat di masa depan. Perda tersebut harus bisa menyatukan pandangan dan pemahaman bagaimana menempatkan ABS – SBK dalam rencana pengembangan pariwisata di Sumatera Barat, sehingga memudahkan setiap daerah menyusun kebijakan pengembangan pariwisata. Dengan terbentuknya pemahaman yang sama dalam mengembangkan pariwisata di masing-masing daerah tingkat II, diharapkan bisa mempercepat pengembangan pariwisata di Sumatera Barat. Untuk membuat Perda pariwisata tersebut dibutuhkan kerjasama yang baik antara ASITA, PHRI, LSM, LKAAM dan DPRD sehingga perda yang dihasilkan betul-betul mencerminkan keinginan masyarakat Sumatera Barat.
Perda yang dihasilkan tidak mengabaikan filosofi dan falsafah hidup masyarakat Minangkabau serta bersifat komprehensif dalam upaya menciptakan cara untuk pengembangan dan pembangunan pariwisata yang berbasis masyarakat. Baik dilihat dari aspek kriteria, konsep model (karakteristik daerah) maupun pedoman, mencakup: produk, market, pedoman, pelatihan SDM dan perencanaan bisnis (statement operational procedure) dalam upaya peningkatan peran serta pariwisata dalam meningkatkan pendapatan masyarakat.

2. Optimalisasi Peran Masyarakat
Selama ini pemerintah lebih banyak melibatkan pelaku besar (hotel berbintang, Tour & Travel, Restoran besar) dalam merangsang pertumbuhan pariwisata. Tentu saja keuntungan/manfaat dunia wisata Sumbar saat ini hanyalah dinikmati oleh segelintir orang itu saja. Padahal esensi industri pariwisata itu sendiri adalah demi kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat. Bagaimana agar semua elemen masyarakat mulai dari yang terbesar hingga yang terkecil semua bergerak menjadi bagian dalam suatu system dan menuai pendapatan/kesejahteraan dari apa yang dinamakan industri pariwisata tersebut. (radjanusantara_blongspot.com)
Kebijakan Pemda Kota Padang dengan melibatkan masyarakat Nelayan di Pantai Air Manis sebagai bagian dari sebuah sistem dalam memajukan dan mengembangkan pariwisata dikawasan tersebut merupakan sebuah langkah maju, karena kebijakan ini akan menuntut peran aktif masyarakat dikawasan tersebut.(Padang Ekspres) Untuk itu kita mesti memberikan pelatihan, pemahaman dan meningkatkan kesadaran masyarakat di sekitar objek wisata bahwa kehadiran wisatawa di daerah mereka bisa meningkatkan pendapatan dan perekonomian mereka.

3. Promosi Pariwisata
Saat ini telah terjadi perubahan consumers-behaviour pattern atau pola konsumsi wisatawan dunia . Mereka tidak lagi terfokus hanya ingin santai dan menikmati sun-sea and sand. Saat ini pola konsumsi mulai berubah ke jenis wisata yang lebih tinggi, yang meskipun tetap santai tetapi dengan selera yang lebih meningkat yakni menikmati produk atau kreasi budaya (culture) dan peninggalan sejarah (heritage) serta nature atau eko-wisata dari suatu daerah atau negara. Sesungguhnya culture dan heritage ini adalah nyawanya atau “roh” dari kegiatan pariwisata Indonesia dan Sumatera Barat khususnya. Tanpa adanya budaya maka pariwisata akan terasa hambar dan kering, dan tidak akan memiliki daya tarik untuk dikunjungi. Sepertinya kembali merumuskan daya tarik wisata Sumbar adalah sesuatu yang musti dilakukan secepatnya.
Kebudayaan dan sosial cultural yang dimiliki masyarakat Sumatera Barat menyebabkan promosi wisata harus kita arahkan untuk mengaet wisatawan domestik dan wisatwan yang berasal dari kawasan semenanjung Melayu seperti Singapura, Malaysia dan Brunai Darusalam, maka benturan kebudayaan yang kita miliki dapat dihindari. Agar promosi yang direncanakan dapat berjalan dengan optimal maka pemerintah daerah harus mempersiapkan sebuah kelender pariwisata yang jelas sehingga para wisatawan yang datang ke Sumatera Barat dapat menentukan daerah yang akan dikunjungi.
Setelah konsep ini mampu diciptakan dan dijalankan oleh seluruh elemen masyarakat Sumatera Barat, maka cita-cita kita untuk menjadikan pariwisata sebagai salah satu sektor yang dapat mengurangi, angka kemiskinan dapat diwujudkan. Program pemerintah pusat untuk menjadikan Sumatera Barat sebagai daerah tujuan wisata unggulan setelah Pulau Bali dapat berjalan dengan sukses, dan target pemerintah Sumatera Barat untuk mengurangi angka kemiskinan menjadi 490 ribu jiwa pada tahun 2010 dapat diwujudkan.
Apakah itu akan terwujud Wallahualam

DAFTAR PUSTAKA

1. http://www.sumbarprov.go.id
2. www.wisata.net Jumat, 16 November 2007 17:44.13 WIB Harry sumber www.Balipost.com
3. Harian Kompas Sabtu, 22 Maret 2003 Pariwisata Sumatera Barat Kurang Terurus
4. Optimalisasi Peran Masyarakat dalam Pertumbuhan Industri Pariwisata Sumatra Barat http: //radjanusantara. blogspot.com /2007/02/optimalisasi-peran-asyarakat-dalam_12.html.
6. Pariwisata Bahari http://fkk.bung-hatta.Info/kelautan/pariwisata_ bahari.html
7. PADANG, http://haluan.wordpress.com/2007
8. Benni Innayatullah PARIWISATA dan MASYARAKAT Menggagas Sumbar sebagai Tujuan Wisata Regional. Padang Ekspres
9. Padang Ekspress
Selengkapnya...

Fremantle, Wisata Air dan Cagar Budaya


Tepian sungai tidaklah harus kumuh. Bangunan-bangunan tua pun tak perlu terlihat angker. Kalau ingin menyaksikan tepian sungai yang indah asri dan bangunan-bangunan tua yang menenteramkan, cobalah menyusuri Sungai "Angsa" Swan sampai ke Kota Pelabuhan Fremantle. Sebuah kenyataan yang terdapat di Perth, Australia Barat. Sungai Swan yang membelah Kota Perth dan bermuara di pelabuhan Fremantle, airnya tampak jernih membiru. Di sepanjang tepian sungainya, berjajar bangunan-bangunan elok yang tertata rapi. Kota Perth dengan pelabuhannya Fremantle, memang layak menyandang predikat sebagai "kota pelesiran" di Benua Kanguru. Antara pusat Kota Perth dengan pelabuhan tua Fremantle yang berjarak hampir 20 kilometer, terbentang alur Sungai Swan yang menjadi bagian dari paket wisata air yang menjual keindahan. Para pelancong yang ingin menikmati keelokan Sungai Swan, dapat memanfaatkan kapal pesiar mewah. Satu di antaranya, "James Cook Cruises".


Kapal-kapal pesiar yang senantiasa ramai penumpang di akhir pekan, dapat dengan mudah ditemukan di dermaga Barrack Street Jetty, yang terletak di jantung Kota Perth. Perjalanan sambil memanjakan mata di sepanjang alur Sungai Swan selama sekira 90 menit itu, akan berakhir di sebuah terminal pelabuhan di Beach Street pinggiran Kota Fremantle.

Berjalan ke luar terminal sejauh sekira 300-an meter, para pelancong dapat singgah di Wild Flower Land, sebuah pusat kerajinan bunga kering alami. Di bangunan mirip gudang tua itu, para pengunjung bisa mendapatkan cinderamata rangkaian bunga kering, di antaranya "Summerbloom" yang menjadi salah satu icon Australia Barat. Keunikan di pusat cinderamata khas itu, adalah para perajin bunga itu, sebagian besar adalah para "manula" lanjut usia. Di Wild Flower Land, diproses tidak kurang dari 100 jenis bunga-bungaan alami yang kemudian dibentuk menjadi rangkaian bunga kering nan asri.

Sekeluar dari Wild Flower Land, para pengunjung kota Pelabuhan Fremantle akan dihadapkan pada bangunanbangunan kuno yang terpelihara asri. Catatan sejarah Kota Perth menyebutkan, orang pertama yang menginjakkan kaki di bandar laut Fremantle pada tahun 1829, adalah Kapten Charles Howe Fremantle. Nama pelaut asal Inggris itulah, yang akhirnya diabadikan menjadi nama pelabuhan di Australia Barat tersebut.

Salah satu daya tarik Fremantle yang spesifik adalah budidaya mutiara. Sumber daya ekonomis ini, antara lain yang dikelola Kailis Broome Pearls. Hasil kerajinan mutiara alami itu dapat diperoleh di Artisans of The Sea. Sebuah gerai kerajinan mutiara yang ditangani para artis kenamaan Australia. Mutiara yang dihasilkan dari budi daya kerang di perairan Samudra Hindia itu, termasuk mutiara kelas satu yang banyak diburu para kolektor.

Kota Pelabuhan Fremantle yang terbagi menjadi dua bagian, yakni Fremantle dan South Fremantle. Sejauh mata memandang, yang memadati kota itu hanya bangunan kuno yang sekaligus merupakan bangunan konservasi dan cagar budaya. Beberapa bangunan itu, bahkan berubah fungsi menjadi tempat bersemayamnya berbagai koleksi benda bersejarah seperti terdapat di museum "Shell & Rock Museum", The Energy Museum, Fremantle Prison Museum, West Australia Maritime Museum dan lain-lain.

Sebagian bangunan tua lain yang terpelihara apik itu, juga banyak digunakan sebagai bangunan komersial dan fasilitas publik lainnya. Beberapa contoh dapat disebutkan, Tourist Info & Town Hall, Fremantle Hospital, Tradewinds Hotel, Esplanade Hotel, Harbour Village Apartments, Biscuit Factory Apartments, dan sebagainya.

Sedangkan Roundhouse, bangunan tertua yang didirikan pada tahun 1831, telah dibangun kembali dengan tamantaman nan asri serta dilengkapi kafetaria yang menjual kesan romantis. Padahal bangunan dengan banyak ruang berupa sel tersebut, pada awal pendirian bangunan yang terletak di ujung barat High Street itu adalah penjara pertama di Koloni Swan River.

Daya tarik wisata yang sedemikian beragam, menjadikan para pengunjung kota Pelabuhan Fremantle menjadi kerasan. Beragamnya cinderamata dengan harga murah dan banyak pula hasil kerajinan bermutu tinggi yang bebas pajak, merupakan kiat kota wisata ini untuk merangsang pengunjung untuk berbelanja, menguras dompet.

Layanan lain yang memikat wisata untuk bepergian menyusur hingga ke sudut kota Perth maupun Fremantle, tersedia sarana transportasi tertata rapi dan nyaman. Bahkan para wisatawan yang ingin mengelilingi kota, tersedia bus umum dan kereta api yang tak dipungut biaya.

Sumber: http://liburan.info

Selengkapnya...

Peninggalan Kerajaan Malayu Terbesar yang Diabaikan

Candi Muaro Jambi
Oleh: Yurnaldi

Mengunjungi situs Muaro Jambi di Desa Muaro Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, berselang 18 tahun, tidak begitu terlihat perubahan berarti.

Pengamatan kasatmata tahun 1991 dan kemudian membandingkannya dengan situasi dan kondisi pada minggu kedua Maret 2009, kesannya tetap sepi. Sepi dari aktivitas keilmuan (arkeologi), pengembangan, dan sepi pengunjung.


Bayangkan, di situs Muaro Jambi yang luasnya sekitar 12 kilometer persegi—dan menjadi situs terbesar di Nusantara, lebih luas dari situs Trowulan yang menjadi pusat Kerajaan Majapahit—dilaporkan terdapat lebih dari 80 candi dan menapo/gundukan peninggalan Kerajaan Malayu. Namun yang telah diokupasi dan dipugar baru sekitar 10 persen. Untung saja, masyarakat yang bermukim di kawasan situs sangat peduli pada benda cagar budaya sehingga kerusakan situs hampir tak terjadi.

Padahal, candi-candi yang belum dikupas (diokupasi) berada di tanah milik warga. Lahan-lahan di situs Muaro Jambi itu dipenuhi pohon duku dan durian, yang berusia puluhan tahun, dan selama ini menjadi sumber ekonomi masyarakat.

Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi dan Provinsi Jambi perlu juga dari sekarang memikirkan pemberdayaan masyarakat dan mengalihkan sumber ekonomi masyarakat di kawasan situs Muaro Jambi sekiranya tanah mereka kelak dibebaskan untuk keperluan ekskavasi.

Baru sebagian kecil

Menurut data, luas tanah yang dibebaskan baru sebagian kecil, yakni kompleks Candi Astano 100 x 200 meter, Candi Tinggi 125 x 200 m, dan Candi Gumpung 150 x 150 m, serta Candi Kembar Batu 80 x 80 m.

Tanah tempat berdirinya Candi Gedong I dan II seluas 100 x 300 m juga telah dibebaskan, termasuk Candi Kedaton 220 x 245 m, Candi Kotomahligai 100 x 100 m, Manapo Candi Tinggi 40 x 40 m, Manapo Sialang 100 x 100 m, dan Talago Rajo 100 x 150 m.

”Dana yang dianggarkan pemerintah sangat minim, apalagi Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) yang berpusat di Jambi membawahi empat provinsi, yakni Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, dan Bengkulu,” kata Agus Widiatmoko, Pokja Dokumentasi dan Publikasi BP3 Jambi.

Dengan dana yang minim tentu perubahan fisik yang terlihat tidak begitu mencolok. Namun, setiap tahun ada kegiatan, seperti revitalisasi atau normalisasi kanal di sekitar situs Muaro Jambi.

Direktur Peninggalan Purbakala Ditjen Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Soeroso, di Jakarta, mengatakan, tahun 2007 sudah ada suatu kegiatan Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dengan Departemen Pekerjaan Umum untuk menggarap situs-situs yang potensial untuk destinasi, termasuk situs Muaro Jambi.

”Kegiatan yang sudah dimulai antara lain pembuatan talut agar kawasan situs Muaro Jambi tidak longsor dan untuk membuka kanal-kanal,” katanya.

Tentang kondisi situs Muaro Jambi yang lamban perkembangannya, diakui Soeroso, di samping BP3 mengurusi empat provinsi, sehingga dana yang dianggarkan dibagi untuk empat provinsi, juga karena masalah kualitas sumber daya manusia yang terkesan asal comot. Tidak menempatkan orang yang ahli dan mencintai bidang pekerjaannya.

Sejak 1820

Kepala BP3 Jambi Tonny Mambo mengatakan, situs Muaro Jambi yang berada di ketinggian 14 meter di atas permukaan laut dan terletak di suatu daerah dataran yang merupakan daerah tanggul alam dari Sungai Batanghari (panjang sekitar 800 km, lebar sekitar 500 meter, dengan kedalaman lebih dari 5 meter). Di sekeliling bangunan terdapat tanah yang rendah merupakan parit keliling halaman bangunan candi.

Menurut Tonny, perhatian terhadap antiquiti yang terdapat di Muaro Jambi sudah dimulai sejak tahun 1820 oleh Kapten SC Crooke, seorang perwira kehormatan bangsa Inggris. Kemudian oleh Adam tahun 1920. Melihat tinggalan di Muaro Jambi, ia menyimpulkan, Muaro Jambi merupakan sebuah ibu kota dengan bangunan-bangunan yang dibuat dari bata/batu. ”Dugaan Adam ini disetujui oleh Schnitger yang berkunjung pada tahun 1936,” katanya.

Setelah lama tidak diteliti, pada 1954 sebuah tim dari Dinas Purbakala meninjau lokasi situs dan mendata kembali apa yang telah dilaporkan oleh Schnitger. Pemugaran baru dimulai tahun 1975 sampai sekarang.

Menurut Soeroso, situs Muaro Jambi terlihat lamban perkembangan pemugarannya dibandingkan dengan situs lain karena percandian di situs Muaro Jambi terdiri dari bata, bukan batu seperti di Jawa. Merekonstruksi bangunan candi dari bata lebih sulit ketimbang candi dari batu karena mudah rapuh.

Peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional, Bambang Budi Utomo, menyebutkan, situs percandian Muaro Jambi diduga telah ada sejak pertengahan abad VII Masehi. Situs ini merupakan situs keagamaan yang dibangun kelompok masyarakat pemeluk agama Buddha Mahayana pada sekitar abad VIII Masehi dan terus berlanjut hingga abad XIV.

”Kelangsungan bangunan-bangunan keagamaan di tempat ini sejalan dengan kelangsungan kerajaan yang pernah ada di daerah aliran Sungai Batanghari. Ketika Batanghari di bawah penguasaan Kerajaan Malayu, Muaro Jambi dimanfaatkan sebagai tempat upacara agama Buddha masyarakat Malayu,” jelasnya. Ketika Batanghari di bawah penguasaan Kerajaan Sriwijaya, a Muaro Jambi dimanfaatkan oleh masyarakat Sriwijaya.

Ada petunjuk bahwa beberapa bangunan di Muaro Jambi mengalami beberapa tahapan pembangunan. Bambang mencontohkan, bangunan Candi Astano dan Candi Gumpung. Bangunan Candi Gumpung diduga sekurang-kurangnya telah mengalami dua tahapan pembangunan. Bangunan pertama mungkin dibangun pada sekitar abad IX Masehi. Entah pada tahun berapa kemudian bangunan ini diperbesar sebagaimana tampak pada bagian dinding ketika dilakukan pembongkaran.

Data terakhir mengindikasikan, ketika pusat Kerajaan Malayu-Dharmasraya berada di daerah Rambahan (abad XIII Masehi), Muaro Jambi masih berfungsi sebagai tempat upacara agama Buddha. Arca Prajnaparamita yang ditemukan di reruntuhan sebelah timur Candi Gumpung merupakan buktinya.

Warisan dunia

Soeroso menjelaskan, situs Muaro Jambi saat ini telah diprioritaskan menjadi warisan dunia. Usulan itu sudah terdaftar di UNESCO, 3-4 tahun lalu.

Situs Muaro Jambi juga sudah dimanfaatkan untuk upacara-upacara keagamaan umat Buddha, diselaraskan dengan Candi Burobudur.

Jika berkunjung ke situs Muaro Jambi, Anda akan menemukan sejumlah keunikan dari candi-candi yang ada. Sebagian dari bangunan-bangunan bata mengelompok di suatu tempat yang dikelilingi tembok pagar keliling,

Di situs Muaro Jambi juga ditemukan sisa permukiman, diduga berasal dari abad VII-XIII Masehi. Dari situs ada indikator pertanggalan situs, yaitu dari pertulisan singkat yang ditemukan di reruntuhan Candi Gumpung, pertulisan pada Gong Perunggu dalam aksara Tionghoa, fragmen arca Buddha, arca Prajnaparamita di Candi Gumpung, dan pecahan keramik.

Sumber : Kompas Cetak

Selengkapnya...

Nilai-Nilai Moral Dalam Naskah Syair Khadamuddin


Penulis : Oleh: Evawarni

Karya sastra berbentuk syair, merupakan salah satu bentuk naskah kuno daerah Kepulauan Riau yang sampai saat ini masih dikoleksi masyarakat dan tersebar di pelosok pedesaan daerah Kepulauan Riau. Keberadaan naskah tersebut kebanyakan tidak terpelihara dengan baik karen masyarakat sekarang tidakakrab lagi dengan tulisannya yaitu menggunakan tulisan Arab-Melayu. Syair, pada pertengahan abad 19 dan awal abad 20 M sangat populer dikalangan sastrawan dan masyarakat Melayu Kepulauan Riau. Orang mendengar pembacaan syair, bukan semata-mata untuk menikmati keindahan susunan kata dan bunyi, tetapi tetapi juga mendengar bagaimana cerita atau isinya yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan, nasehat, petunjuk dan lain-lain.


Sebagaimana dikemukankan M.diah, peranan syair bagi masyarakat Melayu bukan hanya sekedar hiburan, akan tetapi lebih dari itu. Syair juga berperan sebagai wahana penyampaian pesan yang berisi ajaran moral dari berbagai tokoh agama dan adat (M.Diah, dkk :1987) Syair yang dibacakan dengan keindahan bunyi dan kehalusan bahasa dapat memikat hati pendengar untuk mendengarnya. Orang tua, terutama kaum wanita dalam masyarakat Melayu Kepulauan Riau pada masa lalu, sudah sangat terbiasa membaca Syair untuk mengisi waktu luangnya, terlebih pada malam hari menjelang tidur.

Dengan demikian, pesan-pesan yang ingin disampaikan penulis melalui syair akan mudah dicerna dan dipahami. Syair Khadamuddin adalah salah satu dari sekian banyak naskah kuno daerah Kepulauan Riau yang bercorak keagamaan, dikarang oleh Aisyah Sulaiman Riau. Syair yang mengisahkan tentang sikap dan pendangan hidup serta kesetiaan seorang istri kepada suaminya ini, populer dikalangan masyarakat Melayu pada masa lalu. Syair ini bukan hanya bersifat hiburan akan tetapi juga berisi contoh teladan dan nasehat.

Adapun nilai-nilai moral yang terdapat dalam Syair Khadamuddin ini antara lain: Pemahaman dan pengalaman ajaran Agama Islam dalam Hidup berumah tangga. Manusia dalam melaksanakan ajaran agamanya perlu memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam. Hal ini sangat perlu kerana pengetahuan dan pemahaman yang sepotong-sepotong atau sangat dangkal, dapat menimbulkan kekeliruan dalam pengalamannya. Coba perhatikan bait-bait Syair berikut ini : Demikian sudah hamba amalkan Taatkan Suami diri serahkan Maka sukanya kami turutkan Sama ada ya ataupun bukan Karena sahaya mengambil petua Dengan Wak Man Haji Jawa Perempuan bersuami selamanya jua Taatkan perintah ia semua Karena kita jadi istrinya Sifatkan diri seperti hambanya Sebarang apa perintah dan kehendaknya Jika disalahi dosa jadinya Balasannya kelak yaitu Neraka Takutlah hamba tiada terkira Jadilah kami taat belaka Baik dan jahat semua kusuka Suamiku itu terlalu nakal Didalam rumah ia tak kekal Sahaja kuberi sahaja kubekal Wang dan emas berpuluh bungkal Untuk ia memberi betina Menyukakan hatinya dimana-mana Terkadang dibawanya Jepun dan Cina Balik kerumah kami disana Hamba sediakan statu bilik Tempat ia berbaring bergolek Kuhantarkan makan yang pelik-pelik Serta dibekalkan sekarang balik Terkadang suamiku hendak berjudi Wang tiada berpundi-pundi Kusuruh gadai kain randi Cincin intan hindi Didalam rumah kawanku punya Mana-mana budak baik rupanya Walau sudah ada lakinya Bila berkehendak kuberi dianya Apalagi perempuan yang lain Mana sukanya hendak bermain Kuberi pakaian kain dan baju Diajaknya mufakat mengatakan kawin Taatnya kami sama mengaku Mengatakan ia istri suamiku Hl keadaan anak pesuku Dibawaknya dari teluk paku Tinggallah selama begitu dia Tiada menikah seumur dunia Perkataan hamba orang percaya Mengtakan kawin di Surabaya Syair diatas menggambarkan kepatuhan dan ketaantan seorang istri kepada suaminya. Apa yang diinginkan oleh suaminya selalu disediakannya walaupun dengan berbagai cara. Dia tidak menghiraukan apakah kemauan dan permintaan suaminya bertentangan dengan perasaannya dan ketentuan yang berlaku. Hal itu semua dilakukannya karena pemahamannya yang dangkal tentang ajaran agama yang dimilikinya. Ia punya pengetahuan dan pemahaman tentang ajaran agama Islam yang mengajarkan bahwa istri harus patuh dan taan kepada suami. Istri yang tidak patuh dan taat kepada suami adalah istri yang durhaka dan tidak akan masuk surga serta dilaknat Allah SWT. Karena ia ingin menjadi istri yang taat dan patuh pada suaminya walaupun bertentangan dengan ajaran agama. Kekeliruan tentang pemahaman dan pengalaman ajaran agama tersebut, diluruskan oleh beberapa perempuan yang memiliki pengtahuan dan pemahaman agama Islam yang lebih mendalam.

Mereka mengatakan bahwa perbuatan yang mereka lakukan tersebut adalah perbuatan yang dilarang oleh Alah SWT . istri harus patuh dan taat kepada suami ada batasnya yaitu selama perintah yang disuruh tersebut tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Hal ini tergambar dalam bait-bait Syair berikut : Ada tertawa ada yang marah Ada tertawa ada yang marah Bini lebai mukanya merah Inilah taat tak tentu arah Bini Encik Gafur berkata tentu Orang taat semua begitu Lamun disalahi walaupun satu Perempuan taat bukannya begitu Karena kami taat menurut Kehendak betul kehendak herat Istri Mufti marah terkejut Karena itu taat yang karut Dan itulah salah bid’ah Tiada sekali memberi manfaat Laki-laki yang jahat melanggar syari’ah Adakah patut engkau turut Dan lagi terlalu salah Melebihkan suami daripada Allah Sejahat-jahat kerja engkau itulah Akan Sekarang segera kebetulan Jangan apa paham tersalah Akan hukum kitab Allah Taat suami benarkanlah Had dan mesti adalah.

Sumber: http://www.visittanjungpinang.com

Selengkapnya...

Kuntala, Sriwijaya dan Swarnabhumi

oleh Prof.Dr.Slamet Mulyana

KERAJAAN Sriwijaya kebanggaan masa silam Indonesia. Kekuasaannya melampaui batas geografis tanah air kita, berabad-abad mendominasi pelayaran dan perdagangan antarbangsa, satu-satunya negara Asia Tenggara abad tengah yang banyak diberitakan kronik Arab dan Cina. Namun penyusunan sejarahnya belum tuntas. Maklum Sriwijaya baru dikenal dalam historiografi modern pada tahun 1918, berkat tulisan George Coedes, Le Royaume de Crivijaya.

Kronik Cina abad ke-7 dan ke-8 memberitakan negeri atau kerajaan di ‘laut selatan’ bernama Shih-li-fo-shih. Kronik abad ke-9 sampai ke-14 memberitakan negeri San-fo-tsi. Berdasarkan beberapa prasasti yang menyebut nama ‘Sriwijaya’, Coedes mengidentifikasi Sriwijaya sebagai nama negeri dan kerajaan yang ditransliterasikan menjadi Shih-li-fo-shih atau San-fo-tsi. Dan lahirlah teori: Kerajaan Sriwijaya berdiri sejak abad ke-7 sampai ke-14.


Buku terbaru Prof.Dr.Slametmulyana ini, bekas dekan Fakultas Sastra Universitas Indonesia, banyak memberikan sumbangan berharga bagi penyusunan sejarah Sriwijaya. Karya filolog terkemuka ini diharapkan dapat merangsang pemikiran baru.

Dengan argumentasi meyakinkan, pengarang melokasikan negeri Sriwijaya (Shih-li-fo-shih) di Palembang dan negeri Malayu (Mo-lo-yu) di Jambi. Pelokasian Malayu ditunjang oleh prasasti Amoghapasa di Jambi yang menyebutkan negeri Malayu. Penelitian geomorfologi Dinas Purbakala, 1954, yang membuktikan Jambi abad ke-7 terletak di pantai dan ideal bagi persinggahan kapal, ternyata cocok dengan uraian pendeta I-tsing (634-713) tentang pelabuhan Malayu.

Pelokasian Sriwijaya di Palembang memiliki bukti-bukti tak terbantah. Uraian I-tsing bahwa Sriwijaya di tenggara Malayu dan di muara sungai besar. Penelitian geomorfologi bahwa Palembang abad ke-7 berlokasi di pantai. Sebagian besar prasasti Sriwijaya ditemukan di Palembang. Dan yang terpenting, prasasti Telaga Batu di Palembang merinci nama jabatan yang hanya mungkin ada di pusat pemerintahan: putra mahkota, selir raja, senapati, hakim, para menteri, sampai pembersih dan pelayan istana.

Ini perlu ditegaskan karena para penyusun Sejarah Nasional Indonesia (Jilid II, Zaman Kuna) —buku standar dari Dep. P&K— terlalu gegabah menjatuhkan vonis: ibukota Sriwijaya bukan di Palembang. Mereka kiranya wajib meruntuhkan argumentasi Prof. Slametmulyana.

Pengarang juga menguraikan perluasan wilayah Sriwijaya berdasarkan prasasti-prasasti dan uraian I-tsing. Akhir abad ke-7, raja Sriwijaya Dapunta Hyang Sri Jayanasa menaklukkan Bangka, Lampung, Malayu (Jambi), Sumatera Timur, Semenanjung Malaka, Muangthai Selatan. Prasasti Kota Kapur (Bangka) menyebutkan pada 686 tentara Sriwijaya berangkat menyerbu Jawa. Menurut pengarang, yang ditaklukkan adalah Jawa Barat, terbukti dari adanya prasasti berbahasa Melayu di Bogor. Prasasti Sriwijaya memang berbahasa Melayu, dan tak mungkin raja Jawa atau Sunda mengeluarkan prasasti dengan bahasa itu. Tapi mengapakah pengarang ragu menyimpulkan bahwa Jawa Tengah pun pernah dikuasai Sriwijaya?

Di Jawa Tengah banyak prasasti berbahasa Melayu: Sojomerto, Gandasuli, Dieng, Bukateja, Candi Sewu. Prasasti Sojomerto (ditemukan tahun 1963) menyebut Dapunta Selendra, pendiri Wangsa Sailendra. Gelar ini sama dengan gelar raja Sriwijaya, Dapunta Hyang. Prasasti Gandasuli menyebut pembesar Sailendra bergelar Sida, gelar yang tak dimiliki pembesar Jawa. Yang jelas, itu adalah gelar pembesar Sriwijaya seperti tercantum pada prasasti di Palembang (J.G. de Casparis, Prasasti Indonesia II, 1956, h.5). Pengarang mengatakan Dapunta Selendra berasal dari Sumatera Selatan (h.148). Seharusnya pengarang lebih tegas mengatakannya dari Sriwijaya. Tumbuhnya Wangsa Sailendra di Jawa Tengah abad ke-8 berkat penaklukan daerah ini oleh Sriwijaya. Tidak mustahil, Dapunta Selendra adalah salah seorang keturunan Dapunta Hyang yang diberi daerah kekuasaan di Jawa Tengah.

Prasasti Nalanda (860) menyebutkan bahwa Balaputradewa raja Suwarnadwipa adalah keturunan Sailendra dari Jawa. Dari prasasti Siwagreha (856) diketahui bahwa Balaputra mengungsi dari Jawa lantaran kalah perang melawan Wangsa Sanjaya. Sangat mustahil seorang pengungsi dari Jawa diterima orang Sriwijaya menjadi raja jika tak ada hubungan famili! Para ahli sejarah seperti George Coedes, F.D.K. Bosch, Muhammad Yamin, Oliver W. Wolters, menduga ibu Balaputra adalah putri Sriwijaya. Tapi tak ada sumber sejarah mengatakan demikian. Kiranya alasan yang tepat adalah bahwa Wangsa Sailendra berasal dari Sriwijaya. Jadi Balaputradewa kembali ke daerah nenek moyangnya. Wajar jika ia memiliki hak atas tahta Sriwijaya.

Tapi Prof. Slamet membuat ‘teori baru’ dalam bukunya ini. Menurutnya, Kerajaan Sriwijaya runtuh pada abad ke-8 karena ditaklukkan Wangsa Sailendra. Lalu Balaputradewa mendirikan kerajaan baru pada abad ke-9 di Jambi bernama Suwarnadwipa. Nama ini bersinonim dengan Suwarnabhumi yang ditransliterasikan San-fo-tsi dalam kronik Cina.

Teori Prof. Slamet bertentangan dengan sumber sejarah yang mengatakan Kerajaan Sriwijaya masih ada pada abad ke-11. Prasasti di India yang dikenal dengan Piagam Leiden menyebutkan raja Sriwijaya tahun 1006 bernama Sri Marawijayatunggawarman, putra raja Sri Cudamaniwarman keluarga Sailendra. Sudah tentu raja ini keturunan Balaputradewa. Konsekuensinya, Suwarnadwipa pada prasasti Nalanda adalah Kerajaan Sriwijaya. Kedua nama raja Sriwijaya dalam Piagam Leiden cocok dengan nama-nama raja San-fo-tsi, Se-li-chu-la-wu-ni dan Se-li-ma-la-pi, dalam kronik Sung-shih (Sejarah Dinasti Sung). Tahunnya pun cocok. Jadi San-fo-tsi yang diberitakan kronik Sung-shih adalah Kerajaan Sriwijaya.

Untuk menutupi kelemahan teorinya, pengarang mengatakan Piagam Leiden itu menyesatkan karena, katanya, bertentangan dengan berita Al-Mas`udi bahwa Sriwijaya merupakan negeri bawahan (h.182). Entah buku Al-Mas`udi mana yang dibaca pengarang. Yang jelas, Abu Hasan Al-Mas`udi dalam catatannya Murujuz-Zahab wa Ma’adinul-Jawhar (943) tak pernah mengatakan demikian. Justru dari keterangan Al-Mas`udi dan musafir-musafir Arab lainnya kita mengetahui bahwa negeri paling utama di Asia Tenggara abad ke-10 adalah Sriwijaya.

Namun saya sependapat dengan pengarang bahwa San-fo-tsi dalam kronik Chu-fan-chi (Catatan Negeri Asing, ditulis oleh Chau Ju-kua pada 1225) bukanlah Kerajaan Sriwijaya-Palembang, melainkan Kerajaan Malayu-Jambi (hh.188-189). Chu-fan-chi mengatakan Palembang sebagai negeri bawahan San-fo-tsi. Uraian Chu-fan-chi tentang pelabuhan San-fo-tsi sama dengan uraian I-tsing tentang Malayu dan cocok dengan penelitian geomorfologi tentang Jambi.

Jadi ada dua kerajaan (Sriwijaya dan Malayu) yang disebut San-fo-tsi. Patut diingat, kronik Cina sering menyebut suatu negeri atau kerajaan dengan nama pulaunya. Sebelum abad ke-15 Pulau Sumatera bernama Suwarnadwipa atau Suwarnabhumi, artinya ‘pulau emas’. Kiranya Prof. Slamet benar ketika mengidentifikasi nama San-fo-tsi dengan Suwarnabhumi. Tapi beliau lupa bahwa itu nama pulau. Wajar jika berita tentang San-fo-tsi ada yang cocok untuk Sriwijaya-Palembang dan ada yang cocok untuk Malayu-Jambi. Kedua kerajaan ini sama-sama disebut San-fo-tsi karena memang terletak di Sumatera. Seperti halnya kerajaan-kerajaan di Jawa disebut She-po (transliterasi dari nama Jawa).

Adapun runtuhnya Sriwijaya bisa dilacak sebagai berikut. Setelah kerajaan itu lumpuh akibat serangan Cola pada 1025 (prasasti Tanjore), negeri Malayu yang sejak abad ke-7 menjadi bawahannya bangkit kembali. Kronik Ling-wai-tai-ta mencatat utusan Jambi ke Cina pada 1079, 1082, 1088. Sepanjang abad ke-12 kiranya Malayu merebut banyak daerah dari tangan Sriwijaya yang kian lemah. Pada 1183 kekuasaan Malayu telah sampai ke Semenanjung Malaka (prasasti Grahi). Menurut Sung-shih, utusan terakhir Sriwijaya ke Cina datang pada 1178. Tiba-tiba kronik Chu-fan-chi tahun 1225 mencatat Palembang sebagai bawahan Malayu. Boleh dipastikan, Kerajaan Sriwijaya runtuh akhir abad ke-12 atau sekitar tahun 1200 (antara 1178 dan 1225) karena ditaklukkan oleh Kerajaan Malayu! Ini merupakan antitesis terhadap teori Prof. Slamet yang menganggap Sriwijaya runtuh abad ke-8. Sekaligus antitesis terhadap pendapat umum ahli sejarah yang menganggap Sriwijaya runtuh abad ke-14.

Jadi yang disebut San-fo-tsi abad ke-13 dan ke-14 adalah Kerajaan Malayu. Kitab Nagarakretagama (1365) pupuh XIII menyebutkan seluruh daerah di Sumatera sebagai ‘Bhumi Malayu’. Selama ini ahli sejarah menganggap San-fo-tsi sinonim dari Shih-li-fo-shih (Sriwijaya). Akibatnya kebesaran Kerajaan Malayu tidak mendapat tempat dalam buku sejarah. Malayu yang jaya abad ke-13 disangka Sriwijaya.

Prof. Sukmono melokasikan Sriwijaya di Jambi lantaran banyak berita San-fo-tsi yang cocok untuk Jambi (Tentang Lokalisasi Sriwijaya, 1958). Prof. George Coedes yang melokasikan Sriwijaya di Palembang masih perlu menulis: Whether it had its center at Palembang or at Jambi... (The Indianized States of Southeast Asia, 1968, h.179). Prof. O.W. Wolters dalam dua bukunya, Early Indonesian Commerce (1967) dan The Fall of Srivijaya (1970), menduga ibukota Sriwijaya mula-mula di Palembang lalu pindah ke Jambi. San-fo-tsi dalam kronik Chu-fan-chi diartikannya ‘Srivijaya, now meaning Malayu-Jambi’. Kalimat Wolters ini jelas aneh, sebab bagaimanapun Sriwijaya dan Malayu dua kerajaan yang berbeda, tak boleh disamakan begitu saja. Semua kesimpangsiuran di atas lantaran satu sebab: mereka menganggap berita-berita San-fo-tsi selalu menyatakan Sriwijaya.

Sejarah Dinasti Ming abad ke-14 mengatakan ‘San-fo-tsi dahulu disebut Kan-to-li’. Kan-to-li adalah negeri abad ke-5 sebelum Malayu dan Sriwijaya. Karena San-fo-tsi zaman Ming adalah Malayu, lokasi Kan-to-li tentu di Jambi. Perlu dicatat, banyak nama tempat yang berasal dari nama tempat di India. Huruf prasasti di Asia Tenggara serupa dengan di Kuntala, dekat Mysore (J.G. de Casparis, Indonesian Palaeography, 1975, h.13). Pendapat Prof. Slamet sungguh menarik dan patut dipertimbangkan: nama Kuntala (Kuntali) diambil sebagai nama negeri di Jambi abad ke-5 yang ditransliterasikan Kan-to-li. Lama-kelamaan nama Kuntal mengalami metatesis menjadi Tungkal, nama daerah di Jambi.***

Sumber:
http://www.wacananusantara.org

Selengkapnya...

Wayang Kulit versi Malaysia

Oleh Tim Daftarwarisan.gov

Butiran Warisan:
Latar Belakang Sejarah : Wayang Kulit adalah satu bentuk teater tradisional yang menggunakan prinsip cahaya dan bayang. Bayang-bayang daripada patung-patung kulit yang terdiri daripada pelbagai watak mitos dan khayalan dilarikan oleh seorang dalang. Di Alam Melayu, Wayang Kulit boleh didapati dalam beberapa jenis. Antaranya termasuklah Wayang Kelantan, Wayang Melayu, Wayang Purwo dan Wayang Gedek. Persembahan wayang kulit akan diiringi dengan satu kumpulan muzik sebagai membantu menghidupkan lagi watak-watak yang dimainkan dan menggambarkan suasana adegan-adegan yang berlaku ketika itu. Peralatan muzik yang sering digunakan dalam persembahan wayang kulit adalah Serunai (utama), Gendang Ibu, Gendang Anak, Gendombak Ibu, Gedombak Anak, Kesi, Geduk Ibu, Geduk Anak, Canang dan Gong.


Jenis – jenis Wayang Kulit
Wayang kulit di Malaysia terbahagi kepada tiga jenis iaitu Wayang Kelantan, Wayang Purwo dan Wayang Gedek. Wayang Kelantan terdapat di Kelantan dan negeri-negeri Pantai Timur yang mempersembahkan cerita-cerita Hikayat Seri Rama, manakala Wayang Purwo pula terdapat di bahagian Selatan Pantai Barat Semenanjung terutamanya di Johor yang mengetengahkan episod dari kitab Mahabrata dan cerita Panji. Wayang kulit didirikan oleh beberapa elemen penting iaitu dalang, patung, kelir dan muzik. Gabungan dari elemen inilah yang menjadikan persembahan wayang kulit satu persembahan yang harmonis.

Dalang
Dalang merupakan pemimpin dan tukang cerita dalam persembahan wayang kulit. Dalang juga bertindak sebagai pemain segala peranan dalam cerita wayang kulit dengan menggerakkan patung yang diukir daripada kulit lembu, untuk melambangkan pelbagai watak dalam cerita seperti Ramayana, Mahabrata dan Panji. Dalang dikenali sebagai tokoh pencerita yang beraksi sambil bercerita, serta memainkan patung wayang kulit. Antara dalang-dalang yang terkenal ialah Pak Hamzah, Dolah Baju Merah, Dalang Noh Siam, Pak Margono Sitir dan lain-lain.

Pentas / Kelir
Pentas Wayang Kulit diperbuat daripada kayu begitu juga dindingnya manakala bagi atap pula diperbuat daripada daun rumbia atau daun nipah. Pentas biasanya dibina tiga atau empat kaki daripada tanah dan ia menyerupai pondok kecil yang boleh menempatkan patung-patung, ala-alat muzik dan perkaksas-perkakas persembahan.

Kelir pula merupakan sejenis kain putih direntang di depan panggung yang melindungi dalang dan pemain muzik. Di belakang kelir dipasang lampu untuk menerbitkan bayang. Pada zaman dahulu, lambu (belincong) yang digunakan ialah pelita ayam sebelum muncul gasolin. Kini bal lampu digunakan menggantikan gasolin dan pelita ayam.

Patung
Patung-patung merupakan peranan penting dalam wayang kulit. Bentuk patung wayang kulit yang berpengaruh Jawa mempunyai sendi tangan yang boleh digerakkan tetapi pada patung wayang kulit Kelantan hanya mempunytai satu sendi tangan. Antara watak-watak wayang kulit yang digunakan ialah seperti Wak Long, Pak Dogol, Mahasiko (Wayang Kelantan), Semar dan Cemuras / Turas (Wayang Melayu) bukan sahaja melambangkan perwatakan tempatan tetapi pembentukan patungnya juga terkeluar dari kelaziman pembentukan patung-patung yang lain.

Muzik
Penggunaan alat muzik dalam persembahan wayang kulit adalah berbeza antara satu dengan yang lain. Peralatan muzik untuk Wayang Kulit Kelantan ialah gong, (tetawak), gendang, geduk, gedombak, canang, mong, serunai dan kesi. Bagi Wayang kulit Purwo pula alat-alat muzik yang digunakan ialah gong besar (gong Agong), gong suwukan, gambang, kempul, kenong, gender, slentem, demung, saron, peking (saron penerus), ketok / kompang, rebab dan gendang. Antara jenis-jenis lagu yang dimainkan pula ialah seperti Lagu Bertabuh, Perang, Seri Rama, Kabar Manja, Buluh Seruas, Pandan Wangi dan banyak lagi.

Kesimpulan
Wayang Kulit seabagi teater tradisional adalah gambaran kehodupan masyarakat Meolayu Tradisional. Ia bukan semata-mata sebagai hiburan, tetapi lebih penting adalah gambaran sikap, nilai, norma, hati budi dan konsep hidup serta kepercayaan pemikiran masyarakat pada waktu tersebut

Sumber:
http://daftarwarisan.gov.my

Selengkapnya...

Kearifan Lokal di Ranah Minang


Kearifan Lokal merupakan adat dan kebiasan yang telah mentradisi dilakukan oleh sekelompok masyarakat secara turun temurun yang hingga saat ini masih dipertahankan keberadaannya oleh masyarakat hukum adat dalam suatu wilayah di negara tercinta Indonesia ini, seperti Subak di Bali, Bera di Kalimantan dan lain sebagainya.

Di Propinsi Sumatera Barat yang sering juga disebut dengan Ranah Minang, juga terdapat beberapa jenis Kearifan Lokal yang berkaitan dengan pengelolaan Hutan Tanah dan Air diantaranya Rimbo Larangan, Banda Larangan, Tabek Larangan, Mamutiah Durian, Parak, Menanam Tanaman Keras sebelum Nikah, Goro Basamo dan masih banyak lagi yang lainnya.


Rimbo Larangan (Hutan Larangan )
yaitu hutan yang menurut aturan adat tidak boleh ditebang karena fungsinya yang sangat vital sekali sebagai persediaan air sepanjang waktu untuk keperluan masyarakat, selain itu kayu yang tumbuh dihutan juga dipandang sebagai perisai untuk melindungi segenap masyarakat yang bermukim disekitar hutan dari bahaya tanah longsor. Apabila ada terdapat diantara warga yang akan membuat rumah yang membutuhkan kayu, maka harus minta izin lebih dulu kepada aparat Nagari melalui para pemangku adat untuk menebang kayu yang dibutuhkan dengan peralatan Kapak dan Gergaji tangan.

Banda Larangan ( Sungai, Anak Sungai / Kali Larangan )
merupakan suatu aliran sungai yang tetap dijaga agar tidak tercemar dari bahan atau benda yang bersifat dapat memusnahkan segenap binatang dan biota lainnya yang ada di aliran sungai sehingga tidak menjadi punah, seperti halnya warga masyarakat tidak boleh menangkap ikan dengan cara Pengeboman, memakai racun, memakai aliran listrik dan lain sebagainya. Untuk panen Ikan dari Banda Larangan tersebut, pihak Pemangku Adat dan Aparat Nagari melaksanakan dengan cara membuka larangan secara bersama-sama masyarakat untuk kepentingan bersama dan hasilnya selain untu masyarakat juga sebahagian untuk KAS Nagari. Biasanya Banda Larangan ini dibuka sekali setahun atau sekali dua tahun tergantung kesepakatan Para Pemangku Adat.

Tabek Larangan (tebat larangan)
yaitu Kolam air yang dibuat secara bersama oleh masyarakat pada zaman dulu dengan tujuan untuk persediaan air bagi kepentingan masyarakat dan didalam Tabek tersebut juga dipelihara berbagai jenis ikan, saat untuk membuka Tabek Larangan tersebut sama dengan seperti di Banda Larangan.

Mamutiah durian ( memutih durian )
yaitu kegiatan menguliti pohon durian apabila kedapatan salah seorang warga masyarakat pemilik pohon durian yang memanjat dan memetik buah durian sebelum durian itu matang, hal itu dilakukan sebagai sanksi moral bagi masyarakat yang melakukannya karena dipandang tidak mempunyai rasa sosial antar sesama. Setelah pohon Durian dikuliti maka secara berangsur pohon itu akan mati. Biasanya pemilik pohon durian akan mendapatkan hasil semenjak matahari terbit sampai terbenam, sedangkan disaat malam hari buah durian yang jatuh telah menjadi milik bersama.

Parak
yaitu suatu lahan tempat masyarakat berusaha tani dimana terdapat keberagaman jenis tanaman yang dapat dipanen sepanjang waktu secara bergiliran, sehingga pada lahan parak ini terdapat nilai ekonomi yang yang berkelanjutan. Apabila dilihat dari jauh, parak di pandang seolah-olah seperti hutan dan juga berfungsi sebagai penyangga bagi daerah dibawahnya.

Menanam Tanaman Keras disaat seorang laki-laki akan memasuki jenjang perkawinan bertujuan untuk tabungan disaat sudah punya keturunan nanti untuk kebutuhan keluarga, biasanya tanaman yang ditanam berupa Kelapa, Kayu ( Surian ) Suren dan tanaman lainnya yang penuh dengan manfaat.

Goro Basamo merupakan kegiatan kerja bersama secara gotong royong untuk kepentingan masyarakat banyak seperti membuat jalan baru, bangunan rumah ibadah, membersihkan tali bandar (sungai), menanam tanaman keras dan lain sebagainya.

Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Agam Kuantan Propinsi Sumatera Barat, pada tahun 2006, telah memulai kegiatan Model Kelembagaan Berbasis Kearifan Lokal yang pada tahapannya telah mendata dan mengumpulkan beberapa jenis kearifan lokal yang erat kaitannya dengan pengelolaan hutan tanah dan air, bertempat dinagari Situjuah Gadang Kecamatan Situjuah Limo Nagari Kabupaten Lima Puluh Kota. Jenis kearifan lokal tersebut diharapkan akan diatur dengan Peraturan Nagari yang dilengkapi dengan sanksi-sanksi bagi masyarakat yang melanggarnya. Kesepakatan-kesepakatan yang dihasilkan untuk dijadikan Peraturan Nagari tersebut berasal dari hasil musyawarah dan mufakat para pemangku adat dan elemen masyarakat lainnya seperti Ninik Mamak, Alim Ulama, Cerdik Pandai, Bundo Kandung, aparat nagari serta pemuda pagar nagari. Tahun 2007 ini, BPDAS Agam Kuantan berencana akan menindaklanjutinya dengan memfasilitasi jenis tanaman kayu-kayuan dan buah-buahan sesuai dengan permintaan Walinagari Situjuah Gadang serta sebagaimana dengan yang tertuang dalam Renstra Nagari Situjuah Gadang.

Sumber:
http://www.bpdas-agamkuantan.net


Selengkapnya...

Menelusuri Jejak Sejarah Kota Sampit

oleh Fauziannur

Menelusuri jejak sejarah Kota Sampit, nama ibukota Kotawaringin Timur itu ternyata tak lepas dari pengaruh budaya Tionghoa. Konon, asal mula nama Sampit diambil dari bahasa Cina, yang artinya Sam (tiga) dan It (satu). Bagaimana sejarahnya?

SEJARAH Sampit tak lepas dari sejarah Kotawaringin Timur. Secara historis, semuanya tak terlepas dari pemerintahan Majapahit dan masuknya agama Islam ke Kalimantan, yang saat itu wilayah pantai Kalimantan Tengah bagian selatan dikuasai oleh kerajaan Demak.


Sejarah Kotawaringin Timur sendiri dimulai dengan masuknya pengaruh kerajaan Hindu Majapahit di tahun 1365, dengan mengangkat kepala-kepala suku menjadi menteri kerajaan. Ini dikuatkan dengan disebutnya daerah Kotawaringin dalam pupuh XIII Buku Nagara Kertagama karya Mpu Prapanca.

Pada masa itu disebutkan, terutama pada masa keemasan Kerajaan Majapahit, yang diperintah oleh Raja Hayam Wuruk dengan mahapatihnya yang tersohor yaitu Gajah mada. Di salah satu bagian buku yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada 1365 itu juga disebutkan, bahwa pernah dilakukan ekspedisi perjalanan nusantara di mana salah satu tempat yang mereka singgahi adalah Sampit dan Kuala Pembuang.

Sedangkan nama Kotawaringin sendiri berasal dari nama pohon beringin yang banyak tumbuh di daerah ini. Pohon ini mempunyai akar yang panjang dan daun yang lebat (Yusuf dan Kassu, 1989:48).

Terlepas dari itu, munculah di Kotawaringin sebuah pemukiman penduduk yang saat ini dijadikan sebagai ibukota Kabupaten, yang dinamakan Sampit. Nah, bagaimana sejarahnya hingga dinamakan Sampit? Berdasar data sejarah yang ada di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kotim menyebutkan, bahwa sejarah Sampit tak lepas dari kisah kedatangan 31 orang Cina yang masuk ke Sungai mentaya dan menetap di tepian Sungai.

Di dalam sejarah yang diterbitkan oleh Bappeda Kotim, tidak disebutkan dimana letak persis lokasi pendaratan etnis Tionghoa ini. Yang jelas, kedatangan 31 orang Cina ini adalah untuk berdagang dan membuka usaha perkebunan di wilayah Kotawaringin Timur ini.

Lantaran jumlah pedagang dari Cina ini berjumlah 31 itulah, atau dalam bahasa Cinanya tiga adalah Sum dan satu disebut It. Maka jika digabungkan kedua sebutan angka tersebut menjadi Samit, entah siapa yang kali pertama menyebutkan nama Samit menjadi Sampit. Yang jelas, tempat mereka datang kemudian dikenal dengan nama Sampit, yang kemudian diabadikan hingga menjadi ibu kota kabupaten hingga sekarang.

Sejarahnya, orang-orang Cina ini bukan saja berdomisili dan berusaha di wilayah Sampit saja, namun mereka juga mengembangkan usaha hingga ke wilayah Samuda, yang dikenal menjadi basis pertahanan pejuang ketika melawan penjajahan Belanda dan Jepang.

Etnis-etnis Tionghoa ini berbaur menjadi satu bersama warga setempat baik dengan warga etnis Dayak, maupun warga etnis lainnya yang hidup di pesisir pantai seperti daerah Samuda. Karena, saat itu, wilayah Kotawaringin sendiri sudah dikenal menjadi wadah tujuan perdagangan dari luar Sampit, sehingga sudah dikenal mempunyai multi etnik yang terdiri beberapa suku bangsa.

Keberadaan orang-orang Cina ini tentu saja selain mempengaruhi kehidupan perekonomian warga, juga mereka memberikan pengaruh terhadap arsitektur lokal Sampit sendiri. Sehingga arsitekturnya dikenal dengan sebutan arsitektur Bahari. (***)

Sumber:
http://www.radarsampit.com

Selengkapnya...

Peninggalan Kerajaan di Dharmasraya, Sejarah yang Dijarah

By Nasrul

Kendati masih berusia muda, Kabupaten Dharmasraya menyimpan sejuta pesona. Dari sana sekitar abad 11 masehi lembar sejarah Kerajaan Melayu bermula. Peninggalan-peninggalan arkeolog seperti candi, artefak, masjid, makam raja-raja dan rumah gadang menjadi saksi bisu sejarah kerajaan Hindu-Budha dan Islam di kabupaten pemekaran itu.

Sayang, kondisinya memprihatinkan, terabaikan dan tak ada yang peduli. Beberapa simpul sejarah yang bisa bercerita akan kondisi miris itu di antaranya peninggalan arkeolog kerajaan Hindu-Budha dan Islam yang tersebar di Nagari Siguntur, Padanglaweh dan Pulaupanjang. Parahnya lagi rentetan ekspedisi Pamalayu itu tidak diketahui masyarakat. Masyarakat cenderung apriori dengan sejarah di daerah tersebut, termasuk mahasiswa. “Ambo lai tahu ado situs bersejarah di Siguntur tapi alun ado ke sinan soalnyo ndak tontu apo nan dicari (saya tahu ada situs bersejarah di Siguntur, tapi belum pernah ke sana. Tidak tahu apa yang mau dicari) ,” ujar Peldi, mahasiswa asal Dharmasraya.


Masyarakat sekitar pun ternyata banyak yang tak kenal dengan sejarah bahkan terkesan tidak peduli. Bayangkan saja, batu-batu situs sejarah itu pernah mereka diperjualbelikan untuk membangun rumah-rumah mereka. Baru tahun 1994, setelah mendapat izin pelestarian dan penggalian serta pelarangan untuk mengambil dan merusak, situs bersejarah dapat mulai terpelihara. “Mano kami tahu, kalau tumpukan bata itu bangunan candi. Jadi kini batu-batu bata, lah menyebar ke mano-mano, ambo turuik juo maangkek untuk dijua (Mana kami tahu kalau tumpukan batu itu candi. Sekarang batu batanya sudah menyebar ke mana-mana, saya juga ikut mengangkat batu-batu itu untuk dijual),” kata Azis, Ketua Pemuda Sungai Lansek.

Menurut Aziz, saat arca Bhairawa ditemukan sudah terdapat kerusakan. Kakinya yang satu berbeda dengan yang lain terdapat lekukan dan ukurannya lebih kecil. Sebab, sebelumnya salah satu kaki arca itu sering dijadikan batu asah sabit, pisau dan parang oleh para pengembala kerbau. Hal ini dibenarkan Kepala Jorong Sungai Lansek, Bachtiar. Penemuan arca di samping rumahnya menjadi indikasi benda-benda bersejarah tersebut berserakan. Padahal kalau dikelola dengan baik memiliki potensi parawisata yang luar biasa. Terbukti, wisatawan selalu datang bergantian mengunjunginya, terutama para peneliti sejarah baik dalam maupun luar negeri.

Sementara itu, Kepala Jorong Sungai Lansek, Bactiar (50) sangat menyayangkan kurangnya perhatian pemerintah terhadap pengelolaan situs purbakala. Jalan setapak menuju lokasi masih tanah dan kala hujan turun akan becek sehingga susah diakses. Belum lagi di sekitar lokasi sudah banyak lahannya yang beralih fungsi menjadi ladang masyarakat. Padahal di tempat itu sudah teridentifikasi menyimpan peninggalan-peninggalan bersejarah. Masalah penerangan listrik PLN yang belum masuk, membuat lokasi yang pernah menjadi bagian dari ekspedisi Kerajaan Singosari yang berlokasi di seberang Batanghari itu agak terpinggirkan dan kian suram.

“Jika diperhatikan Pemkab tentu banyak wisatawan yang bakal berkunjung. Dari situ kami bisa mendapatkan tambahan pendapatan. Apalagi dalam sebulannya sekitar 150 wisatawan berkunjung. Bahkan tak jarang wisatawan datang rombongan dalam jumlah besar,” terang Bactiar. Sementara itu, Drs. Nopriyasman, M.Hum dari Jurusan Sejarah Unand Padang melihat sikap tak peduli masyarakat terhadap situs dan sejarah sudah berlangsung dari dulu. Kondisi ini terjadi karena kurangnya informasi dan penghargaan sekaligus bentuk sikap penolakan masyarakat terhadap hal-hal yang berbau Hinduisme. “Padahal itu bagian dari sejarah yang mesti disosialisasikan kepada masyarakat sebagai bukti Sumbar pun pernah menjadi pusat kerajaan. Karena selama ini tidak hanya pemerintahan yang sentralistis dan Jawa sentris tetapi budaya Indonesia pun seakan-akan budaya Jawa saja,” bebernya.

Semangat ini, tambah Nopriyasman, bukan untuk memunculkan sikap provinsialisme tetapi membangun kesadaran bersama bahwa budaya Indonesia merupakan keragaman budaya yang tersebar di Nusantara bukan Jawa semata. Hal ini sangat penting dalam menguatkan rasa kebangsaan melalui pemahaman yang utuh terhadap sejarah. Karena itu, kita meminta pemerintah harus segera memberikan perhatian penuh terhadap sejarah dan benda-benda peninggalannya sehingga tidak terjadi pengikisan secara terus menerus. Hal ini bisa dilakukan melalui kerjasama dengan balai sejarah, perguruan tinggi dan lembaga lainnya melakukan penelitian, penulisan dan pembukuan sejarahnya.

“Malahan catatan sejarah itu harus dimasukkan dalam muatan lokal sehingga generasi muda bisa mengetahui dan memahaminya. Malahan untuk benda-benda peninggalan kerajaan harus dibuatkan museum kecil agar terawat dengan baik. Dan kedepan Pemkab harus berpikir mengalokasikan anggaran untuk semua kegiatan itu,” tandasnya. Kendati demikian, kata Nopriyasman, Pemerintah harus tetap hati-hati dalam melakukan pemugaran dan menghilangkan keasliannya karena daya tariknya bakal berkurang. Apalagi selain menjaga keutuhan sejarah dan benda-benda purbakala pemugaran ini penting pula untuk mendorong berkembangnya wisata sejarah. “Jadi pemerintah sebetulnya tidak perlu ragu dalam mengalokasikan anggaran untuk itu. Karena kalau sudah terawat dengan baik tentu bakal banyak wisatawan yang berkunjung. Minimal akan menjadi objek penelitian dan itu akan menjadi sumber pendapatan daerah,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Dinas Perhubungan dan Pariwisata Kabupaten Dharmasraya, Agani mengakui, situs-situs bersejarah itu belum dapat dioptimalkan pemeliharannya dan sekaligus menjadikannya sebagai objek wisata. Namun ia menegaskan, secara bertahap akan mengelola melalui bidang parawisata. “Kita sadar bahwa situs-situs purbakala ini bisa menjadi salah satu objek wisata yang bisa mendatangkan pendapatan daerah, tapi kita butuh proses untuk melakukannya,” ujarnya.

Perpaduan Hindu-Budha dan Islam di ranah Dharmasraya menjadi pesona wisata sejarah tersendiri di kabupaten termuda Sumbar itu. Sayang, catatan sejarah itu belum banyak terekspos dan dibukukan. Padahal masih banyak peninggalan-peninggalan kerajaan yang pantas untuk dikaji dan ditelusuri. Malahan keturunan raja-raja Dharmasraya yang berpusat di beberapa daerah masih bisa kita temui.

Berbagi cerita sambil mengenal kembali sejarah bangsa.Menuju situs bersejarah itu, penuh dengan tantangan dan pesona. Lokasi masing-masing situs yang terbelah Sungai Batang Hari menjadi daya tarik tersendiri untuk dikunjungi. Lagi-lagi sayang, daerah tersbeut nyaris tak tersentuh dan belum terkelola dengan baik menjadi wisata sejarah. Itu pula yang terus menerus melucur dari bibir para turis yang sering berkunjung. Akses transportasi satu kendala yang hingga kini belum teratasi. Lokasinya nan jauh dari jalan lintas Sumatera membuatnya sulit terjangkau para wisatawan. Menggapai Kerajaan Siguntur sebagai salah satu pusat kerajaan harus ditempuh dengan ojek dari Simpang Sikabah. Padahal jaraknya hanya 4 kilometer. Untungnya, rasa letih dan dahaga akan tak bakal terasa ketika menemui masjid tua, istana dan kuburan para raja dari kerajaan Islam. Tak puas
dengan situs peninggalan kerajaan Islam, kita bisa meneruskan perjalanan ke lokasi situs peninggalan kerajaan Hindu-Budha di Jorong Sungai Lansek. Terdapat dua jalur untuk menggapainya di antaranya jalur Sungai Batanghari, Siguntur menggunakan perahu boat atau disebut “ tempek” sejauh 3 kilometer dengan perjalanan selama 15 menit.

“Bisa juga melalui jalur Koto Tuo menggunakan perahu “Ponton” atau besi panyubarangan. Ongkosnya relatif murah jika dibandingkan menggunakan perahu “tempek”,” ujar Ibarhim (53), salah seorang tokog Siguntur. Selama dalam perjalanan akan dijumpai pemandangan yang indah dan aktivitas ekonomi masyarakat sepanjang sungai Batanghari. Beragam aktifitas masyarakat bakal terlihat mulai dari pencarian ikan, pengerukan pasir, batu dan sebagai lintas transportasi. Tentu hal ini akan memberi kesan tersendiri bagi para pencinta petualangan alam nan menyegarkan. Kala kita sampai di dermaga penyeberangan harus siap-siap jalan kaki sejauh 1,5 km untuk sampai ke candi Padang Roco. Perjalanan ini melewati perkampungan masyarakat Siluluk dan Sungai Lansek yang ramah terhadap setiap pengunjung. Selepas itu bisa melanjutkan perjalanan dengan menaiki perahu “tempek” menuju Pulau Sawah. Di sana kita bisa temui peninggalan dan kekayaan zaman Hindu-Budha.

Belum lagi, kalau perjalanan wisata dilanjutkan ke daerah Padang Laweh. Wisatawan akan dimanjakan dengan pemandangan bahari Batanghari. Di sana kita akan melihat situs Padang Laweh dan rumah Gadang serta beramah tamah dengan Raja Ibadat yang bergelar Sutan Alif Bagindo Muhammad. Biar tak penasaran perjalanan harus dituntaskan hingga Pulaupunjung. Selain keindahan hulu Batanghari yang sekarang menjadi pusat bendungan irigasi Batanghari, pengunjung bisa menyusuri lokasi situs rambahan di lubuk Bulang, rumah gadang Pulaupunjung dan Sungai Kambut serta bertemu langsung dengan Raja camin taruih yakni bagindo Alimuddin Tuanku Sati. Terakhir menuju daerah Koto Besar yang sampai sekarang masih ada keturunannya.

Sumber:
Padang Ekspres, Minggu, 17 Februari 2008
http://mantagisme.com

Selengkapnya...

Taman Sriksetra

Oleh Bambang Budi Utomo

Dua tahun setelah Dapunta Hyang? membangun perkampungan di tepi sebelah utara Sungai Musi, kemudian dia membangun sebuah taman yang diperuntukan bagi rakyat Sriwijaya. Taman yang dibangun itu terletak di sebuah lokasi yang mempunyai pemandangan indah. Lahan tempat taman itu dibangun mempunyai permukaan tanah yang berbukit-bukit dan berlembah. Di dasar lembah mengalir sungai kecil yang akhirnya bermuara diSungai Musi.


Pembangunan taman yang diberi nama Taman Sriksetra disebutkan di dalam sebuah prasasti batu yang ditemukan di Dusun Talang Tuo, Kecamatan Talang Kelapa, Kotamadya Palembang, sekitar 10 km. ke arah baratlaut dari pusat kota Palembang.
Prasasti Talang Tuo ditemukan oleh L.C. Westenenk (Residen Palembang) pada tanggal 17 November 1920 (OV 1920:117). Keadaan fisiknya masih baik dengan bidang datar yang ditulisi berukuran 50 x 80 cm. Prasasti ini berangka tahun 606 Saka (23 Maret 684 Masehi), ditulis dalam aksara Pallava, berbahasa Melayu Kuno, dan terdiri dari 14 baris. Sarjana pertama yang berhasil membaca dan mentranskripsikan prasasti tersebut adalah van Ronkel dan Bosch yang dimuat dalam Acta Orientalia (van Ronkel 1924: 12). Sejak tahun 1920 prasasti tersebut kini disimpan di Museum Nasional, Jakarta dengan nomor D.145.
Adapun isi dan terjemahan prasasti tersebut adalah sebagai berikut, sebagaimana diterjemahkan oleh G. Coedes (1989:56-61).

“Pada tanggal 23 Maret 684 Masehi, pada saat itulah taman ini yang dinamakan Sriksetra dibuat di bawah pimpinan Sri Baginda Sri Jayanasa. Inilah niat baginda: Semoga yang ditanam di sini, pohon kelapa, pinang, aren, sagu, dan bermacam-macam pohon, buahnya dapat dimakan, demikian pula bambu haur, waluh, dan pattum, dan sebagainya; dan semoga juga tanaman-tanaman lainnya dengan bendungan-bendungan dan kolam-kolamnya, dan semua amal yang saya berikan, dapat digunakan untuk kebaikan semua mahluk, yang dapat pindah tempat dan yang tidak, dan bagi mereka menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan kebahagiaan. Jika mereka lapar waktu beristirahat atau dalam perjalanan, semoga mereka menemukan makanan serta air minum. Semoga semua kebun yang mereka buka menjadi berlebih (panennya). Semoga suburlah ternak bermacam jenis yang mereka pelihara, dan juga budak-budak milik mereka. Semoga mereka tidak terkena malapetaka, tidak tersiksa karena tidak bisa tidur. Apapun yang mereka perbuat, semoga semua planet dan rasi menguntungkan mereka, dan semoga mereka terhindar dari penyakit dan ketuaan selama menjalankan usaha mereka. Dan juga semoga semua hamba mereka setia pada mereka dan berbakti, lagi pula semoga teman-teman mereka tidak menghianati mereka dan semoga istri mereka bagi istri yang setia. Lebih-lebih lagi, di mana pun mereka berada, semoga di tempat itu tidak ada pencuri, atau orang yang mempergunakan kekerasan, atau pembunuh, atau penzinah. Selain itu, semoga mereka mempunyai seorang kawan sebagai penasihat baik; semoga dalam diri mereka lahir pikiran Boddhi dan persahabatan (...) dari Tiga Ratna, dan semoga mereka tidak terpisah dari Tiga Ratna itu. Dan juga semoga senantiasa (mereka bersikap) murah hati, taat pada peraturan, dan sabar; semoga dalam diri mereka terbit tenaga, kerajinan, pengetahuan akan semua kesenian berbagai jenis; semoga semangat mereka terpusatkan, mereka memiliki pengetahuan, ingatan, kecerdasan. Lagi pula semoga mereka teguh pendapatnya, bertubuh intan seperti para mahasattwa berkekuatan tiada bertara, berjaya, dan juga ingat akan kehidupan-kehidupan mereka sebelumnya, berindra lengkap, berbentuk penuh, berbahagia, bersenyum, tenang, bersuara yang menyenangkan, suara Brahma. Semoga mereka dilahirkan sebagai laki-laki, dan keberadaannya berkat mereka sendiri; semoga mereka menjadi wadah Batu Ajaib, mempunyai kekuasaan atas kelahiran-kelahiran, kekuasaan atas karma, kekuasaan atas noda, dan semoga akhirnya mereka mendapatkan Penerangan sempurna lagi agung.”

Hingga kini belum diketahui maksud pembangunan Taman Sriksetra oleh Dapunta Hyang? Ditilik dari lokasi dan apa saja yang dibangun dalam taman itu, diperkirakan pembangunan taman adalah untuk kesejahteraan semua mahluk. Pembangunan bendungan dan kolam mungkin dimaksudkan untuk penyediaan air bersih, yang dialirkan melalui Sungai Sekanak menuju kota Sriwijaya yang lokasinya ada di Palembang sekarang. Pohon-pohon yang ditanam di Taman Sriksetra dimaksudkan untuk peneduh dan penahan air hujan agar tidak terjadi bahaya erosi mengingat daerah Talang Tuo adalah daerah tinggi yang memungkinkan terjadinya erosi.

Analisis terhadap serbuk sari (pollen analysis) yang terendap dalam tanah di Situs Talang Tuo menunjukkan bahwa lahan tersebut ditumbuhi tanaman sebagaimana disebutkan dalam prasasti. Beberapa jenis tumbuhan yang disebutkan dalam prasasti masih dapat ditelusuri kembali jejaknya. Tumbuhan tersebut antara lain dari familia Palmae, Annonaseae dan Graminae. Di samping itu juga ditemukan adanya tumbuhan paku-pakuan saprofit dari familia Lycopodiaceae. Vegetasi dasar yang ada di lahan taman ini terdiri dari tumbuhan belukar dari familia Thimelaceae, tumbuhan rumputan dari familia Cyperaceae dan tumbuhan herba dari familia Plantaginaceae. Banyaknya tumbuhan familia Annonaceae dan Palmae yang ditemukan pada taman ini mencirikan tipe ekosistem hutan non Dipterocarpaceae (Arfian 1992: 84-87). Pada saat ini daerah bekas Taman Sriksetra merupakan padang alang-alang yang cukup luas karena telah terjadi perubahan ekosistem.

Sumber:
http://indoarchaeology.com

Selengkapnya...

Indonesia Raya Atau Melayu Raya

oleh Bambang Budi Utomo
Kalau Negara di Nusantara Ini Bernama Indonesia Raya Atau Melayu Raya

Keris bertuah keris pusaka,
Keris ditempa berkeluk empat.
Susur sejarah kita merdeka,
Hormat bersama janji sepakat.

Lebih dari 1324 tahun yang lalu, di belahan barat Nusantara ada sebuah kerajaan bangsa Melayu yang cukup disegani oleh kerajaan-kerajaan tetangganya, yaitu Sriwijaya. Kerajaan ini menguasai jalur-jalur perdagangan penting di Nusantara. Armadanya berlalu-lalang di wilayah perairan Asia Tenggara. Terinspirasi dengan kejayaan kerajaan tersebut, pada tahun 1930-an Abdul Hadi Hassan seorang pengajar Maktab Melayu Melaka, dalam bukunya yang berjudul Sejarah Alam Melayu mencetuskan ide terbentuknya Negara Melayu Raya atau Negara Indonesia Raya. Ide ini kemudian diteruskan oleh kelompok politikus muda Ibrahim Haji Yaacob, Pemimpin Kesatuan Muda Melayu.


Janiji Perdana Menteri Jepang Koiso, pada 7 September 1944 untuk memberi kemerdekaan kepada Indonesia, telah memberi peluang kepada Ibrahim dan kawan-kawannya untuk merdeka bersama-sama dengan Indonesia. Keinginan ini belum disetujui oleh pemerintah pendudukan Jepang. Namun pada akhirnya disetujui karena kemerdekaan Tanah Melayu bukan sebagai satu unit negara yang tersendiri, tetapi merupakan bagian dari Indonesia Raya dengan Indonesia sebagai pemimpinnya.

Indonesia Raya atau Melayu Raya menurut konsep Ibrahim dkk merupakan satu negara rumpun bangsa Melayu yang meliputi seluruh daerah Kepulauan Melayu (Nusantara) dan Asia Tenggara termasuk Filipina. Alasannya, karena ada persamaan yang jelas dalam empat aspek, yaitu daerah, darah, kebudayaan, dan bahasa. Persamaan-persamaan inilah yang menjadikan bangsa ini menjadi bangsa Melayu

Pertemuan Taiping
Mungkin banyak orang Indonesia yang tidak mengetahui bahwa pada tanggal 13 Agustus 1945 Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta singgah di Taiping (Perak, Malaysia) dalam perjalanannya kembali ke tanah air dari lawatannya ke Saigon (Vietnam). Mereka ke Taiping untuk “bertemu” dengan tokoh pemuda Melayu Ibrahim Haji Yaacob dan Dr. Burhanuddin. Pertemuan yang diatur oleh pejabat administrasi militer Jepang untuk daerah jajahannya, dihadiri oleh Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Mayor Jenderal Umezu, Dr. Burhanuddin, dan Ibrahim Haji Yaacob.

Apa yang dibicarakan dalam pertemuan itu, adalah mengenai pembentukan negara Indonesia Raya atau Melayu Raya. Ibrahim menganggap penting pertemuannya dengan Soekarno karena sesuai dengan rencana Jepang untuk memerdekakan Tanah Melayu di bawah Indonesia. Dalam pertemuan yang berlangsung selama 45 menit di bandara Taiping, Ibrahim menjelaskan bahwa Soekarno sangat gembira dengan kehendaknya. Dengan menggenggam erat tangan Ibrahim, Soekarno mau supaya mereka “membentuk sebuah negara ibu pertiwi bagi rumpun bangsa Indonesia”. Benarkah?

Puak Melayu
Melayu dalam perwujudannya mempunyai tiga konsep yang masing-masing mengacu pada bentuk yang berbeda, yakni ras sebagai suatu ciri-ciri fisik secara biologi yang membedakannya dengan ras lain dengan ciri-ciri fisik dari kelompok lain; suku- bangsa sebagai suatu jatidiri yang lebih mengacu pada ciri-ciri fisik, gaya bicara yang pada akhirnya sebagai perwujudan dalam tingkat sosial dengan dasar askriptif dan kemudian kebudayaan yang mengacu pada model-model dan cara memahami serta menginterpretasi lingkungan yang kemudian dipakai untuk mendorong terwujudnya kelakuan dan benda-benda budaya.

Ketiga konsep ini menjadi satu dalam memahami apa yang disebut sebagai orang Melayu, dan tentunya penjabaran masing-masing konsep serta keterkaitannya satu dengan lainnya akan sangat berbeda-beda keluasannya. Seperti bila bicara Melayu secara ras, maka yang terjadi akan melewati areal kesuku-bangsaan Melayu itu sendiri karena melibatkan suku-suku bangsa lainnya seperti Minangkabau, Batak, Jawa, Sunda sebagai paparan daerah ras. Sedangkan bila mengacu atau berbicara Melayu secara suku-bangsa maka yang terdeteksi adalah adanya pengelompokan-pengelompokan jatidiri Melayu ini yang didasari pada informasi yang didapat dari interaksi kelompok-kelompok tersebut dengan suku bangsa lainnya, seperti adanya suku-bangsa Melayu di Sumatera dan Kalimantan. Kesemua informasi tersebut didapat dari serentetan hubungan dengan suku-bangsa lainnya di daerah-daerah setempat. Apabila berbicara Melayu secara kebudayaan maka akan tampak perbedaan-perbedaan yang besar antara satu kelompok Melayu dengan kelompok Melayu lainnya, karena masing-masing kelompok berada dan hidup dalam lingkungan alam, sosial dan binaan yang berbeda-beda.

Kelompok Melayu yang berada di daerah Jambi, lebih banyak bersentuhan dengan kelompok Kubu, sehingga mempunyai model-model yang berbeda dengan kelompok-kelompok Melayu yang bersentuhan dengan kelompok Sakai, atau kelompok Minangkabau, dsb. Pada umumnya kelompok-kelompok Melayu ini dimana pun mereka tinggal akan selalu diidentikkan dengan Islam. Seperti Melayu sama dengan Islam di daerah Sakai, atau Islam sama dengan Melayu di daerah Kubu (Warsi), Islam sama dengan Melayu di Kalimantan Timur dst.

Bila ditelusuri persebaran orang Melayu secara suku-bangsa maka akan dapat dilihat dari model-model mitologi yang menyertainya yang dapat dijadikan acuan kesuku-bangsaan tentang penguasaan wilayah dimana kelompok tersebut menetap dan tinggal. Dari mitologi yang ada maka bisa tergambarkan kapan dan sampai dimana batas-batas kesuku-bangsaan Melayu tersebut ada dan kelompok mana yang menjadi ‘tetangga’nya. Mitos dan kosmos merupakan fokus dalam suatu kegiatan ritus yang dilakukan oleh anggota masyarakat yang melingkupi kehidupan manusia sebagai mahluk sosial, bagaimana cara manusia memahami diri mereka, keberadaannya sebagai anggota masyarakat dan di dunia sebagai satu kesatuan. Hasil pemahaman manusia terhadap alam sekitarnya dimanifestasikan kedalam kehidupan sosial dan berusaha menjelaskan dan menciptakan pembenaran keadaannya sebagai masyarakat, baik bentuk asal maupun cara kehidupannya. Hasil pemahaman tersebut biasanya dimanifestasikan dalam bentuk cerita yang diinformasikan dari orang ke orang.

Kalau ditelusuri persebaran puak Melayu dengan ras Mongoloid dari sisi rumpun bahasa di Nusantara, maka cakupannya seluruh Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Khusus untuk Irian, cakupan puak Melayu hanya ada di daerah pesisir pantai utara di bekas wilayah Kesultanan Tidore. Sementara itu di kawasan pedalaman Irian didiami oleh suku-suku bangsa dari ras Austromelanesid.

Wilayah Rumpun Bahasa Austronesia
Memang, kalau kita memandang Republik Indonesia dari sisi ras, maka Irian tidak termasuk dalam Republik Indonesia. Isu inilah yang dihembuskan Belanda untuk memecah belah. Dalam usahanya mempertahankan Irian, Belanda menyatakan bahwa suku-suku di Irian bukan suku Melayu yang menjadi asal usul orang Indonesia. Secara etnik dan budaya suku-suku di Irian berasal dari suku Melanesia. Karena itu Irian tidak bisa diserahkan kepada Republik Indonesia.

Alasan tersebut dapat dikatakan mengada-ada karena sejak 1828 Irian yang pada waktu itu bernama Nieuw Guinea sudah menjadi bagian dari Nederlansch Indiƫ dengan nama Residentie Nieuw Guinea. Apalagi sejak tahun 1927 Boven Digoel (kawasan berawa-rawa di Nieuw Guinea) dijadikan tempat pembuangan para pejuang kemerdekaan.

Angan-angan Abdul Hadi Hasan yang kemudian diteruskan oleh Ibrahim Haji Yaacob dkk kalau sampai terjadi sangat merugikan Indonesia. Di satu pihak memang wilayah Indonesia sampai ke wilayah yang sekarang menjadi Malaysia dan Filipina, tetapi boleh jadi Nusatenggara, sebagian Maluku, dan Irian Jaya tidak termasuk Indonesia. Ketiga wilayah tersebut tidak dimukimi oleh orang-orang Melayu ras Mongoloid. Padahal Irian Jaya merupakan wilayah yang kaya akan sumberdaya alam, baik tambang maupun hutan. Untunglah para pendiri bangsa Indonesia tidak merespon keinginan mereka, dan Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 beberapa hari kemudian setelah pertemuan Taiping dengan wilayahnya bekas wilayah Nederlansch Indiƫ.

Sumber:
http://indoarchaeology.com
http://www.wacananusantara.org

Selengkapnya...

Asal-usul Nama “Sumatera”

oleh Irfan Anshory

Nama asli pulau Sumatera, sebagaimana tercatat dalam sumber-sumber sejarah dan cerita-cerita rakyat, adalah “Pulau Emas”. Istilah pulau ameh kita jumpai dalam cerita Cindur Mata dari Minangkabau. Dalam cerita rakyat Lampung tercantum nama tanoh mas untuk menyebut pulau mereka yang besar itu. Pendeta I-tsing (634-713) dari Cina, yang bertahun-tahun menetap di Sriwijaya (Palembang sekarang) pada abad ke-7, menyebut pulau Sumatera dengan nama chin-chou yang berarti “negeri emas”.

Dalam berbagai prasasti, pulau Sumatera disebut dengan nama Sansekerta: Suwarnadwipa (“pulau emas”) atau Suwarnabhumi (“tanah emas”). Nama-nama ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi. Naskah Buddha yang termasuk paling tua, Kitab Jataka, menceritakan pelaut-pelaut India menyeberangi Teluk Benggala ke Suwarnabhumi. Dalam cerita Ramayana dikisahkan pencarian Dewi Sinta, istri Rama yang diculik Ravana, sampai ke Suwarnadwipa.


Para musafir Arab menyebut pulau Sumatera dengan nama Serendib (tepatnya: Suwarandib), transliterasi dari nama Suwarnadwipa. Abu Raihan Al-Biruni, ahli geografi Persia yang mengunjungi Sriwijaya tahun 1030, mengatakan bahwa negeri Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib. Cuma entah kenapa, ada juga orang yang mengidentifikasi Serendib dengan Srilanka, yang tidak pernah disebut Suwarnadwipa!

Di kalangan bangsa Yunani purba, Pulau Sumatera sudah dikenal dengan nama Taprobana. Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Klaudios Ptolemaios, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah Asia Tenggara dalam karyanya Geographike Hyphegesis. Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri Barousai. Mungkin sekali negeri yang dimaksudkan adalah Barus di pantai barat Sumatera, yang terkenal sejak zaman purba sebagai penghasil kapur barus.

Naskah Yunani tahun 70, Periplous tes Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse nesos, yang artinya ‘pulau emas’. Sejak zaman purba para pedagang dari daerah sekitar Laut Tengah sudah mendatangi tanah air kita, terutama Sumatera. Di samping mencari emas, mereka mencari kemenyan (Styrax sumatrana) dan kapur barus (Dryobalanops aromatica) yang saat itu hanya ada di Sumatera. Sebaliknya, para pedagang Nusantara pun sudah menjajakan komoditi mereka sampai ke Asia Barat dan Afrika Timur, sebagaimana tercantum pada naskah Historia Naturalis karya Plini abad pertama Masehi.

Dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. raja Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan beliau. Emas itu didapatkan dari negeri Ophir. Kitab Al-Qur’an, Surat Al-Anbiya’ 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman a.s. berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya” (al-ardha l-lati barak-Na fiha).

Di manakah gerangan letak negeri Ophir yang diberkati Allah itu? Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu terletak di Sumatera! Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh. Ptolemaios pun menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan anggapan bahwa di sanalah letak negeri Ophir-nya Nabi Sulaiman a.s.

Lalu dari manakah gerangan nama “Sumatera” yang kini umum digunakan baik secara nasional maupun oleh dunia internasional? Ternyata nama Sumatera berasal dari nama Samudera, kerajaan di Aceh pada abad ke-13 dan ke-14. Para musafir Eropa sejak abad ke-15 menggunakan nama kerajaan itu untuk menyebut seluruh pulau. Sama halnya dengan pulau Kalimantan yang pernah disebut Borneo, dari nama Brunai, daerah bagian utara pulau itu yang mula-mula didatangi orang Eropa. Demikian pula pulau Lombok tadinya bernama Selaparang, sedangkan Lombok adalah nama daerah di pantai timur pulau Selaparang yang mula-mula disinggahi pelaut Portugis. Memang orang Eropa seenaknya saja mengubah-ubah nama tempat. Hampir saja negara kita bernama “Hindia Timur” (East Indies), tetapi untunglah ada George Samuel Windsor Earl dan James Richardson Logan yang menciptakan istilah Indonesia, sehingga kita-kita ini tidak menjadi orang “Indian”! (Lihat artikel penulis, “Asal-Usul Nama Indonesia”, Harian Pikiran Rakyat, Bandung, tanggal 16 Agustus 2004, yang telah dijadikan salah satu referensi dalam Wikipedia artikel “Indonesia”).

Peralihan Samudera (nama kerajaan) menjadi Sumatera (nama pulau) menarik untuk ditelusuri. Odorico da Pardenone dalam kisah pelayarannya tahun 1318 menyebutkan bahwa dia berlayar ke timur dari Koromandel, India, selama 20 hari, lalu sampai di kerajaan Sumoltra. Ibnu Bathutah bercerita dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) bahwa pada tahun 1345 dia singgah di kerajaan Samatrah. Pada abad berikutnya, nama negeri atau kerajaan di Aceh itu diambil alih oleh musafir-musafir lain untuk menyebutkan seluruh pulau.

Pada tahun 1490 Ibnu Majid membuat peta daerah sekitar Samudera Hindia dan di sana tertulis pulau Samatrah. Peta Ibnu Majid ini disalin oleh Roteiro tahun 1498 dan muncullah nama Camatarra. Peta buatan Amerigo Vespucci tahun 1501 mencantumkan nama Samatara, sedangkan peta Masser tahun 1506 memunculkan nama Samatra. Ruy d’Araujo tahun 1510 menyebut pulau itu Camatra, dan Alfonso Albuquerque tahun 1512 menuliskannya Camatora. Antonio Pigafetta tahun 1521 memakai nama yang agak ‘benar’: Somatra. Tetapi sangat banyak catatan musafir lain yang lebih ‘kacau’ menuliskannya: Samoterra, Samotra, Sumotra, bahkan Zamatra dan Zamatora.

Catatan-catatan orang Belanda dan Inggris, sejak Jan Huygen van Linschoten dan Sir Francis Drake abad ke-16, selalu konsisten dalam penulisan Sumatra. Bentuk inilah yang menjadi baku, dan kemudian disesuaikan dengan lidah kita: Sumatera.***

Sumber utama:
Nicholaas Johannes Krom, “De Naam Sumatra”, Bijdragen tot de Taal-, Land-, en Volkenkunde, deel 100, 1941.
William Marsden, The History of Sumatra, Oxford University Press, Kuala Lumpur, cetak ulang 1975.

Sumber:
http://www.wacananusantara.org
Selengkapnya...

Nusantara, Pusat Peradaban Dunia

oleh I Nyoman Winata

Nenek moyang bangsa Nusantara, khususnya Pulau Jawa adalah pencipta kebudayaan dunia. Leluhur bangsa Nusantara (Indonesia) merupakan manusia-mansuia tangguh dan cerdas, pencipta peradaban dunia. Bahkan jauh sebelum tahun masehi, kerajaan nusantara adalah penguasa duapertiga wilayah bumi. India dulu hanyalah salah satu kadipatendari kerajaan yang berpusat di pulau Jawa. Sumber dari peradaban dunia bisa dikatakan semuanya bermula dari Nusantara.

Semuanya memberikan kita gambaran bahwa nenek moyang bangsa Indonesia bukan orang-orang terbelakang. Kalau kemudian sejarah dunia saat ini tidak memposisikan peradaban nusantara sebagai sumber dari peradaban dunia, maka itu tidak lebih bagian dari kerja-kerja ilmuwan dari belahan dunia barat yang ingin mengingkari realitas.


Saya terkejut mendengar penjelasan ini dari seorang teman baru ketika saya usai mengikuti sebuah acara beberapa waktu lalu di Semarang. Teman ini orang Semarang, tetapi kini merasa lebih enjoy bermukim di Jogja. Raut wajahnya nampak serius menceritakan semuanya kepada saya yang menunjukkan ia sungguh-sungguh.

Bahkan teman saya ini punya komunitas yang sedang berusaha mengungkap kebesaran peradaban Nusantara. Jejak arkeologi sedang terus digali untuk memberi gambaran tentang kemahaagungan nenek moyang kita. “Tunggu saja, kami akan buktikan nanti. Tetapi ini bukan pekerjaan mudah untuk membuat dunia percaya karena sudah lama dicekoki sejarah yang dibuat ilmuan barat,” katanya yakin.

Banyak yang teman baru saya ini diceritakan kepada saya. Misalnya tentang cerita Mahabrata adalah cerita nyata yang sesungguhnya terjadi di Nusantara. Kerajaan Astina itu adalah kerajaan di Nusantara. Ini berarti tokoh-tokohnya yakni para Pandawa dan Kurawa bukanlah orang Hindustan di Tanah India, melainkan orang-orang Jawa!!

Keterlibatan kerajaan-kerajaan lainnya dalam perang Berathayudha adalah kerajaan-kerajaan kecil yang berada dibelahan dunia lainnya. Ini menegaskan bagaimana Kerajaan Nusantara adalah sebuah wilayah dengan kekuatan dan kekuasaan politik yang sangat besar karena bisa menyeret kerajaan lainnya untuk berperang.

Kehebatan nenek moyang kita juga ditunjukkan dengan keberadaan Candi Borobudur. Candi ini, kata teman ini, sudah ada jauh sebelum tahun masehi dikenal. Jadi anggapan ilmuwan yang menyatakan bahwa candi ini dibangun pada abad ke-8 masehi tidaklah benar.

Patung di dalam candi borobudur juga bukan Patung Budha melainkan patung Raja Saylendra yang kebetulan mencapai tahap perjalanan Bathin mirip dengan yang dialami Sidhartha Gautama. Diceritakan bahwa Raja Saylendra membuat Candi Borobudur setelah mencapai perjalanan sampai nirwana. Salah satu yang diingat Saylendra adalah suara musik di alam nirwana yang begitu melekat dipikirannya. Lalu Saylendra berusaha menemukan/mencipatakan alat yang bisa mengeluarkan suara seperti yang diingatnya. Dari pencarian ini dicipatakanlah gambelan yang dijawa dikenal dengan gambelan laras selendro.

Jadi nenek moyang bangsa Indonesia adalah mereka-mereka yang menjadi pencetus peradaban dunia. Nusantara adalah pusat dari peradaban dan asal muasal dari semua peradaban di planet bumi ini. Benar atau tidak, percaya atau tidak, kembali kepada diri kita. Anggaplah semua cerita kawan ini benar, maka sangat pantas bagi kita untuk bangga kemudian menguatkan rasa percaya diri kita bahwa kita adalah manusia-manusia unggul. Kalau kemudian kita menjadi terpuruk seperti saat ini, maka itu semua karena ulah kita yang melupakan asal-usul kita. Siapa sesungguhnya kita dan darimana kita berasal.

Sumber:
http://www.balebengong.net

Selengkapnya...